Search

Jatuhnya Kota Strategis “Siversk”; Apakah Titik Balik Perang Ukraina Telah Tiba?

Setelah 46 bulan perang yang melelahkan, pasukan Rusia berhasil merebut kota strategis Siversk di Ukraina timur; sebuah perkembangan penting yang terjadi bersamaan dengan kesiapan Kyiv untuk menarik diri dari Donbas, dan berpotensi mengubah arah perundingan damai. (Mehr News).

BERITAALTERNATIF – Pada hari-hari terakhir tahun kalender ini, tepatnya 23 Desember, kota Siversk di wilayah Donetsk, Ukraina, jatuh ke tangan pasukan Rusia. Peristiwa ini bukan sekadar menandai perubahan situasi di medan perang, tetapi juga bertepatan dengan usulan kontroversial Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy terkait penarikan diri bersyarat dari Donbas. Semua ini terjadi ketika pemerintahan Trump berupaya mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat tahun, yakni sekitar tiga tahun sepuluh bulan, melalui sebuah rencana perdamaian berisi 28 poin.

Siversk, yang sebelum perang dihuni sekitar 11 ribu penduduk, mungkin tampak sebagai kota kecil. Namun nilai strategisnya dalam sistem pertahanan utara Donbas—yang mencakup Kramatorsk, Sloviansk, dan Lyman—jauh melampaui ukurannya. Jatuhnya kota ini, setelah Bakhmut pada Mei 2023 dan Avdiivka pada Februari 2024, menjadi kemenangan besar ketiga Rusia dalam dua tahun terakhir, sekaligus membuka jalan menuju jantung industri Donbas.

Arti Penting Militer–Strategis Siversk; Mengapa Kota Ini Menjadi Kunci Perubahan Medan Perang?

Siversk terletak sekitar 30 kilometer di sebelah timur kota-kota penting Kramatorsk dan Sloviansk, dua benteng terakhir utama Ukraina di utara Donetsk. Kota ini pada dasarnya berfungsi sebagai garis pertahanan depan bagi pusat-pusat vital tersebut. Dengan jatuhnya Siversk, jalur langsung bagi pasukan Rusia untuk bergerak maju ke arah kedua kota itu kini terbuka.

Menurut laporan militer Ukraina, pada hari-hari terakhir pertempuran, Rusia memanfaatkan kondisi cuaca buruk seperti kabut tebal dan hujan salju untuk menyusupkan kelompok-kelompok kecil infanteri ke dalam kota. Seorang komandan batalion Ukraina di sektor Siversk melaporkan bahwa serangan Rusia menggunakan bom berpemandu meluncur meningkat tajam, dari sekitar 14 hingga 16 serangan per pekan menjadi lebih dari 30 serangan per pekan.

Taktik baru ini—menggabungkan serangan udara intensif dengan infiltrasi kelompok infanteri kecil—berbeda secara mendasar dengan pertempuran di Bakhmut yang dikenal dengan istilah “serangan gelombang manusia”. Serangan gelombang manusia (Human Wave Attacks) merujuk pada taktik militer di mana pasukan infanteri dikerahkan secara berulang, dalam jumlah besar, dan sering kali dengan jeda waktu yang singkat, tanpa perlindungan lapis baja atau dukungan kompleks yang memadai.

Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina pada 23 Desember mengumumkan bahwa pasukan Ukraina mundur dari kota tersebut demi “menyelamatkan nyawa prajurit dan menjaga kemampuan tempur unit-unit militer”. Keputusan ini diambil dalam kondisi ketika Rusia memiliki “keunggulan signifikan dalam jumlah personel dan perlengkapan” serta terus menekan melalui serangan kelompok-kelompok kecil.

Dengan jatuhnya Siversk, Rusia kini berada dalam posisi untuk bergerak menuju Sloviansk, sebuah simpul penting jalan raya, rel kereta api, dan pusat logistik utama bagi pasukan Ukraina. Kelompok Pasukan “Selatan” Rusia yang merebut Siversk kemungkinan akan berkoordinasi dengan Kelompok Pasukan “Barat” yang aktif di sekitar Lyman, guna mengancam Sloviansk dari dua arah sekaligus.

Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa jatuhnya kota-kota kunci di Donbas memiliki efek berantai. Setelah jatuhnya Bakhmut pada Mei 2023, Rusia tidak segera melanjutkan ofensif besar dan membutuhkan lebih dari sembilan bulan sebelum melancarkan serangan berikutnya ke Avdiivka. Jatuhnya Avdiivka pada Februari 2024 menjadi kemajuan teritorial terbesar Rusia sejak Bakhmut dan membuka jalan menuju serangan ke arah Pokrovsk. Kini, dengan jatuhnya Siversk, pola tersebut kembali terulang, namun dengan tempo yang lebih cepat.

Dari Medan Perang ke Meja Perundingan; Dampak Kemajuan Rusia terhadap Sikap Mundur Kyiv

Kebetulan waktu antara jatuhnya Siversk dan pernyataan Zelenskyy tentang kesiapan menarik diri secara bersyarat dari Donbas bukanlah hal acak. Ini menunjukkan bagaimana realitas di medan perang mampu membentuk posisi politik.

Pada akhir Desember, Zelenskyy untuk pertama kalinya secara terbuka menyatakan bahwa militer Ukraina siap mundur dari wilayah Donbas dengan syarat tertentu. Ia memaparkan rencana perdamaian baru yang disepakati antara perwakilan Amerika Serikat dan Ukraina di Florida kepada para jurnalis. Rencana ini menunjukkan bahwa Kyiv bersedia menarik pasukannya dari Ukraina timur untuk membentuk zona demiliterisasi, asalkan Rusia juga melakukan langkah serupa.

Ini merupakan kali pertama Zelenskyy secara terbuka mengakui kemungkinan penarikan pasukan dari wilayah timur, sebuah isu yang sebelumnya dianggap sebagai garis merah oleh Kyiv. Dalam sebuah wawancara, ia mengatakan, “Entah perang berlanjut, atau wilayah-wilayah yang disengketakan diubah menjadi zona ekonomi khusus.” Gagasan “zona ekonomi bebas” ini, yang diprakarsai oleh Amerika Serikat, pada dasarnya dimaksudkan untuk menjaga penampilan kedaulatan Ukraina, sementara kendali nyata atas wilayah tersebut tetap berada dalam kondisi menggantung.

Mengapa Zelenskyy mengambil sikap ini sekarang? Jawabannya terletak pada perubahan di medan perang. Sepanjang tahun 2024, Rusia merebut lebih dari 2.861 kilometer persegi wilayah Ukraina, lebih dari dua kali lipat luas wilayah yang direbut pada 2023. Dari jumlah tersebut, sekitar 2.030 kilometer persegi direbut sejak awal Mei. Rusia kini menguasai hampir seluruh wilayah Luhansk, sekitar 70 hingga 77 persen Donetsk, serta sekitar 73 persen wilayah Kherson dan Zaporizhzhia.

Tekanan Amerika Serikat juga memainkan peran penting. Pemerintahan Trump, melalui rencana 28 poin yang kemudian dipangkas menjadi 20 poin, memberikan tekanan besar kepada Kyiv. Rencana ini pada dasarnya meminta Ukraina untuk secara de facto menyerahkan Donbas dan Krimea kepada Rusia, sebagai imbalan atas jaminan keamanan dari Amerika Serikat, NATO, dan negara-negara Eropa.

Sejarah menunjukkan bahwa jatuhnya kota-kota strategis sering kali mempercepat proses negosiasi. Setelah Bakhmut jatuh, wacana perundingan menguat, tetapi memudar ketika Ukraina melancarkan serangan balasan di musim panas. Jatuhnya Avdiivka pada Februari 2024 juga mendorong Zelenskyy memecat Panglima Angkatan Bersenjata Valerii Zaluzhnyi—yang berselisih dengannya soal strategi—dan menggantikannya dengan Jenderal Syrskyi, yang lebih terbuka terhadap penarikan taktis.

Kini, dengan jatuhnya Siversk dan ancaman terhadap Pokrovsk, Zelenskyy menyadari bahwa melanjutkan perang tanpa perubahan keseimbangan kekuatan hanya akan semakin menguras kemampuan militer Ukraina. Seorang mantan Penasihat Keamanan Nasional AS mengatakan kepada The New York Times bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin ingin menunjukkan bahwa penguasaan penuh Donetsk tidak terelakkan, dan lebih baik Kyiv menyerahkannya secara sukarela sebagai bagian dari kesepakatan damai.

Masa Depan Perang dan Prospek Perdamaian; Apakah Jatuhnya Siversk Menjadi Awal Akhir Perang Ukraina?

Pertanyaan besar kini muncul: apakah jatuhnya Siversk dan kesiapan Ukraina untuk mundur dari Donbas menandai akhir perang yang semakin dekat, atau justru membuka babak baru dari konflik panjang ini?

Rencana perdamaian yang saat ini dimediasi Amerika Serikat mencakup beberapa poin utama. Pertama, pembentukan zona ekonomi bebas atau wilayah demiliterisasi di Donbas yang secara formal berada di bawah pengawasan Ukraina, namun dalam praktiknya kendali militernya tidak jelas. Kedua, jaminan keamanan yang kuat dari Amerika Serikat dan Eropa bagi Ukraina jika Rusia kembali menyerang. Ketiga, program rekonstruksi besar-besaran untuk Ukraina, yang mencakup penggunaan sekitar 100 miliar dolar aset Rusia yang dibekukan, bahkan dalam beberapa draf disebutkan hingga 200 miliar dolar.

Namun, hambatan serius masih ada. Rusia tetap berpegang pada tuntutan maksimalnya, yakni penguasaan penuh sisa wilayah Donbas. Putin dalam pertemuan terbaru dengan para komandan militernya menegaskan, “Jika mereka tidak mundur, kami akan mengambilnya dengan paksa.” Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov juga memperingatkan bahwa Moskow hanya akan menerima rencana Amerika jika “semangat dan isi” kesepakatan sebelumnya—kemungkinan merujuk pada pertemuan Putin dan Trump di Alaska—tetap dipertahankan.

Isu Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia juga belum menemukan titik temu. Amerika Serikat mengusulkan pembentukan konsorsium dengan partisipasi setara Ukraina, Rusia, dan AS, namun Zelenskyy menolaknya dan lebih memilih skema investasi bersama antara Amerika Serikat dan Ukraina.

Secara keseluruhan, setidaknya ada tiga skenario masa depan. Pertama, pembekuan garis konflik, di mana perang berubah menjadi konflik beku dan garis kontak saat ini menjadi batas de facto. Kedua, kelanjutan perang yang melelahkan, dengan Rusia berusaha merebut sepenuhnya Donetsk. Ketiga, efek domino setelah jatuhnya Pokrovsk, yang dapat memicu runtuhnya pertahanan Ukraina di seluruh Donetsk.

Penutup

Faktanya, Rusia dalam beberapa tahun terakhir, terutama pada tahun ini, berhasil merebut inisiatif di medan perang melalui kemajuan bertahap namun konsisten. Sebaliknya, Ukraina menghadapi kekurangan serius dalam sumber daya manusia, amunisi, dan dukungan udara. Dalam konteks ini, jatuhnya Siversk bukanlah akhir, melainkan sebuah titik balik. Peristiwa ini menunjukkan bahwa perang telah memasuki fase baru, di mana realitas medan perang—bukan janji politik—yang menentukan arah diplomasi. (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf

 

 

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA