Search

Israel adalah Alat Hegemoni Barat di Timur Tengah

Benjamin Netanyahu dan Donald Trump. (Metro TV)

BERITAALTERNATIF.COM – Ursula Asta, seorang analis geopolitik asal Argentina, memandang tindakan rezim Zionis di Asia Barat sebagai bagian dari proyek yang lebih luas untuk mempertahankan hegemoni Barat dan mencegah kemunduran tatanan dunia unipolar yang dipimpin AS.

Dalam wawancara ini, sebagaimana dilansir dari Mehr News pada Sabtu (26/7/2025), ia menekankan rapuhnya posisi politik rezim Israel serta peran dominan kaum neokonservatif dalam struktur politik AS, dengan menyatakan bahwa tindakan perang dan pembunuhan yang ditargetkan terhadap Iran bukan berasal dari kekhawatiran keamanan sejati, tetapi merupakan upaya strategis untuk mempertahankan dominasi geopolitik dan menghalangi integrasi Tehran ke dalam tatanan dunia multipolar yang sedang muncul.

Asta juga mengkritik standar ganda lembaga-lembaga internasional, sikap bungkam Barat terhadap kejahatan perang, serta peran media arus utama yang menyimpangkan realitas. Ia menekankan perlunya membentuk front independen untuk melawan agenda imperialis Barat.

Berikut adalah transkrip lengkap wawancara eksklusif dengan analis Argentina ini:

Saat ini, dunia menyaksikan tindakan agresi terang-terangan oleh rezim Israel terhadap Iran dan rakyatnya. Menurut Anda, mengapa rezim ini terus melakukan kejahatan terhadap warga sipil tak bersenjata di Gaza, Lebanon, dan Iran, termasuk melalui pembunuhan terencana?

Bisa dikatakan bahwa Netanyahu memiliki beberapa alasan fundamental untuk memulai serangan dan eskalasi perang dengan Iran, yang melibatkan AS—negara yang sejak lama menjadi pendukung Israel—kali ini melalui serangan langsung.

Di antaranya adalah lemahnya posisi politik—bahkan legal—Netanyahu dan koalisi politiknya. Dari sini tampaknya ia harus bergantung pada perang sebagai alat utama untuk mempertahankan kekuasaan dan kelangsungan karier politiknya.

Dalam konteks yang lebih luas, dalam upayanya mewujudkan “Israel Raya”, Iran merupakan hambatan, sama seperti keinginan Israel mempertahankan monopoli senjata nuklir di kawasan.

Pemerintahan Trump di AS tengah menghadapi konflik internal yang tajam, dan faksi Zionis serta neokonservatif yang memiliki pengaruh kuat dianggap sebagai “peluang” bagi Israel, karena mereka menganggap penguasaan Asia Barat sebagai strategi kunci, di mana Israel lebih dari sekadar sekutu.

Rezim Israel mengklaim menargetkan program nuklir dan rudal Iran, namun jelas-jelas menyerang rumah sakit, infrastruktur, dan media, dengan banyak korban wanita dan anak-anak. Bagaimana kontradiksi ini dapat dijelaskan?

Situasi ini menunjukkan bahwa Israel berusaha mencegah kesepakatan nuklir antara Washington dan Tehran dengan segala cara. Di balik narasi resminya, serangan-serangan ini bukan semata-mata karena kekhawatiran soal senjata nuklir—yang menurut laporan media dan IAEA telah dinyatakan tidak ada—melainkan untuk menggagalkan kesepakatan, yang sudah melalui hampir enam putaran perundingan antara Iran dan AS.

Israel kemudian menggabungkan argumen tersebut dengan tuntutan akan “pergantian rezim” di Iran, yakni mengembalikan situasi ke masa sebelum Revolusi 1979—era kediktatoran Pahlavi yang lebih condong ke blok Barat dan Israel.

Meskipun PBB dan berbagai organisasi HAM telah mendokumentasikan kejahatan perang Israel, pemerintah Barat terus mendukungnya secara militer dan politik. Mengapa mereka tetap diam?

Netanyahu sadar bahwa ada faksi neokonservatif dan Zionis dalam pemerintahan Trump yang mendukung proyek “Israel Raya”, termasuk melenyapkan Palestina dan melawan Iran sebagai musuh utama. Bagi para neokonservatif ini, menguasai Asia Barat adalah kunci untuk mengembalikan dominasi global AS—seperti yang terlihat dalam invasi Bush ke Afghanistan dan Irak.

Paus Fransiskus pernah mengatakan, “Kita sedang mengalami Perang Dunia Ketiga, tapi dalam babak-babak.” Dunia saat ini bisa dipahami sebagai bentuk perang hibrida, di mana dinamika kekuasaan di kawasan Afro-Eurasia mulai menggeser pengaruh Barat. Dalam konteks ini, Israel berperan sebagai benteng utama geopolitik Barat.

Media Barat sering menggambarkan Israel bertindak untuk ‘membela diri’, sambil mengabaikan pembantaian warga sipil dan kampanye pembunuhan. Bagaimana Anda menanggapi bias media ini?

Sebagaimana mitos “Kubah Besi” terbukti tidak kebal seperti propaganda Israel, muncul pula paradoks bahwa pihak yang mengklaim menang perang justru hidup dalam duka di wilayahnya sendiri.

Media juga merupakan bagian dari arena pertarungan kekuasaan. Di Amerika Selatan, misalnya, narasi AS dan Inggris sangat dominan. Namun, media alternatif tetap ada dan mampu menyuarakan perspektif berbeda, menjadi penyeimbang atas dominasi narasi Barat.

Dengan kemajuan teknologi informasi, publik kini lebih terekspos pada pembantaian massal yang beredar di media sosial. Narasi yang menyangkal fakta tersebut tampak sangat tidak manusiawi, terlebih mengingat krisis kemanusiaan yang menimpa Gaza.

Apa tujuan jangka panjang dari kebijakan agresif dan ekspansionis rezim Zionis? Apa ancamannya terhadap negara-negara tetangga di Timur Tengah?

Keseimbangan kekuatan di Timur Tengah kini mulai tidak menguntungkan Barat. Kawasan ini mulai condong ke poros dunia baru seperti BRICS.

Perjanjian diplomatik antara Iran dan Arab Saudi—yang dimediasi oleh China—adalah contoh penting. Iran, Mesir, dan UEA telah bergabung dengan BRICS+, sementara Arab Saudi sedang meninjau keanggotaannya. Turki juga terlibat sebagai mitra BRICS. Di samping itu, ada perjanjian strategis antara Iran dan Rusia serta kerja sama ekonomi dengan China dalam kerangka Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO).

Asia Barat, yang merupakan pusat logistik global dan penghasil energi utama, ingin menjadi bagian dari tatanan dunia baru yang tengah dibangun. Sementara Israel, yang berpihak pada neokonservatisme Barat, memilih jalur agresi untuk menghentikan arah perubahan ini.

Apa reaksi pribadi Anda terhadap serangan terbaru Israel terhadap Iran dan pembunuhan warga sipil?

Saya mengutuk pembunuhan ini dan menekankan bahwa kita harus mengedepankan sisi kemanusiaan dalam membahas geopolitik—karena yang dibicarakan adalah nyawa manusia, yang masing-masing sangat berharga. Dimensi moral dari perubahan geopolitik regional sering kali absen dari perhitungan strategis para pelaku perang.

Situasi di Gaza yang disebut sebagai genosida harus menjadi pengingat moral dunia. Israel yang memblokir bantuan kemanusiaan juga merupakan bentuk agresi. Bahkan banyak jurnalis telah dibunuh—untuk menyembunyikan informasi dan memanipulasi narasi.

Amerika Serikat secara rutin memveto resolusi PBB yang mengutuk kejahatan Israel. Apakah kebijakan AS memungkinkan dan memperkuat agresi ini?

Israel adalah pilar geopolitik Barat di kawasan, sementara kawasan ini sedang bergerak menjauh dari kepentingan mereka. Veto AS di PBB tak bisa dipahami tanpa konteks merosotnya kekuatan ekonomi dan militer AS—meski belum sepenuhnya runtuh.

Hal ini juga menjelaskan kebijakan-kebijakan AS seperti tarif dagang, ketegangan dengan China, lonjakan belanja militer, serta ekspansi NATO.

Jika kita memahami dunia saat ini sebagai medan Perang Dunia Hibrida, maka banyak dinamika—termasuk konflik di Asia Barat, Ukraina, dan ketegangan Taiwan—berkaitan erat dengan penurunan hegemoni AS.

Tatanan multipolar bukan lagi sekadar aspirasi; ia sudah menjadi kenyataan yang sedang berlangsung. Dominasi unipolar AS runtuh bukan hanya karena munculnya kekuatan saingan, tetapi juga karena kontradiksi internal dan keserakahan imperialis yang selama ini menyertainya.

Israel memiliki senjata nuklir ilegal tanpa pengawasan IAEA, namun menyerang Iran dengan alasan nuklir. Bukankah ini bentuk nyata standar ganda? Bagaimana komunitas internasional harus menyikapinya?

Sejak Revolusi Islam 1979, Iran menjadi musuh utama Israel. Rezim Zionis sangat menentang kesepakatan nuklir antara Iran dan AS. Pada 2018, AS bahkan keluar dari perundingan multilateral tentang program nuklir Iran. Sementara itu, Israel tidak tunduk pada pengawasan IAEA—ini jelas kontradiktif dan mencerminkan standar ganda.

Hal ini mengangkat kembali efektivitas mekanisme internasional pasca-Perang Dunia II. Dunia saat ini sedang bergeser, dan kerangka hukum global harus dievaluasi ulang.

Seperti disebut sebelumnya, terdapat tiga zona konflik besar yang saling terkait—semuanya berada di kawasan Eurasia. Lemahnya posisi ekonomi dan teknologi AS, terutama karena persaingan dengan China dan bangkitnya BRICS, menjadi alasan di balik strategi militer mereka saat ini. (*)

Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA