BERITAALTERNATIF.COM – Apa yang disebut sebagai Perjanjian Abraham bukanlah jalan menuju perdamaian, melainkan sebuah pengkhianatan yang diperhitungkan. Kesepakatan ini dipaksakan kepada negara-negara Muslim sebagai prasyarat bagi setiap bentuk kesepakatan dengan Iran; sebuah proyek yang dipimpin Donald Trump dalam kesetiaannya tanpa syarat kepada Benjamin Netanyahu.
Ini bukan diplomasi yang netral; melainkan bentuk penyerahan diri yang memenuhi seluruh tuntutan Israel, sambil mengabaikan darah warga tak bersalah di Gaza.
Iran, dengan tetap berdiri menghadapi kekuatan Amerika dan berhasil melampauinya, kini tampil lebih tangguh dari sebelumnya dan menjadi simbol perlawanan. Setiap pemimpin Muslim yang bergabung dengan kesepakatan ini sebelum tercapainya solusi yang adil bagi Palestina, pada hakikatnya menyerahkan segalanya kepada Israel. Berikut enam kenyataan pahit yang berakar pada sejarah dan geopolitik.
Pertama, darah rakyat Palestina tidak boleh diinjak-injak; kejahatan Israel harus diadili. Operasi militer Israel di Gaza telah merenggut puluhan ribu nyawa warga Palestina—mulai dari perempuan, anak-anak hingga lansia—akibat pemboman tanpa henti. Ini bukan sekadar “kerusakan sampingan”, melainkan kelanjutan pola sejarah kekerasan.
Cukuplah mengingat pembantaian Deir Yassin pada tahun 1948, ketika kelompok Zionis bersenjata membantai keluarga-keluarga Palestina di rumah mereka dan memaksa rakyat Palestina mengalami pengungsian besar-besaran yang dikenal sebagai Nakba. Pada tahun 1982, invasi Israel ke Lebanon juga membuka jalan bagi pembantaian Sabra dan Shatila, ketika pasukan Falangis sekutu Israel membantai hingga 3.500 pengungsi Palestina di bawah pengawasan Israel.
Bergabung dengan Perjanjian Abraham dalam kondisi saat ini—tanpa solusi menyeluruh yang mencakup kembalinya para pengungsi, berakhirnya pendudukan, dan penetapan Yerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina—berarti menormalisasi kejahatan-kejahatan tersebut.
Dalam kondisi seperti itu, Israel memperoleh legitimasi, perdagangan, dan kesepakatan keamanan, sementara blokade tetap berlangsung. Tidak ada negara Muslim yang memperoleh kehormatan ataupun keamanan dengan berjabat tangan di atas kuburan-kuburan yang masih baru.
Trump dan Netanyahu menjadikan normalisasi ini sebagai harga “perdamaian” dengan Iran, sehingga isu Palestina praktis disingkirkan. Inilah situasi di mana Israel menikmati seluruh keuntungan tanpa harus membayar harga apa pun dan tetap melanjutkan ekspansionismenya.
Kedua, tidak ada keuntungan nyata bagi negara-negara Muslim; yang ada hanya isolasi strategis. Pendukung kesepakatan ini berbicara tentang kemajuan ekonomi di Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan Sudan; tentang perdagangan miliaran dolar dengan Israel, pertumbuhan pariwisata, dan kerja sama teknologi. Namun apa sebenarnya yang diperoleh negara-negara Muslim penandatangan?
UEA memperoleh jalur penerbangan dan investasi, tetapi menghadapi reaksi negatif di dalam negeri dan isolasi di kawasan. Maroko mendapatkan pengakuan Amerika atas Sahara Barat melalui kesepakatan kontroversial. Sudan memasuki proses ini dengan harapan pengurangan utang, namun akhirnya justru tenggelam dalam perang saudara.
“Pencapaian” ini sangat kecil dibanding hilangnya solidaritas umat Islam dan menguatnya kekuatan pendudukan.
Bagi dunia Islam—khususnya negara-negara yang kini berada di bawah tekanan seperti Arab Saudi, Pakistan, Turki, Mesir, Yordania, dan Qatar—biayanya bahkan lebih besar: menjauh dari opini publik yang marah terhadap tragedi Gaza, meningkatnya risiko gejolak domestik, dan melemahnya posisi tawar dalam isu Palestina.
Sebaliknya, Iran membangun “ekonomi perlawanan” yang mampu bertahan menghadapi puluhan tahun sanksi Amerika, sambil terus mengembangkan kemampuan pertahanan, pengetahuan nuklir, dan pengaruh regionalnya.
Amerika berusaha menghancurkan Iran namun gagal; sanksinya diakali melalui inisiatif dan aliansi baru, sementara sekutu-sekutunya di kawasan melemah. Iran tidak bertekuk lutut; justru berdiri tegar dan memaksa Washington bernegosiasi bukan dari posisi kekuatan, melainkan dari posisi kelelahan.
Ketiga, obsesi Trump terhadap Netanyahu; normalisasi dijadikan alat melawan Iran. Trump secara terbuka mengatakan bahwa negara-negara Muslim harus bergabung dengan Perjanjian Abraham; hal yang disebutnya sebagai syarat untuk berbagai kesepakatan dengan Iran, mulai dari pembukaan jalur pelayaran, penjualan minyak hingga gencatan senjata.
Masalah ini juga bersifat personal; “ketertarikan” Trump kepada Netanyahu—yang tampak jelas selama masa jabatan pertamanya—kini membuat isu-isu yang tidak berkaitan dipaksa saling terhubung.
Iran, yang ditempa oleh sanksi Amerika dan serangan Israel, telah menantang hegemoni Amerika di kawasan.
Ketahanan Iran—mulai dari kekuatan misil, aliansi regional, hingga kemandirian nasional—menunjukkan keterbatasan Amerika setelah bertahun-tahun gagal mewujudkan mimpi perubahan rezim di Iran.
Trump menginginkan kemenangan cepat, karena itu ia menekan negara-negara Muslim agar mengakui Israel demi semakin mengisolasi Teheran. Ini adalah pemaksaan, bukan diplomasi.
Negara-negara Muslim tidak memperoleh keuntungan strategis apa pun; mereka justru kehilangan kredibilitas moral dan alat tekan terkait Palestina. Sebaliknya, Israel mendapatkan hubungan yang dinormalisasi, kerja sama intelijen, dan front bersama melawan musuh-musuhnya tanpa harus mundur sedikit pun dari pendudukan.
Keempat, rancangan berbahaya: infiltrasi Mossad melalui kedutaan dan “kerja sama”. Perjanjian Abraham membuka jalan bagi pembukaan kedutaan Israel di negara-negara Muslim.
Sejarah memperingatkan agar berhati-hati; Mossad memiliki reputasi global dalam operasi spionase. Dari perekrutan agen di ibu kota asing hingga operasi terselubung berkedok diplomatik, badan intelijen Israel berkali-kali melakukan infiltrasi di berbagai negara.
Kedutaan memberikan kekebalan hukum, tempat aman bagi agen, dan sarana pengawasan—terhadap ekonomi, politik, oposisi, dan para pesaing—di bawah kedok perdagangan dan pariwisata.
Bayangkan jika stasiun-stasiun Mossad berdiri di Riyadh atau Islamabad dan mengumpulkan data ekonomi, militer, serta sosial masyarakat. “Investasi bersama” dapat berubah menjadi alat pencurian teknologi, operasi infiltrasi, dan destabilisasi.
Ini bukan teori konspirasi, melainkan pola berulang dari operasi-operasi Israel sebelumnya.
Negara-negara Muslim, melalui langkah ini, justru mengundang serigala masuk ke rumah mereka sendiri dan melemahkan kedaulatan nasional demi keuntungan ekonomi semu, sementara Israel memperluas pengaruhnya ke jaringan perdagangan, keuangan, dan keamanan mereka.
Iran menghindari jebakan seperti ini dan mempertahankan independensinya.
Kelima, pengkhianatan terhadap umat Islam; mengulang pola sejarah dan hilangnya posisi tawar. Dari Deklarasi Balfour hingga pembagian kolonial kawasan, dan veto-veto Amerika untuk melindungi Israel, sejarah menunjukkan bahwa memberikan konsesi tanpa keadilan hanya membuat agresor semakin berani.
Negara-negara penandatangan Perjanjian Abraham pun tidak melihat kemajuan apa pun dalam isu Palestina setelah normalisasi; pembangunan permukiman ilegal terus berlangsung dan Gaza tetap menderita.
Normalisasi sebelum penyelesaian isu Palestina mengirim pesan kepada Netanyahu: “Lanjutkan saja; umat Islam sudah terpecah.”
Trump memanfaatkan kekuatan Iran—yakni perlawanan yang mengungkap keserakahan Amerika—sebagai alat untuk memaksakan pengkhianatan ini.
Keagungan Iran terlihat di sini: bertahan menghadapi sanksi, mengembangkan kemampuan domestik, mendukung sekutu regional, dan memaksa Amerika bernegosiasi sesuai syaratnya sendiri.
Amerika yang dulu tak tertandingi kini terpaksa berkompromi setelah petualangan mahalnya. Negara-negara yang bergabung dengan Perjanjian Abraham pada hakikatnya memberi hadiah kepada agresor dan menghukum pihak yang melawan.
Keenam, penolakan permanen terhadap hak-hak Palestina; Israel mendapatkan segalanya tanpa memberi konsesi. Inilah jebakan utamanya: kesepakatan tanpa pembentukan negara Palestina pada dasarnya berarti dunia Islam menerima status quo—tanpa hak kembali bagi pengungsi, tanpa berakhirnya blokade, dan tanpa kedaulatan Palestina yang merdeka.
Israel memperoleh pasar baru, sekutu melawan Iran, kehadiran yang dinormalisasi di kawasan, dan basis intelijen Mossad. Sebaliknya, negara-negara Muslim hanya mendapatkan beberapa foto propaganda dan kesepakatan jangka pendek, tetapi kehilangan persatuan, kredibilitas, dan kemampuan menekan demi keadilan.
Setelah negara-negara Muslim bergabung, mengapa Israel harus bergerak menyelesaikan masalah Palestina? Israel justru memperoleh apa yang diinginkannya: legitimasi tanpa biaya.
Poros Trump–Netanyahu memahami hal ini dengan sangat baik; itulah sebabnya perundingan dengan Iran dikaitkan dengan perluasan Perjanjian Abraham.
Iran, yang berhasil bertahan dari sanksi dan perang, kini menjadi simbol bahwa perlawanan membawa kehormatan. Amerika mundur; dan ketundukan negara-negara Muslim akan menjadi kekalahan yang mereka timpakan kepada diri sendiri.
Wahai kaum Muslimin, khususnya para pemimpin Pakistan dan negara-negara lain: jangan terima “cawan racun” ini. Tuntutlah keadilan bagi Palestina terlebih dahulu; kebebasan penuh, bukan sekadar konsesi kecil. Hormatilah para syuhada Gaza, Deir Yassin, Sabra, dan Shatila.
Iran telah menunjukkan bahwa jalan menjaga kedaulatan adalah kekuatan dan perlawanan, bukan penyerahan diri.
Martabat umat Islam, masa depan Palestina, dan keseimbangan kekuatan di kawasan semuanya sedang dipertaruhkan. Jangan biarkan Trump dan Netanyahu berpesta sementara saudara-saudara kita bergelimang darah dan kelaparan.
Sejarah akan menghakimi para pendukung kompromi dengan keras. Tetaplah teguh; perdamaian sejati lahir dari keadilan, bukan dari jabat tangan di atas kuburan. (*)
Penulis: Mir Muhammad Ali Khan
Sumber: Mehr News












