Search

“Diplomasi Pemaksaan”: Amerika Serikat Sekali Lagi Meledakkan Meja Perundingan

Amerika Serikat sejak beberapa saat lalu, dengan memulai serangan udara terhadap sejumlah wilayah di Iran, secara praktis sekali lagi telah membuat meja perundingan dan dialog menjadi tidak berarti melalui pelanggaran gencatan senjata secara terang-terangan. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF.COM – Bersamaan dengan dimulainya serangan udara terhadap sejumlah wilayah di Iran, pasukan teroris Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) di Asia Barat menyatakan bahwa beberapa saat lalu, atas perintah Presiden AS Donald Trump, mereka telah memulai serangan terhadap Iran.

Tadi malam juga, pasukan teroris Amerika, dengan alasan jatuhnya helikopter Apache di dekat Selat Hormuz, menyerang wilayah selatan Iran melalui serangan udara. Serangan itu mendapat respons keras, tegas, dan segera dari angkatan bersenjata Iran, yang kemudian membombardir pangkalan serta kepentingan Amerika di Yordania, Bahrain, dan Kuwait.

Perintah Presiden Amerika untuk melancarkan gelombang baru serangan terhadap Iran terjadi dalam situasi ketika sehari sebelumnya ia mengklaim bahwa pembicaraan dengan Iran berjalan baik dan bahwa “kesepakatan sudah sangat dekat.”

Sekilas, perilaku Presiden Amerika tersebut tampak kontradiktif. Namun, jika memperhatikan tindakan, pernyataan, dan kinerja Trump, terlihat bahwa ia menginginkan bentuk dialog tertentu: ia berharap Republik Islam Iran menerima seluruh tuntutan berlebihannya, sementara Washington tidak memberikan konsesi apa pun. Inilah yang disebutnya sebagai “penyerahan tanpa syarat.”

Namun kenyataan jauh berbeda dari bayangan dan fantasi Presiden Amerika. Perang Ramadan serta kekuatan militer, solidaritas sosial, dan dukungan rakyat Iran menunjukkan bahwa Amerika harus menerima kenyataan bahwa bangsa Iran “tidak dapat ditundukkan” dan akan mempertahankan kemerdekaan serta martabatnya dengan seluruh kemampuan.

Meskipun Iran tidak pernah menjauh dari dialog yang setara dan kesepakatan yang adil, serta tidak menginginkan perang, sejarah negara ini menunjukkan bahwa rakyat Iran tidak akan tunduk terhadap tekanan dan kesewenang-wenangan. Mereka akan memberikan pelajaran yang membuat para penyerang menyesal.

Trump, pemerintah Amerika, dan rezim Zionis memulai Perang Ramadan dengan anggapan bahwa melalui serangan besar-besaran serta pembunuhan terhadap pemimpin, komandan, dan pejabat tinggi, mereka dapat membuat Republik Islam meninggalkan alat-alat pertahanan rakyat Iran, menyerah, dan kemudian bertindak sesuai keinginan Washington.

Keteguhan dan kekuatan angkatan bersenjata Iran dalam menghadapi agresor, serta perlawanan historis rakyat Iran dalam Perang Ramadan, pada akhirnya membuat Amerika terpaksa menyetujui gencatan senjata. Mereka berharap apa yang tidak mereka dapatkan di medan perang bisa diperoleh di meja perundingan melalui diplomasi. Namun, di meja perundingan pun mereka menghadapi perlawanan bermartabat dari para diplomat Iran.

Para pejabat politik senior dan angkatan bersenjata Iran berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak menginginkan kelanjutan perang, tetapi mereka tidak menerima perang yang dipaksakan dan “diplomasi pemaksaan”. Mereka akan tetap berdiri dengan seluruh kemampuan menghadapi tuntutan berlebihan para penyerang, baik di medan perang maupun di arena diplomasi, serta membela kepentingan rakyat Iran.

Beberapa saat lalu, bersamaan dengan dimulainya serangan baru Amerika terhadap wilayah selatan Iran, situs Axios mengutip pejabat Amerika yang menyatakan bahwa: “Tujuan serangan ini adalah memberikan tekanan kepada Teheran agar menandatangani kesepakatan, tetapi tindakan tersebut dapat menyebabkan eskalasi ketegangan militer.”

Sementara itu, Wall Street Journal juga mengutip pejabat Pentagon yang mengatakan: “Serangan ini dilakukan dalam kerangka diplomasi pemaksaan, dan tujuannya adalah memaksa Iran memberikan konsesi dalam meja perundingan.” (*)

Sumber: Mehr News

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA