BERITAALTERNATIF.COM – Biasanya, istilah “anak” digunakan untuk mereka yang masih di bawah umur, namun ada juga orang lanjut usia yang berbicara dan berperilaku seperti anak-anak, sehingga menimbulkan masalah bagi masyarakatnya.
Donald Trump, presiden Amerika Serikat, adalah contoh dari “anak tua” tersebut. Dalam psikologi, individu dengan masalah perilaku tertentu—seperti gangguan dalam berbicara, inkonsistensi perilaku, kebutuhan konstan akan perhatian, dan terkadang komplikasi psikologis yang lebih serius—sering menunjukkan pola ekspresi dan tindakan yang belum matang. Bahkan di usia lanjut, mereka masih bisa berbicara dan bereaksi dengan cara yang mencerminkan aspek masa kanak-kanak yang belum terselesaikan.
Mengenai Trump, sering dikatakan bahwa tuduhan seputar perilaku tidak pantasnya selama kunjungan ke Rusia, serta kontroversi yang terkait dengan pulau Jeffrey Epstein, ditambah dengan sifat narsistiknya, telah memengaruhi penilaian dan keseimbangan mentalnya. Kondisi-kondisi ini membuat Trump, layaknya seorang anak, terjebak dalam pikirannya sendiri—jauh dari realitas dan tenggelam dalam ambisi simbolik yang tidak terpenuhi.
Terlepas dari pernyataan-pernyataan subjektif dan tidak realistis Trump pada awal periode kedua kepresidenannya—seperti menambahkan Kanada dan Meksiko ke AS, membeli Greenland, menguasai Terusan Panama, atau mengklaim mampu mengakhiri delapan perang—retorikanya berulang kali mencerminkan keterputusan dari realitas politik.
Terkait Iran, suatu hari ia berbicara tentang mencapai keputusan baik melalui negosiasi, keesokan harinya mengancam perang dan kehancuran, dan di hari lain berbicara tentang menentukan kepemimpinan Iran. Pada satu titik, dalam imajinasinya, ia menyatakan pembukaan Selat Hormuz, lalu kemudian menyarankan bahwa jika negara lain menginginkan minyak, mereka sendiri yang harus membuka selat tersebut. Bahkan setelah minggu kedua perang yang dipaksakan Amerika–Israel terhadap Iran, presiden AS ini terus mengeluarkan pernyataan yang saling bertentangan.
Pernyataan Trump sering kali begitu kontradiktif sehingga hanya sedikit orang di dunia yang masih menganggapnya serius. Janji-janjinya tidak lagi dipandang kredibel, dan reaksi publik semakin menjadikan pernyataannya sebagai bahan humor politik.
Perilaku Trump—dan fakta bahwa untuk kedua kalinya ia tertipu oleh Benjamin Netanyahu dan terseret ke dalam perang dengan Iran dari balik meja perundingan—tidak dapat diterima tidak hanya oleh rakyat Amerika, tetapi juga oleh masyarakat dunia.
Sekutu-sekutu Arab kini tidak lagi dapat mempercayai “anak Amerika” ini. Mereka telah memahami dengan jelas bahwa pangkalan militer Amerika di Teluk Persia pada akhirnya dirancang untuk membela kepentingan Israel. Saat ini, banyak orang di dunia melihat Trump hanya sebagai sosok narsistik yang perilakunya telah menyebabkan penderitaan baik bagi AS maupun secara internasional.
Pada kenyataannya, kekuatan Amerika kini berada di tangan seseorang yang tampak mabuk oleh citra dirinya sendiri dan kurang memiliki kendali diri—seseorang yang terlepas dari realitas objektif dan abai terhadap nilai-nilai kemanusiaan, norma hukum, bahkan prinsip-prinsip agama. Sikap egosentrisnya telah mendorong Amerika ke dalam situasi yang berbahaya.
Trump, dengan mentalitas dan persepsi keliru ini, tidak dapat menerima melemahnya pengaruh militer Amerika dan Israel. Ia mengabaikan kemunduran strategis posisi militer AS di Asia Barat dan terus bermimpi setiap malam untuk membuka kembali Selat Hormuz serta menurunkan harga minyak pada pagi harinya.
Analisis dan kajian yang ada—bahkan oleh sebagian sekutu Trump sendiri—menunjukkan bahwa baik AS maupun rezim Israel telah mengalami kerugian dalam perang, termasuk korban jiwa. Perkembangan ini mencerminkan kesalahan perhitungan strategis besar oleh Amerika, yang sayangnya terus berlanjut di bawah ketidakmatangan politik yang narsistik ini.
Hari ini, para pemimpin dunia dan rakyat Amerika—terutama mereka yang benar-benar memikirkan kepentingan AS—harus mempertimbangkan bagaimana membatasi kepresidenan ini dan menyusun rencana serius untuk menghadapi konsekuensinya.
Saat ini, posisi militer, ekonomi, dan politik Amerika telah melemah secara signifikan akibat perang dengan Iran. Oleh karena itu, negara-negara besar dan berpengaruh mungkin juga melihat momen ini sebagai peluang untuk bergerak menuju pembentukan tatanan dunia baru—yang tidak lagi terlalu bergantung pada kehadiran Amerika. (*)
Sumber: Mehr News












