BERITAALTERNATIF.COM – Serangan terbaru Israel terhadap Qatar kembali menunjukkan bahwa Tel Aviv merupakan ancaman nyata bagi stabilitas regional, sementara tuduhan lama yang ditujukan kepada Iran semakin kehilangan pijakan.
Para analis menilai negara-negara Arab perlu meninjau ulang aliansi keamanan mereka yang selama ini terlalu bergantung pada Amerika Serikat (AS) dan cenderung menempatkan Iran sebagai ancaman utama.
Ini bukan kali pertama Israel melakukan agresi di tengah berlangsungnya perundingan dan upaya diplomatik. Dalam dua tahun terakhir, sejumlah pembunuhan terencana dan serangan militer telah terjadi: di Lebanon menyasar Hizbullah, di Suriah terhadap pemerintahan Golani yang baru terbentuk, di Yaman melawan kelompok Ansarullah, serta terhadap Iran pada perang Juni lalu ketika Teheran sedang terlibat dalam pembicaraan dengan Washington.
Serangan Israel ke Qatar, dengan dalih menargetkan para pemimpin Hamas, langsung memicu reaksi keras. Berbagai negara serta organisasi internasional mengecam tindakan itu dengan bahasa yang tajam, mengeluarkan pernyataan dan resolusi yang menuntut pertanggungjawaban. Namun jika dilihat lebih dalam, serangan ini seakan menjadi lonceng peringatan bagi Asia Barat tentang ambisi ekspansionis Israel yang semakin berani.
Beberapa hari setelah serangan tersebut, yang bahkan oleh Perdana Menteri Israel disebut sebagai “kesempatan singkat” untuk meningkatkan operasi terhadap Hamas, media internasional ramai menyoroti dampaknya terhadap peta politik kawasan. Termasuk bagaimana hal itu berimbas pada hubungan strategis negara-negara Teluk Persia dengan AS.
Dalam salah satu artikelnya, The Guardian menulis bahwa Israel kini menjadi ancaman keamanan nomor satu di kawasan. “Pembunuhan yang dilakukan Israel terhadap para negosiator Hamas di Doha telah melewati garis merah yang tidak mungkin diabaikan, bahkan oleh mitra Arab terdekatnya. Selama ini, Israel selalu berdalih bahwa serangan lintas batasnya adalah bagian dari strategi keamanan. Dalam dua tahun terakhir, pasca serangan Hamas 7 Oktober, Israel telah menyerang enam negara untuk meniadakan ancaman. Namun menyerang ibu kota Qatar—negara kaya Teluk yang berstatus mitra dekat AS dan menjadi lokasi perundingan sensitif yang diinisiasi Washington—bukanlah sekadar operasi militer biasa.”
Tulisan itu menegaskan adanya pergeseran besar: negara-negara Arab tidak lagi menempatkan Iran sebagai sumber utama ketidakstabilan, melainkan Israel.
Serangan ke Doha melanjutkan pola lama Israel: menggunakan kekerasan justru saat diplomasi sedang berjalan. Tujuannya tidak lain adalah mengganggu proses negosiasi, sekaligus menunjukkan bahwa Israel tidak pernah siap memisahkan jalur diplomasi dari ancaman militer. Namun kali ini, dampaknya diprediksi jauh lebih panjang.
Rudal-rudal Israel menghantam kawasan tenang di Doha, tidak jauh dari istana yang sempat dikunjungi Donald Trump pada Mei lalu. Kunjungan itu, termasuk ke pangkalan militer Amerika di Qatar, semula meneguhkan keyakinan para penguasa Teluk bahwa kedekatan mereka dengan AS akan melindungi dari serangan eksternal. Kenyataannya, justru sebaliknya yang terjadi.
Israel sudah lama menyimpan rasa permusuhan terhadap Qatar. Selama bertahun-tahun, Doha mengirim dana ke Gaza atas persetujuan AS dan Israel, dengan tujuan menstabilkan situasi. Tetapi sejak 7 Oktober, bantuan itu ditafsirkan ulang oleh pejabat Israel sebagai dukungan langsung terhadap Hamas. Kebencian Israel makin terlihat ketika dokumen bocor memperlihatkan aliran dana Qatar kepada lingkaran dekat Netanyahu untuk kepentingan lobi politik.
Meski begitu, Washington tidak sepenuhnya sejalan dengan pandangan Israel. Qatar adalah tuan rumah Pangkalan Udara Al-Udeid, salah satu fasilitas utama AS di kawasan yang menjadi pusat operasi di Afghanistan, Irak, dan Suriah. Pada 2022, Presiden Joe Biden bahkan menyebut Qatar sebagai “sekutu utama non-NATO Amerika Serikat.” Qatar sendiri sempat menjadi target rudal Iran dalam perang Juni lalu, ketika Teheran membalas serangan ke fasilitas nuklirnya.
Fakta bahwa dalam dua bulan terakhir Qatar sudah dua kali diserang—kali ini oleh sekutu utama AS—membuat muncul tanda tanya besar tentang komitmen perlindungan Washington. Selama puluhan tahun, negara-negara Teluk menilai Iran sebagai ancaman keamanan, khawatir pada program nuklirnya dan dukungan Teheran pada kelompok-kelompok Poros Perlawanan. Tetapi setelah kampanye militer Israel di Gaza, operasi berlanjut di Tepi Barat, serta serangan ke Lebanon, Suriah, dan kini Qatar, pandangan itu mulai bergeser.
Banyak analis tetap menyalahkan Iran sebagai pihak yang ikut menyalakan konflik, tetapi semakin jelas bagi negara-negara Arab bahwa justru Israel yang menjadi faktor paling merusak stabilitas kawasan. Tindakan Iran dinilai sudah bisa diprediksi, sementara Israel semakin berani melanggar norma yang dulu dianggap tak tersentuh.
Kelemahan sikap Amerika juga memperkuat pandangan ini. Baik pemerintahan Biden maupun Trump dinilai gagal menahan agresi militer Israel. Serangan ke Qatar membuat para pemimpin Teluk harus menghadapi kenyataan pahit: Washington tidak mampu, atau bahkan tidak mau, membatasi perilaku sekutu terdekatnya.
Rasa percaya terhadap jaminan keamanan AS pun kian terkikis. Ingatan mereka masih segar bagaimana pertahanan Amerika gagal mencegah serangan besar ke fasilitas Aramco di Arab Saudi pada 2019. Kini, di tengah meningkatnya ketidakmampuan AS mengendalikan Israel, kepercayaan itu semakin menipis.
Akibatnya, konsep keamanan regional yang diharapkan lahir dari Perjanjian Abraham dan rencana normalisasi dengan Israel kini dianggap tidak relevan. Selama perang di Gaza masih berlanjut, wacana itu tidak mungkin dijalankan.
Sebagai gantinya, negara-negara Teluk diprediksi akan memperdalam kerja sama internal, memperluas kemitraan dengan negara lain seperti China dan Turki, serta meninjau kembali kemungkinan normalisasi dengan Israel. Situasi ini semakin sulit bagi negara-negara yang selama ini berusaha menyeimbangkan hubungan dengan Israel dan AS di tengah tekanan opini publik domestik.
Di saat yang sama, tekad untuk mengurangi ketergantungan pada Amerika semakin menguat. Serangan ke Doha bisa menjadi titik balik bersejarah, menandai runtuhnya sistem keamanan regional lama dan memperlihatkan bahwa kedaulatan negara-negara Arab dikorbankan berulang kali atas nama “keamanan.”
Kini pertanyaan utamanya bukan lagi apakah dunia Arab akan bereaksi, tetapi bagaimana bentuk respons yang akan mereka pilih. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin












