BERITAALTERNATIF.COM – Harga bawang merah di Pasar Tangga Arung, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) pada September 2025 berada di angka Rp 37 ribu per kilogram. Harga ini terpantau lebih rendah dibandingkan bulan Agustus lalu yang sempat menembus Rp 45 ribu per kilogram.
Salah satu pedagang Pasar Tangga Arung, Gatot Siswanto, menyebut bahwa fluktuasi harga bawang dipengaruhi oleh kondisi panen di sejumlah daerah penghasil. Pasokan bawang merah dan bawang putih di Tenggarong umumnya datang dari Jawa Tengah, Sulawesi, dan Palu.
Apabila di Jawa atau Sulawesi terjadi banjir yang mengakibatkan gagal panen, harga biasa bawang biasanya akan naik. “Tapi kalau panennya bagus, barang melimpah, harganya bisa turun,” jelasnya saat ditemui di lapaknya, Sabtu (13/9/2025).
Gatot menyebut dalam kondisi harga murah dan stok melimpah, bawang yang masuk ke Pasang Tangga Arung bisa mencapai dua mobil truk per hari. Namun saat harga tinggi, jumlah pasokan berkurang karena pedagang enggan mengambil risiko.
Soal kualitas, Gatot menilai bawang merah lokal sebenarnya lebih unggul dibandingkan pasokan dari luar daerah. Bawang lokal memiliki cita rasa lebih kuat dan cocok digunakan untuk berbagai masakan, terutama gorengan.
“Bawang luar itu cenderung basah. Jadi, kurang enak untuk dimasak. Rasanya juga tidak sekuat bawang lokal,” ucapnya.
Dalam sehari, dia bisa menghabiskan hingga dua karung bawang atau setara 50 kilogram, tergantung kondisi pasar.
Dari penjualan tersebut, ia hanya memperoleh keuntungan sekitar Rp 1.000 hingga Rp 2.000 per kilogram setelah dipotong biaya ongkos kirim dan pembersihan.
Gatot berharap pemerintah bisa lebih serius mendukung produksi bawang agar stok di pasaran tidak selalu bergantung pada pasokan dari luar negeri.
Pasalnya, jika produksi bawang merah di Indonesia mencukupi kebutuhan pasar, harga akan lebih stabil dan masyarakat tidak perlu khawatir dengan lonjakan harga.
“Kalau stok lokal bagus dan panen berhasil, insyaallah kebutuhan bawang di Indonesia bisa tercukupi. Tapi kalau gagal panen, mau tidak mau kita harus mendatangkan dari luar negeri,” pungkasnya. (*)
Penulis: Ahmad Rifa’i
Editor: Ufqil Mubin












