BERITAALTERNATIF – Berdasarkan kepentingan dan tantangan global yang sama, seperti sanksi dari negara-negara Barat, Teheran dan Moskow telah meningkatkan kerja sama mereka di berbagai bidang—politik, militer, ekonomi, hingga budaya—ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Politik: Melawan Dominasi Amerika
Sebagai dua sekutu strategis, Iran dan Rusia kini memiliki pandangan yang sejalan dalam sebagian besar isu internasional. Pada tahun 2025, penandatanganan Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif oleh Presiden Vladimir Putin dan Presiden Masoud Pezeshkian di Moskow menjadi titik balik penting dalam hubungan kedua negara.
Perjanjian yang ditandatangani sebelum kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih itu menegaskan tekad kedua pihak untuk memperkuat kerja sama di berbagai sektor. Dalam pertemuan mereka pada Mei tahun ini, kedua pemimpin juga menekankan pentingnya memperdalam koordinasi politik dan diplomasi, termasuk dukungan Rusia terhadap negosiasi nuklir Iran yang dimediasi Oman.
Militer: Kolaborasi yang Terus Meningkat
Dalam bidang militer, kerja sama Iran dan Rusia berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Setelah dicabutnya embargo senjata terhadap Iran pada tahun 2020, Rusia mulai menjual berbagai sistem persenjataan kepada Teheran.
Latihan militer gabungan—baik di Laut Kaspia maupun perairan selatan Iran—kini menjadi salah satu wujud kolaborasi paling aktif di antara keduanya. Selain itu, kedua negara bekerja sama dalam penggunaan energi nuklir untuk tujuan damai, yang bisa memperkuat kapasitas Iran dalam membangun fasilitas nuklir baru.
Kerja sama pertahanan ini bukan hanya memperkuat kemampuan militer kedua negara, tetapi juga menjadi penyeimbang terhadap tekanan dan ancaman dari blok Barat.
Ekonomi: Pertumbuhan di Tengah Sanksi
Meskipun sama-sama menjadi sasaran sanksi ekonomi Barat, hubungan dagang antara Iran dan Rusia justru menunjukkan peningkatan signifikan. Pada tahun 2023, volume perdagangan kedua negara mencapai sekitar 2,76 miliar dolar AS.
Data ekspor-impor menunjukkan bahwa dalam sembilan bulan pertama tahun 1403 kalender Iran, Teheran mengekspor lebih dari 1,95 juta ton barang senilai 802 juta dolar AS ke Rusia—meningkat 14 persen dibanding periode yang sama sebelumnya. Di sisi lain, Iran mengimpor lebih dari 1,49 juta ton barang dari Rusia dengan nilai sekitar 1,95 miliar dolar AS. Sekitar 78 persen dari total volume impor itu berupa bahan pangan, hasil pertanian, dan produk peternakan.
Kedua negara juga telah menandatangani perjanjian untuk menggunakan mata uang nasional masing-masing—rial dan rubel—dalam transaksi perdagangan bilateral. Langkah ini bukan hanya mengurangi ketergantungan pada dolar AS, tetapi juga membuka peluang bagi negara-negara lain yang terkena sanksi untuk ikut menggunakan model serupa.
Selain itu, Iran dan Rusia tengah membangun sistem perpesanan keuangan alternatif untuk menggantikan SWIFT, yakni System for Transfer of Financial Messages (SPFS) milik Rusia. Dengan sistem ini, negara-negara yang terkena sanksi dapat tetap melakukan transaksi internasional tanpa bergantung pada lembaga keuangan Barat.
Proyek-proyek bersama di bidang transportasi, energi, dan jalur transit—terutama di kawasan Asia Tengah—juga membuka kesempatan baru untuk memperkuat hubungan ekonomi kedua negara.
Budaya: Membangun Jembatan Pemahaman
Hubungan budaya antara Iran dan Rusia terus berkembang seiring meningkatnya interaksi politik dan ekonomi. Kajian Iranologi di Rusia sudah berlangsung lebih dari dua abad, dengan tokoh-tokoh seperti Profesor Muhammad Nuri Osmanov berperan besar dalam memperkenalkan karya sastra Persia seperti Syahnameh dan Al-Qur’an dalam bahasa Rusia.
Kehadiran pusat studi dan pengajaran bahasa Persia serta bahasa Rusia di kedua negara, ditambah koleksi budaya Iran yang tersimpan di berbagai museum Rusia, memperkuat dasar kerja sama budaya di antara keduanya.
Tahun ini, sebuah konferensi ilmiah bertajuk Bacaan Nuri Osmanov diadakan di Dagestan, yang dihadiri oleh banyak peneliti dari Iran dan Rusia. Acara tersebut menjadi bukti nyata tingginya minat kedua bangsa untuk saling memahami kebudayaan satu sama lain.
Kesimpulan
Meskipun masih menghadapi berbagai tantangan, seperti sanksi ekonomi dan perbedaan geopolitik, hubungan antara Iran dan Rusia kini terus berkembang menuju arah yang lebih kuat dan strategis.
Perjanjian kemitraan komprehensif yang baru ditandatangani serta pandangan bersama kedua negara terhadap poros Timur menjadi bukti nyata keseriusan mereka untuk menantang dominasi tunggal Barat.
Kerja sama ini tidak hanya menguntungkan Teheran dan Moskow secara bilateral, tetapi juga berpotensi membentuk tatanan global baru yang lebih seimbang dan multipolar. Seperti yang ditegaskan Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali: “Kepentingan bersama dan sejarah panjang penuh tantangan membawa kita menuju masa depan yang lebih cerah.” (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf












