Search

IRGC Umumkan Telah ‘Membutakan’ Mata AS dan Israel di Kawasan, Janjikan Pembalasan Lebih Keras

Gambar yang dirilis pada 4 Maret 2026 memperlihatkan dampak langsung serangan balasan yang dilancarkan terhadap wilayah pendudukan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).  (Presstv)

BERITAALTERNATIF –  Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan telah melaksanakan tahap ke-17 dari Operasi True Promise 4 yang masih terus berlangsung, dengan menyasar target-target Israel dan Amerika di seluruh kawasan.

Pengumuman itu disampaikan dalam sebuah pernyataan pada Rabu, hari kelima sejak operasi tersebut diluncurkan sebagai respons atas agresi tanpa provokasi terhadap Republik Islam oleh Tel Aviv dan Washington.

“Dengan keberhasilan menghancurkan lebih dari tujuh radar canggih, mata Amerika Serikat dan rezim Zionis perampas di kawasan telah dibutakan,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

IRGC juga memuji keberhasilannya menembus sistem pertahanan rudal THAAD milik Amerika Serikat yang dikerahkan untuk melindungi rezim Israel dari serangan balasan. Setelah menembus sistem tersebut, serangan disebut menghantam gedung kementerian perang rezim itu serta Bandara Ben Gurion, bandara tersibuknya.

Sebagai bukti keberhasilan operasi, IRGC menyebut suara sirene yang terus-menerus berbunyi dan lamanya para pemukim ilegal terpaksa berlindung di dalam bunker di seluruh wilayah pendudukan selama 100 jam terakhir.

Hal itu, menurut pernyataan tersebut, membuktikan “irama peluncuran proyektil Iran yang stabil dan terkelola untuk pembalasan keras terhadap para kriminal teroris.”

“Dalam beberapa hari mendatang, serangan akan menjadi lebih intens dan lebih luas,” lanjut pernyataan itu.

Sejauh ini dalam rangkaian operasi tersebut, IRGC telah meluncurkan ratusan rudal balistik dan drone bermuatan bahan peledak ke berbagai target sensitif dan strategis di kawasan.

Target-target itu mencakup lokasi-lokasi di kota Tel Aviv dan kota suci yang diduduki, al-Quds, serta pos-pos dan kepentingan Amerika yang tersebar di berbagai negara kawasan, termasuk Kuwait, Bahrain, dan Qatar.

Dalam rangkaian pembalasan tersebut, IRGC juga menargetkan kapal induk Angkatan Laut Amerika, USS Abraham Lincoln, serta sebuah kapal perusak Amerika di Samudra Hindia.

Serangan ke ‘Pusat Data Terbesar’ AS di Kawasan

Masih pada Rabu, IRGC juga mengumumkan telah melancarkan apa yang disebut sebagai “serangan krusial” terhadap pusat data Amerika terbesar di kawasan.

Target tersebut diidentifikasi sebagai pusat data milik Amazon di Bahrain. IRGC menyatakan bahwa serangan dilakukan untuk mengungkap peran pusat-pusat data semacam itu dalam mendukung aktivitas militer dan intelijen musuh.

Menurut laporan resmi Amazon, kerusakan luas telah terjadi pada pusat tersebut.

Kantor regional Amazon di Bahrain, yang dibuka pada 2019, dianggap sebagai gerbang layanan komputasi awan canggih Amazon bagi negara-negara Teluk Persia dan wilayah Asia Barat lainnya.

Pengumuman ini menandai eskalasi signifikan dalam konflik yang tengah berlangsung, dengan IRGC menegaskan bahwa operasi balasan akan terus berlanjut dan bahkan ditingkatkan skalanya. Pernyataan tersebut menekankan bahwa serangan tidak hanya ditujukan pada sasaran militer langsung, tetapi juga pada infrastruktur strategis yang dinilai berperan dalam mendukung operasi militer dan intelijen lawan.

Dengan masuknya operasi ke tahap ke-17, IRGC menegaskan bahwa strategi yang diterapkan dilakukan secara bertahap, terukur, dan berkelanjutan. Mereka juga menekankan bahwa rangkaian serangan ini merupakan bagian dari pembalasan atas agresi yang disebut tidak beralasan terhadap Iran.

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak Amerika Serikat maupun Israel terkait klaim terbaru IRGC tersebut. Namun situasi di kawasan dilaporkan tetap tegang, dengan meningkatnya kesiagaan militer di berbagai titik strategis. (*)

Sumber: Presstv
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf

 

 

 

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA