Search

Iran “yang Kafir”

Penulis. (Dok. Berita Alternatif)

Oleh: Dr. Muhsin Labib*

Gempuran Amerika dan Israel terhadap Iran tidak hadir dari ruang hampa. Gempuran itu menjadi efektif karena retakan telah lama menganga dalam tubuh umat sendiri—retakan yang kita ciptakan dengan tangan kita sendiri. Sebelum bom dan sanksi dijatuhkan, legitimasi Iran sudah lebih dulu dihancurkan dengan dua label yang tak henti diulang: kafir dan sesat.

Bertahun-tahun energi umat habis terkuras bukan untuk membongkar struktur hegemoni global, melainkan untuk mengawasi mazhab tetangga. Mimbar-mimbar dijejali fatwa pengkafiran. Media sosial dibanjiri narasi kebencian antarsesama. Sementara itu, musuh yang nyata menyaksikan seluruh pertunjukan itu tanpa perlu bersusah payah. Pengkafiran bukan sekadar kekeliruan teologis. Pengkafiran adalah senjata yang kita serahkan sendiri kepada pihak yang memang ingin memecah dan menghancurkan.

Ironinya telanjang dan tidak butuh tafsir. Rezim-rezim Teluk yang dijadikan referensi utama kesalehan justru paling rajin menandatangani perjanjian normalisasi dengan Israel.

Mereka mengumandangkan ayat di masjid-masjid megah, namun pada saat yang sama membangun kemitraan strategis dengan kekuatan yang membombardir Gaza. Iran dituduh kafir karena mendukung perlawanan, sementara transaksi politik yang menusuk punggung Palestina diperlakukan sebagai keniscayaan diplomatik yang wajar dan tak perlu dipersoalkan.

Narasi anti-Iran tidak lahir dari ruang tafsir yang jernih dan independen. Narasi itu bergerak seiring peta kepentingan yang dirancang di Washington dan Tel Aviv. Agama berubah menjadi bahasa legitimasi bagi agenda geopolitik orang lain. Perang akidah terus dipanaskan, sementara solidaritas terhadap korban penindasan makin mengering.

Hasilnya sudah bisa ditebak. Kebencian jauh lebih mudah diarahkan kepada Iran yang berbeda mazhab daripada kepada sistem penjajahan yang setiap hari mencabut nyawa warga sipil Palestina. Energi lebih banyak dihabiskan untuk menjaga klaim kemurnian teologis daripada untuk menjaga keselamatan umat. Iran pun terkucil secara moral oleh sebagian saudaranya sendiri—bahkan sebelum tekanan ekonomi dan ancaman militer benar-benar menghimpit.

Sejarah mencatat pola ini tanpa pengecualian. Perpecahan internal selalu menjadi celah bagi intervensi eksternal. Embargo bisa dihadapi dengan ketahanan. Serangan militer bisa dilawan dengan strategi. Tetapi delegitimasi dari dalam yang dibungkus simbol keagamaan meruntuhkan daya tahan kolektif secara perlahan, sistematis, dan hampir tak terasa.

Masalah intinya sederhana sekaligus mematikan: perbedaan mazhab dijadikan alasan sah untuk memutus persaudaraan. Khilafiyah yang semestinya menjadi ruang dialog dan kekayaan intelektual berubah menjadi permusuhan mendasar yang tak bisa didamaikan. Label kafir dilontarkan dengan ringan dan tanpa beban—lalu ada keheranan ketika Amerika dan Israel dengan mudah memecah belah dan menekan satu per satu.

Mereka yang menyemburkan fitnah kepada sesama dari mimbar dan layar, yang melontarkan takfir dengan enteng demi menjaga gengsi teologis, adalah pengkhianat paling jorok—karena mereka melapangkan jalan bagi Amerika dan Israel tanpa harus digaji satu sen pun. Pengkhianatan paling dalam bukan selalu datang dari agen asing. Ia datang ketika agama dipakai untuk membenarkan perpecahan yang membuka pintu bagi dominasi.

Bila mereka membenci Iran karena bermazhab Syiah—apakah menjalin kerja sama dengan Israel karena bermazhab Sunni?

Di luar semua itu, para penyesat dan pengkafir pecandu mikrofon sebenarnya tidak perlu repot mengulang-ulang narasi fitnah terhadap Syiah demi mencegah umat berpihak. Iran tidak membutuhkan tepuk tangan siapa pun untuk berdiri. Iran tidak membutuhkan pengakuan siapa pun untuk bertahan melawan bahkan memenangkan laga. Dan itu bukan klaim—itu sudah dibuktikan di hadapan sanksi berlapis, blokade ekonomi, sabotase, dan ancaman militer yang terus-menerus selama lebih dari empat dekade.

Yang memalukan bukan Iran yang dikucilkan. Yang memalukan adalah mereka yang mengira pengkafiran mereka itu konsekuensial—bahwa fatwa-fatwa dari mimbar dan jempol-jempol di layar kaca itu benar-benar menentukan nasib sebuah bangsa. Iran telah lama melampaui kebutuhan akan validasi itu. Sementara para pecandu mikrofon masih sibuk berteriak, Iran sudah bergerak. (*Cendekiawan Muslim)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA