Search

Ketua Gema Kukar Desak Perusahaan Maksimalkan CSR untuk Program Pembangunan dan Pemberdayaan Pemuda

Ketua Generasi Muda Kutai Kartanegara, Ihwan. (Berita Alternatif/Ulwan Murtadho)

BERITAALTERNATIF.COM – Ketua Generasi Muda (Gema) Kutai Kartanegara (Kukar) Ihwan mendesak para pengusaha untuk memaksimalkan Corporate Social Responsibility (CSR) untuk menjalankan program-program pemberdayaan dan peningkatan SDM, khususnya bagi para pemuda.

Dia menyebut peran perusahaan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat belum memuaskan bagi publik Kukar.

Program pemberdayaan dari CSR yang dialokasikan untuk masyarakat dinilainya tidak sebanding dengan sumber daya alam yang dikeruk di Bumi Etam oleh perusahaan-perusahaan tersebut.

Kata Ihwan, terdapat puluhan bahkan ratusan perusahaan yang beroperasi di wilayah Kukar, yang bergerak di bidang batu bara, migas, sawit, karet, hingga industri kayu.

“Kalau semuanya keluarkan CSR-nya atau program pemberdayaannya, apakah tidak meningkat kualitas dan kapasitas para pemudanya? Pendapatan ekonominya, apakah tidak terbuka lapangan pekerjaan di situ?” jelasnya dalam program Etam Bekesah yang tayang di kanal YouTube Alternatif Talks pada Minggu (11/5/2025).

Menurut dia, persoalan yang dihadapi oleh pemuda dan mahasiswa Kukar saat ini tak sederhana.

Ia menilai problem ini tidak hanya dirasakan oleh kalangan muda sebagai pihak yang terdampak langsung, tetapi juga pemerintah.

Jika persoalan ini mudah, jelas Ihwan, seharusnya sudah dapat diselesaikan sejak lama. Permasalahan ini bersifat kompleks serta memerlukan perhatian dan solusi dari semua pihak.

Salah satu masalah utama yang menurut Ihwan harus diperhatikan secara serius adalah pendidikan.

Dia menekankan pentingnya pendidikan yang merata hingga pelosok-pelosok desa. Anak-anak tak hanya mengenyam pendidikan sampai SMP dan SMA. Mereka juga harus mampu melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.

Namun, ia menekankan, hal ini tidak bisa diwujudkan dengan imbauan semata. Pemerintah harus hadir secara aktif dalam mengawal proses pendidikan.

Ihwan menyampaikan bahwa pemerintah seyogianya menanyakan secara langsung kendala yang dihadapi oleh masyarakat, terutama generasi muda, saat melanjutkan pendidikan.

Apabila persoalan ekonomi, saran dia, maka pemerintah mesti menyalurkan beasiswa dan membuka akses pendidikan tanpa syarat yang rumit, terutama bagi masyarakat desa yang memiliki keterbatasan.

“Pemerintah harus hadir di situ. Jangan sekadar suruh saja: ‘Kau harus melanjutkan pendidikanmu.’ Tapi salurkan beasiswanya. Berikan aksesnya,” imbuhnya.

Selain kesadaran belajar dan dukungan regulasi pemerintah, Ihwan menekankan pentingnya keterlibatan pihak swasta, terutama perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di Kukar.

Ia menyebut daerah ini memiliki kekayaan sumber daya alam dan menjadi lokasi pengoperasian ratusan perusahaan besar: tambang batu bara, migas, hingga perkebunan sawit dan industri kayu.

Jika perusahaan-perusahaan ini sungguh-sungguh melibatkan diri dalam pembangunan daerah melalui tanggung jawab sosial dan pemberdayaan masyarakat, sambung Ihwan, maka beban pemerintah akan jauh lebih ringan.

Dia menganggap kontribusi CSR dari perusahaan-perusahaan tersebut masih belum maksimal.

Meskipun jumlah perusahaan sangat banyak, lanjutnya, namun realisasi program pemberdayaan melalui CSR masih sangat minim serta belum memiliki dampak signifikan bagi masyarakat.

Bila setiap perusahaan di satu desa atau kecamatan secara serius mengeluarkan dan mengelola dana CSR, kata Ihwan, maka kualitas pemuda dan peningkatan ekonomi masyarakat akan jauh lebih baik.

Bahkan, hal itu akan membuka lebih banyak lapangan pekerjaan dan pemberdayaan potensi lokal.

Ihwan menyayangkan kebanyakan perusahaan hanya menjalankan program CSR mereka sebagai ritual tahunan untuk menggugurkan kewajiban serta memenuhi syarat administratif belaka.

“Seandainya sesuai dengan aturan, berapa persen keuntungan, sekian persen yang harus dikeluarkan untuk CSR,” sambungnya.

Padahal, jelas dia, sejumlah perusahaan memiliki keuntungan mencapai ratusan hingga triliunan rupiah. Namun porsi CSR untuk masyarakat hanya ratusan juta.

Ia berharap seluruh perusahaan di Kukar benar-benar mengikuti aturan dan mengalokasikan keuntungan mereka sesuai aturan untuk program-program pemberdayaan masyarakat.

Perusahaan-perusahaan di Kukar diharapkannya turut memperhatikan kesejahteraan masyarakat, terutama para pemuda dan UMKM.

“Kita tidak bisa membayangkan betapa sejahteranya Kutai Kartanegara ini, Bang. Betapa mulusnya jalannya, betapa indahnya penataan kota dan lain sebagainya, kalau betul-betul antara pemerintah dengan pihak swasta ini saling bekerja sama,” pungkas Ihwan. (*)

Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA