Search

Dari Kebuntuan Israel Menghadapi Hizbullah hingga Krisis di Tubuh Militer Rezim Zionis

Laporan ini memantau dan mengkaji isu-isu serta materi terpenting yang dimuat media-media rezim Zionis dalam tujuh hari terakhir.  (Mehr News).

BERITAALTERNATIF – Dalam sepekan terakhir, media-media Israel menampilkan gambaran yang cukup jelas tentang krisis internal yang mendalam serta tekanan eksternal yang terus meningkat terhadap rezim ini. Israel yang selama bertahun-tahun berusaha menampilkan diri sebagai kekuatan militer dan ekonomi kawasan, kini menghadapi rangkaian tantangan kompleks yang melampaui sekadar ketegangan militer. Mulai dari retakan sosial, melemahnya kepercayaan para sekutu, hingga tekanan ekonomi dan keamanan, semuanya berpadu menciptakan situasi yang rapuh. Pemberitaan mengenai kontrak militer yang penuh misteri dengan negara-negara kawasan, rencana ambisius pembangunan kembali Gaza melalui proyek ekonomi berskala besar, serta peringatan keamanan tentang ancaman siber Iran, menunjukkan upaya Israel untuk mempertahankan posisinya di kawasan. Namun pada saat yang sama, rezim ini berhadapan dengan keterbatasan serius serta tekanan internal dan internasional yang semakin berat. Krisis komunitas Haredi, penurunan kualitas sumber daya manusia di militer, serta kegagalan pemerintah dalam mengelola ketidakpuasan politik dan sosial, semakin menyingkap rapuhnya struktur internal rezim. Dalam kondisi seperti ini, kebijakan militer dan ekonomi Israel tidak hanya mengancam stabilitas domestik, tetapi juga meningkatkan risiko benturan langsung dengan negara-negara kawasan dan eskalasi konflik. Laporan ini menyajikan telaah komprehensif atas berita dan analisis media-media Israel selama sepekan terakhir, dengan fokus pada dimensi internal dan regional dari krisis yang sedang berlangsung.

Uni Emirat Arab, Pembeli Misterius Kontrak Militer Israel

Harian The Jerusalem Post dalam laporan berjudul “Uni Emirat Arab Diungkap sebagai Pembeli Misterius Kontrak 2,3 Miliar Dolar Elbit” mengutip situs Intelligence Online yang menyebut Uni Emirat Arab sebagai pembeli rahasia kontrak baru dan besar senilai 2,3 miliar dolar AS dari perusahaan militer Israel, Elbit Systems, yang ditandatangani bulan lalu. Seperti kontrak sebelumnya dengan Serbia senilai 1,63 miliar dolar pada Agustus lalu, Elbit kembali memilih untuk bersikap tertutup terkait isi kontrak dan identitas negara pembeli, bahkan tanpa menyebutkan kawasan atau benuanya. Sikap ambigu dan penuh kerahasiaan dalam kontrak persenjataan ini mencerminkan kelanjutan kebijakan Israel dalam mendorong pasar regional dan internasional membeli perlengkapan militer tanpa transparansi penuh. Israel tampak berupaya memperluas kekuatan militer dan pengaruh ekonominya di Asia Barat, terutama di tengah krisis internal dan meluasnya ketidakpuasan publik di dalam negeri.

Pembangunan Kembali Gaza ala Trump

Harian Yedioth Ahronoth dalam laporan berjudul “Rafah Baru: Rencana ‘Riviera Gaza’ Witkoff dan Kushner dengan Hotel Mewah dan Jaringan Kecerdasan Buatan” mengungkap sebuah proyek ambisius untuk membangun kembali Gaza. Proyek yang disebut “Proyek Fajar” ini mencakup pembangunan hotel-hotel mewah di pesisir, jalur kereta cepat, serta jaringan listrik pintar berbasis kecerdasan buatan.

Menurut laporan tersebut, program yang diperkirakan memakan waktu minimal 10 tahun dan mungkin hingga 20 tahun ini mencakup rekonstruksi kota-kota yang hancur, pembangunan jaringan listrik pintar berbasis AI, hotel-hotel mewah di sepanjang pantai, dan jalur kereta berkecepatan tinggi. Tujuan akhirnya adalah mengubah 70 persen garis pantai Gaza menjadi “Riviera Timur Tengah” dan menciptakan sumber pendapatan berkelanjutan melalui investasi ekonomi. Pelaksanaan rencana ini disyaratkan pada perlucutan senjata total Hamas serta pembersihan terowongan dan persenjataannya. Tahap awal meliputi pembersihan puing, penghilangan amunisi yang belum meledak, dan penyediaan hunian sementara bagi warga. Rekonstruksi dimulai dari Rafah, lalu Khan Younis dan wilayah tengah Gaza, hingga akhirnya Kota Gaza, dengan Rafah ditetapkan sebagai ibu kota baru Jalur Gaza. Pada fase kedua, Rafah akan menampung lebih dari 500 ribu orang dalam lebih dari 100 ribu unit hunian lengkap dengan sekolah, fasilitas medis, dan pusat budaya. Biaya dekade pertama diperkirakan melebihi 112 miliar dolar, dengan Amerika Serikat berkomitmen menanggung 20 persennya, sementara negara-negara kaya kawasan diharapkan ikut menutup sisanya. Meski demikian, banyak pejabat AS meragukan kelayakan proyek ini selama Hamas belum dilucuti dan risiko konflik kembali masih ada. Rencana ini, meski dibungkus narasi pembangunan ekonomi, dinilai bertujuan mengontrol jangka panjang penduduk dan sumber daya Gaza, dengan dampak kemanusiaan, sosial, dan politik yang sangat mengkhawatirkan.

Iran dan Ancaman Siber

Harian Haaretz melalui tulisan Omer Ben-Yakob berjudul “Iran Diduga Melakukan Operasi Infiltrasi terhadap Masyarakat Arab Saat Pemilu Penting Israel Mendekat” menyoroti dugaan aktivitas siber Iran. Media ini mengklaim adanya jaringan avatar, LSM palsu, dan majalah daring fiktif yang berhasil mengumpulkan puluhan ribu pengikut dan menipu partai politik serta jurnalis. Laporan ini menunjukkan kekhawatiran serius Israel terhadap pengaruh Iran di ruang siber dan media sosial, serta potensi dampaknya terhadap politik domestik dan hasil pemilu.

Kerusuhan Haredi di Yerusalem

Harian The Times of Israel melaporkan dalam artikel “13 Polisi Terluka dalam Kerusuhan Kaum Ultra-Ortodoks di Yerusalem” bahwa ratusan pemuda Haredi bentrok dengan polisi hingga melukai 13 petugas. Kerusuhan dipicu oleh penyerangan terhadap petugas kota yang mengeluarkan tilang parkir. Insiden ini mencerminkan krisis sosial dan politik yang mendalam di kalangan Haredi, yang menentang hukum militer dan sipil serta bersedia menggunakan kekerasan demi mempertahankan keistimewaan mereka.

Ancaman Haredi dan Respons Partai

Kanal 13 Israel melaporkan bahwa para pemimpin partai Shas dan United Torah Judaism memperingatkan aksi-aksi kekerasan dan blokade jalan sebagai respons atas rancangan undang-undang wajib militer. Situasi ini menempatkan pemerintah Israel dalam posisi sulit dan mengancam stabilitas sosial.

Penutupan Radio Militer Israel

The Jerusalem Post melaporkan rencana Menteri Perang Israel untuk menutup Radio Angkatan Bersenjata setelah 75 tahun mengudara. Keputusan ini menuai kritik dan dikhawatirkan akan mengurangi transparansi serta memperkuat kontrol politik atas media.

Risiko Perang dengan Iran

Harian Israel Hayom memperingatkan bahwa satu kesalahan perhitungan dapat memicu perang baru antara Israel dan Iran. Meski Iran dinilai tidak menginginkan perang terbuka, kekhawatiran akan serangan mendadak tetap tinggi, sehingga risiko eskalasi akibat salah tafsir sangat besar.

Penurunan Kualitas Personel Militer

Dalam laporan lain, Israel Hayom mengungkap krisis serius dalam jajaran perwira profesional IDF. Kekurangan personel membuat promosi dilakukan tanpa seleksi kualitas memadai, melemahkan kemampuan militer Israel secara signifikan.

Kegagalan Penyelidikan Kabinet

The Times of Israel menyoroti kritik keluarga korban perang terhadap pembentukan komite investigasi pemerintah yang dinilai tidak independen, mencerminkan rendahnya kepercayaan publik terhadap pemerintah.

Kebijakan Militer dan Pembangunan Pangkalan di Gaza

Yedioth Ahronoth melaporkan pernyataan Menteri Perang Israel bahwa Israel tidak akan pernah sepenuhnya meninggalkan Gaza dan berencana membangun pangkalan baru di wilayah utara.

Pemilu Dini dan Krisis Politik

Media yang sama juga melaporkan kemungkinan pemilu dini di tengah meningkatnya konflik internal koalisi dan melemahnya kemampuan pemerintahan Netanyahu.

Kekuatan Hizbullah dan Keterbatasan Tentara Lebanon

Kanal 7 Israel mengutip analis Zvi Yehezkeli yang menilai tentara Lebanon tidak mampu melucuti senjata Hizbullah, karena pengaruh mendalam kelompok itu di dalam struktur negara.

Kesimpulan

Rangkaian laporan media Israel selama sepekan terakhir menggambarkan kondisi rezim Zionis yang berada dalam situasi krisis dan ketidakstabilan serius. Akumulasi masalah internal, tekanan regional, kebijakan militer agresif, dan melemahnya kohesi sosial menunjukkan bahwa Israel tidak sedang berada pada posisi kuat, melainkan menghadapi masa depan yang penuh risiko, biaya tinggi, dan ketegangan berkepanjangan. (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf

 

 

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA