Search

Jejak Kelam dan Lingkungan Sosial Kotor Donald Trump

Penulis. (Berita Alternatif/Riyan)

Oleh: Dr. Muhsin Labib*

Donald Trump tidak lahir dari ruang hampa moral. Ia tumbuh di lingkungan kekuasaan uang, dominasi, dan impunitas sosial. Dunia yang membesarkannya adalah dunia di mana relasi dibangun bukan atas empati, melainkan atas kesamaan selera, kuasa, dan rasa kebal dari konsekuensi. Dari sini, catatan gelap itu mulai terbaca bukan sebagai insiden terpisah, melainkan sebagai pola.

Hubungannya dengan Jeffrey Epstein tidak bisa direduksi sekadar “kenal secara sosial”. Epstein bukan sekadar miliarder eksentrik. Ia adalah predator seksual anak yang beroperasi lama, sistematis, dan brutal, dilindungi oleh jejaring elite. Trump bukan orang awam yang kebetulan bertemu Epstein di satu pesta. Mereka berada di orbit sosial yang sama, menghadiri acara yang sama, berbagi ruang dan waktu yang sama, dan—yang paling penting—berbagi gaya hidup yang sama: perempuan sebagai komoditas, tubuh sebagai hiburan, kuasa sebagai alat.

Tidak ada putusan pengadilan yang menyatakan Trump ikut memperkosa anak-anak bersama Epstein. Itu benar. Namun absennya vonis pidana tidak pernah identik dengan absennya masalah moral. Di sinilah diagnosologika menjadi relevan: watak seseorang dapat dibaca dari siapa yang ia pilih sebagai kawan, dari apa yang ia anggap lucu, dari bagaimana ia berbicara tentang tubuh perempuan, dan dari sejauh mana ia merasa berhak atas tubuh orang lain.

Trump sendiri, dalam berbagai pernyataan publik lama, tidak pernah menyembunyikan cara pandangnya. Ia membanggakan kemampuannya “memasuki ruang ganti perempuan”, meremehkan persetujuan, dan menormalkan agresi seksual sebagai hak lelaki berkuasa. Pernyataan-pernyataan itu bukan slip lidah. Itu pengakuan karakter.

Catatan ini menjadi semakin gelap ketika pengadilan Amerika Serikat pada 2023 menyatakan Trump bertanggung jawab atas kekerasan seksual terhadap E. Jean Carroll, serta pencemaran nama baik setelahnya. Putusan itu bukan gosip media sosial, bukan rumor politik, melainkan keputusan hukum. Pengadilan menegaskan bahwa tubuh perempuan, bagi Trump, adalah sesuatu yang bisa dilanggar lalu dibantah, diserang ulang, dan diejek dari mimbar kekuasaan.

Di titik ini, hubungan Trump dengan Epstein tidak lagi netral secara moral. Ia menjadi cermin. Dua orang dengan selera yang beririsan, etika yang longgar, dan keyakinan bahwa kekayaan dan status adalah lisensi untuk melampaui batas. Meski jalur kriminal mereka tidak dibuktikan saling bersilangan, spektrum perilaku mereka berdekatan: objektifikasi ekstrem, narsisme, dan ketidakmampuan melihat manusia lain sebagai subjek bermartabat.

Tambahkan ke dalamnya relasi Trump dengan figur-figur supremasi kulit putih, keraguan berulang untuk menolak mereka secara tegas, serta retorika yang memelihara kebencian dan dehumanisasi. Semua itu memperlihatkan satu benang merah: ketertarikan pada kuasa tanpa batas, pada dominasi tanpa tanggung jawab, pada kekuatan yang dilepaskan dari etika.

Catatan gelap ini bukan tuduhan bahwa Trump adalah pedofil. Itu klaim yang tidak pernah diputuskan pengadilan. Namun catatan ini juga bukan pembelaan. Ia adalah inventarisasi pola: pergaulan, ucapan, putusan hukum, dan kecenderungan yang, jika dirangkai, memperlihatkan sosok yang secara moral selaras dengan dunia yang memungkinkan kejahatan seperti Epstein terjadi dan berlangsung lama.

Donald Trump tidak harus terbukti melakukan semua kebejatan untuk tetap disebut berbahaya. Cukup dengan satu hal: ia adalah figur yang membuat kebejatan merasa aman, nyaman, dan dilindungi. Dan dalam politik, itu sering kali lebih merusak daripada kejahatan yang dilakukan sendirian. (*Cendekiawan Muslim)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA