BERITAALTERNATIF – Mengutip surat kabar Lebanon Al-Akhbar, serangan-sekuat terbaru yang dilakukan oleh rezim Abu Muhammad Julani terhadap kawasan-kawasan berpenduduk Alawi di Homs telah semakin memperjelas rapuhnya kondisi keamanan dan politik Suriah, meningkatnya ketegangan sektarian yang tajam, serta runtuhnya struktur sosial masyarakat negara ini.
Protes Massal di Homs
Serangan-serangan tersebut dilakukan oleh kelompok-kelompok Badui dari suku “Bani Khalid”, dan dikatakan bahwa pasukan yang berafiliasi dengan rezim Julani juga turut terlibat di dalamnya. Menyusul serangan ini, terjadi pergerakan massa dari komunitas Alawi atas seruan Sheikh Ghazal Ghazal, Ketua Dewan Tinggi Islam Alawi di Suriah dan luar negeri, di wilayah pesisir serta daerah-daerah tengah.
Aksi-aksi protes rakyat ini disertai dengan tuntutan para demonstran untuk menerapkan “federalisme” dan memisahkan diri dari rezim Julani. Hal ini menegaskan bahwa kelompok-kelompok keagamaan di Suriah yang dirugikan akibat ketiadaan negara nasional telah sampai kepada tahapan tanpa jalan kembali dalam hubungan mereka dengan rezim Julani.
Meskipun tampaknya berbagai arus agama dan etnis seperti Druze, Alawi, Kurdi, dan Syiah adalah pihak-pihak yang paling banyak mengalami kerugian akibat rezim Julani, namun kenyataan di kota-kota besar seperti Damaskus, Aleppo, Hama, Deir ez-Zor, dan Daraa menunjukkan bahwa kerusakan yang sebenarnya menimpa mayoritas warga Suriah dari berbagai agama, mazhab, dan etnis. Seluruh rakyat secara umum menjadi sasaran serangan keras dari para pembawa paham takfiri.
Separatisme di Hasakah
Upaya rezim Julani untuk mengokohkan dominasi “Hayat Tahrir al-Sham” atas pilar-pilar pemerintahan dan ekonomi, di tengah kelanjutan kebijakan pembunuhan, pengungsian, dan penindasan terhadap rakyat, justru semakin meningkatkan tuntutan pemisahan berbagai wilayah dari Suriah.
Tuntutan pemisahan ini pertama kali muncul secara terbuka dalam sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh “Otoritas Administrasi Otonom Suriah Timur” beberapa bulan lalu di Hasakah. Baru-baru ini juga, permintaan Mazloum Abdi, komandan “Pasukan Demokratik Suriah”, agar komunitas Alawi dan Druze turut terlibat dalam perundingan dengan Damaskus, diajukan sebagai strategi baru untuk memperkuat posisi bersama dalam menghadapi tantangan rezim Julani.
Protes Separatis di Suwayda dan Daraa
Tuntutan politik separatis di Suwayda kini semakin jelas dipimpin oleh Sheikh Hikmat al-Hijri. Pendekatan ini semakin menguat terutama sejak terjadinya pembantaian dan campur tangan langsung Israel yang menyebabkan ribuan orang tewas dan menghilang.
Di sisi lain, dengan terus berlanjutnya bentrokan-bentrokan perbatasan antara basis-basis keamanan rezim Julani dan suku-suku lokal di kawasan pinggiran timur dan timur laut Daraa, serta desa-desa di pinggiran barat dan utara Suwayda yang berada di bawah kendali “Garda Nasional”, jurang pemisah antara Jabal Hauran dan rezim Julani semakin dalam dari waktu ke waktu. Disebutkan pula bahwa Damaskus telah mengirimkan pesan-pesan rahasia kepada Suwayda yang berisi kesiapan untuk menerima bentuk tertentu dari otonomi bagi provinsi tersebut.
Di sisi lain, rezim Julani juga berupaya keras untuk menjalin kesepakatan keamanan dengan para penjajah Zionis. Padahal, Komisi Keamanan di Knesset Israel justru membahas gagasan perjanjian keamanan ini dengan nada penghinaan yang kuat terhadap rezim Julani, menyebut unsur-unsurnya sebagai “teroris”, serta menekankan perlunya “melindungi komunitas Druze”.
Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri rezim Zionis, juga terus mengulangi klaim tersebut dan memperkuat pengawasan militer serta keamanan rezimnya atas provinsi-provinsi di wilayah selatan. Tidak diragukan lagi bahwa berlanjutnya kejahatan rezim Julani terhadap komunitas Druze, serta sikap diam resmi dan media Turki, Qatar, dan Arab Saudi terhadap kejahatan-kejahatan ini, semakin mendorong Druze untuk bergerak mendekat ke arah Israel.
Penindasan dan Perpecahan di Pesisir Suriah
Pola tuntutan pemisahan yang sama juga terus berulang di wilayah-wilayah pesisir. Agresi-agresi harian terhadap komunitas Alawi terus berlangsung di tengah sikap diam negara-negara Arab. Dalam konteks ini, Tel Aviv tengah menunggu agar warga Alawi Suriah, karena merasa sepenuhnya putus harapan dari dunia Arab dan Islam, akhirnya meminta perlindungan kepada rezim tersebut.
Di tengah rangkaian peristiwa yang sedang berlangsung ini, tampaknya tidak ada satu pun faktor yang benar-benar mampu menghentikan proses perpecahan Suriah di hadapan ekspansionisme rezim Zionis, kecuali jika negara ini dibebaskan dari dominasi rezim yang berkuasa di Damaskus, lalu memasuki sebuah proses transisi politik menuju pembentukan sistem multipartai yang mendukung keberagaman struktur sosial Suriah sekaligus menjaga keutuhan wilayahnya. Namun, skenario seperti itu, di tengah perkembangan yang ada, dinilai sebagai kemungkinan yang paling lemah untuk terjadi. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf












