BERITAALTERNATIF.COM – Di balik kesuksesan distribusi makanan bergizi dan higienis ke ribuan siswa di wilayah Tenggarong, terdapat kerja senyap namun vital yang dijalankan oleh tim dapur.
Salah satu tokoh penting di garis depan adalah Ninda Dwi Fitriani, Kepala Dapur Dua Enggang. Ia memimpin seluruh proses produksi makanan yang ditujukan untuk mendukung kesehatan dan pertumbuhan anak-anak Indonesia.
Ninda menjelaskan bahwa proses dimulai jauh sebelum dapur menyalakan kompor.
“Langkah pertama adalah validasi data siswa ke sekolah-sekolah. Kita hitung berapa jumlah siswa dan kelompok usianya, karena kebutuhan gizinya beda-beda,” jelasnya kepada awak media Berita Alternatif pada Senin (21/7/2025).
Anak-anak kelas tiga SD ke bawah memiliki kebutuhan porsi makan yang lebih kecil, sementara kelas empat ke atas membutuhkan porsi lebih besar. Data inilah yang menjadi dasar penghitungan gramasi atau takaran bahan makanan, yang kemudian dikaji dan ditetapkan oleh ahli gizi.
Menu yang diberikan kepada siswa tidak disusun sembarangan. Ninda memastikan bahwa semua menu disusun oleh ahli gizi yang kompeten, biasanya untuk periode 10 hari hingga satu bulan.
“Menu harus memenuhi standar angka kecukupan gizi. Misalnya nasi 100 gram, protein nabati 50 gram, protein hewani 50-80 gram, lalu ditambah sayur, buah, dan kadang susu sebagai sumber protein tambahan,” ujarnya.
Setiap hari, anak-anak mendapatkan paket makanan bergizi lengkap yang dirancang bukan hanya untuk mengenyangkan, tapi juga menunjang pertumbuhan dan mencegah stunting.
Pada hari pertama operasional, Dapur Dua Enggang berhasil menyalurkan makanan bergizi kepada 2.166 siswa dari 8 sekolah, yang terdiri dari berbagai jenjang SD, SMP, dan SMA. Sekolah-sekolah tersebut antara lain SDN 005, SDN 010, SDN 019, SDN 021, SMP dan SMA YPK, dan SMA Geologi Pertambangan Tenggarong.
“Kita sesuaikan jadwal distribusi dengan permintaan sekolah. Ada yang minta pagi jam 8, ada juga yang siang sebelum Zuhur,” katanya.
Untuk memenuhi kebutuhan ribuan siswa, proses dapur dimulai sehari sebelumnya. Bahan-bahan seperti ayam dan sayur didatangkan secara bertahap. Ayam yang datang di pagi hari langsung dibersihkan dan dipotong, sementara sayur biasanya datang sore dan langsung disiapkan.
“Masaknya mulai dari jam 10 sampai 12 malam, tergantung kompleksitas menu. Semakin rumit, semakin awal kita mulai,” jelasnya.
Pengemasan dilakukan mulai pukul 3 dini hari, dan makanan yang lebih dahulu matang langsung didistribusikan pertama untuk menjaga kesegaran—prinsip yang mereka sebut sebagai first in, first out.
Ninda dan tim sudah mengatur pengiriman makanan berdasarkan kesepakatan dengan masing-masing sekolah. Beberapa sekolah meminta makanan tiba pukul 08.00 agar bisa disantap saat istirahat pertama, sementara yang lain memilih waktu lebih siang.
Untuk menjaga kualitas dan keamanan makanan, ahli gizi dilibatkan sejak tahap awal pengadaan bahan. Ia bertanggung jawab memastikan kualitas bahan makanan, proses persiapan, hingga distribusi berjalan sesuai standar.
“Kalau bahan tidak sesuai standar, kita bisa tolak. Ahli gizi juga pastikan makanan layak konsumsi, dari awal sampai akhir,” tegasnya.
Selain itu, semua pekerja dapur diwajibkan menggunakan alat pelindung diri lengkap, termasuk masker, penutup rambut (hairnet), dan sarung tangan. Ini merupakan bagian dari SOP ketat untuk menjaga higienitas selama proses produksi.
Bagi Ninda, keterlibatan dalam program ini bukan sekadar tugas harian. Ia mengaku merasa terpanggil untuk ikut serta membentuk generasi Indonesia yang sehat dan kuat melalui gizi yang merata.
“Anak-anak dari keluarga mana pun, ekonominya bagaimana pun, harus punya akses pada makanan bergizi. Itu prinsip kami,” ucapnya dengan penuh semangat.
Dapur Dua Enggang merupakan dapur mitra Badan Gizi Nasional yang dikelola bersama Yayasan Berkah Peduli Nusantara Abadi. Berlokasi di Kelurahan Sukarame, dapur ini menjadi tulang punggung penyedia makanan bergizi bagi siswa di Tenggarong.
Selain meningkatkan kualitas kesehatan pelajar, dapur ini juga memberdayakan masyarakat lokal dalam operasionalnya. (*)
Penulis & Editor: Ufqil Mubin












