BERITAALTERNATIF.COM – Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat menolak sebuah resolusi yang bertujuan membatasi kewenangan Presiden AS Donald Trump untuk memperluas operasi militer terhadap Iran, sehingga secara efektif memungkinkan kampanye militer tersebut terus berlanjut.
DPR AS pada Kamis (5/3/2026) menolak langkah yang berusaha membatasi kewenangan Trump untuk melaksanakan operasi militer lebih lanjut terhadap Iran.
Hasil ini menyusul pemungutan suara serupa di Senat sehari sebelumnya, ketika para senator juga menolak upaya untuk membatasi kewenangan perang pemerintah terkait Iran.
Pemungutan suara di DPR gagal dengan hasil 212 berbanding 219, yang secara efektif memungkinkan pemerintahan melanjutkan kampanye militernya tanpa pembatasan baru dari Kongres. Usulan tersebut berupaya menerapkan War Powers Resolution, yang akan mewajibkan presiden meminta persetujuan Kongres sebelum memperluas permusuhan militer.
Pemungutan suara sebagian besar terjadi berdasarkan garis partai. Mayoritas Partai Republik menolak resolusi tersebut, sementara sebagian besar Partai Demokrat mendukungnya.
Dua anggota Partai Republik, Thomas Massie dari Kentucky dan Warren Davidson dari Ohio, bergabung dengan Demokrat untuk mendukung resolusi itu. Sementara itu, empat anggota Demokrat justru memberikan suara menentangnya.
Para pendukung resolusi berpendapat bahwa Kongres harus menegaskan kembali kewenangan konstitusionalnya dalam keputusan perang.
“Bahaya moral dari pemerintah yang tidak lagi dibatasi oleh konstitusi merupakan ancaman serius,” kata Davidson dalam pidatonya sebelum pemungutan suara.
Sebaliknya, pihak yang menentang resolusi memperingatkan bahwa membatasi kewenangan presiden di tengah konflik dapat melemahkan keamanan nasional. Ketua DPR AS, Mike Johnson, mengatakan bahwa menyetujui resolusi tersebut akan “memberdayakan musuh-musuh kita.”
Pemungutan suara ini terjadi setelah beberapa pengarahan tertutup dari pejabat senior pemerintahan yang membuat anggota parlemen dari kedua partai mempertanyakan berapa lama kampanye militer itu akan berlangsung.
Beberapa anggota Partai Republik menyuarakan kekhawatiran tentang kemungkinan konflik berkepanjangan atau pengerahan pasukan darat AS, meskipun sebagian besar tetap mendukung serangan tersebut.
Sementara itu, Partai Demokrat menyatakan bahwa pemerintah belum memberikan alasan yang cukup maupun transparansi mengenai serangan terhadap Iran.
Seiring berlanjutnya perang, Pentagon diperkirakan akan mengajukan permintaan dana tambahan kepada Kongres untuk menutupi biaya operasi militer tersebut.
Analisis dari Center for Strategic and International Studies yang dikutip oleh CNN menunjukkan bahwa Washington telah menghabiskan lebih dari 890 juta dolar per hari sejak perang dimulai.
Sebelumnya, Senat AS pada Rabu memberikan suara 53 berbanding 47 untuk menolak resolusi yang akan mewajibkan persetujuan Kongres sebelum serangan militer tambahan terhadap Iran dilakukan, yang secara efektif mendukung perang yang dijalankan oleh Trump.
Pemungutan suara juga sebagian besar terbelah berdasarkan garis partai, dengan senator Republik bersatu untuk menggagalkan langkah tersebut.
Senator Rand Paul dari Kentucky, salah satu pengusul resolusi, menjadi satu-satunya anggota Partai Republik yang mendukungnya. Sementara itu, senator Demokrat dari Pennsylvania, John Fetterman, justru mendukung serangan tersebut sehingga memberi tambahan dukungan bagi pimpinan Partai Republik untuk mengalahkan resolusi itu.
Hasil ini mencerminkan pemungutan suara serupa pada Juni tahun lalu, ketika Senat juga menolak upaya membatasi Trump setelah serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir Iran. (*)
Sumber: Al Mayadeen












