Search

Hambatan Utama Pendudukan Gaza

Zionis berusaha melakukan pendudukan penuh terhadap Jalur Gaza. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF.COM – Para pakar Zionis menyoroti biaya besar dari pendudukan Kota Gaza dan menilai bahwa langkah ini, bahkan jika berhasil, akan menimbulkan tekanan finansial besar terhadap ekonomi Tel Aviv.

Menurut laporan Al Jazeera yang dikutip oleh Mehr News, Kementerian Keuangan rezim Zionis saat ini sedang melakukan audit besar-besaran untuk menghitung biaya operasi militer, termasuk terkait pendudukan Gaza.

Berdasarkan laporan media Israel, sejauh ini baik di kabinet maupun di Knesset belum ada pembahasan terkait biaya masif pendudukan Gaza, meski beban besar ini akan sangat memengaruhi anggaran dan ekonomi rezim tersebut. Meski demikian, pejabat senior Kementerian Keuangan dan mantan petinggi keuangan militer Israel telah menyebutkan angka-angka fantastis untuk menutup biaya eskalasi perang dan pendudukan Gaza. Kabinet Israel bahkan telah menyetujui operasi ini tanpa membahas masalah biaya, hanya menekankan kekhawatiran atas banyaknya korban militer akibat perang yang semakin meluas.

Menurut Channel 12 Israel, biaya yang diperkirakan untuk melaksanakan operasi militer yang diputuskan kabinet, jika berlangsung kurang dari 3 bulan, mencapai sekitar 45 miliar syekel. Dengan perhitungan sederhana, biaya mobilisasi cadangan saja mencapai sekitar 7,5 miliar syekel per bulan.

Selain pemanggilan pasukan baru di Gaza, ada pula biaya amunisi, bahan bakar, dan kebutuhan lain yang diperkirakan mencapai 12–15 miliar syekel per bulan. Itu di luar biaya operasi militer Gideon’s Chariots yang sudah mencapai setidaknya 25 miliar syekel.

Para pakar keuangan Israel menegaskan bahwa perhitungan ini hanya terkait pendudukan Kota Gaza dan belum termasuk biaya administrasi pemerintahan militer. Menurut perhitungan Kementerian Pertahanan Israel, biaya tahunan untuk menjalankan pemerintahan militer di Gaza mencapai sekitar 20 miliar syekel.

Harian Zionis Yedioth Ahronoth menilai keputusan kabinet untuk menduduki Gaza akan menimbulkan masalah besar, terutama karena keterlambatan penyusunan rancangan anggaran 2026. Para analis meyakini biaya ini akan menimbulkan kerugian serius bagi ekonomi Israel.

Pejabat Kementerian Keuangan dan lembaga keamanan Israel memperkirakan: Biaya mobilisasi sekitar 250 ribu tentara cadangan serta biaya penggunaan amunisi dan peralatan sekitar 350 juta syekel per hari.

Dengan perhitungan itu, beban finansialnya diperkirakan 10–11 miliar syekel per bulan, dan mencapai 30–50 miliar syekel hingga akhir 2025.

Para analis Zionis bahkan memperkirakan bahwa dengan tambahan biaya pemerintahan militer Gaza, total beban bisa mencapai angka fantastis 120–180 miliar syekel, yang kemungkinan besar akan menyebabkan pajak tinggi serta pemangkasan besar-besaran layanan publik di kementerian-kementerian Israel.

Hagai Amit, analis ekonomi di harian The Marker, memperingatkan tentang konsekuensi serius dari pendudukan penuh Jalur Gaza. Menurutnya, keputusan kabinet tersebut merupakan salah satu kebijakan paling mahal dalam perang saat ini dan bisa membawa beban ekonomi yang sangat besar bagi Israel.

Ia mencontohkan, jika operasi Gideon’s Chariots sudah menghabiskan sekitar 25 miliar syekel dalam dua bulan, maka menguasai seluruh Jalur Gaza—yang diperkirakan memakan waktu 5 bulan dengan kebutuhan 5 divisi militer—akan menelan biaya setidaknya dua kali lipat dari itu.

Gadi Lior, jurnalis Yedioth Ahronoth, juga memperkirakan pendudukan penuh Gaza akan memberi pukulan baru bagi ekonomi Tel Aviv, dengan biaya tahunan mencapai 120–180 miliar syekel.

Jika operasi pendudukan Gaza benar-benar dijalankan, hal ini akan menurunkan peringkat kredit Israel, menambah beban pajak warga, memangkas layanan vital seperti kesehatan, kesejahteraan sosial, dan pendidikan, serta meningkatkan tekanan terhadap pasukan cadangan dan keluarga mereka.

Sejauh ini, biaya perang Israel sudah mencapai sekitar 300 miliar syekel, dan seluruhnya harus ditanggung oleh para pemukim Zionis. (*)

Sumber: Mehr News
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA