Search

China Menilai Perlu Ada Langkah Iran dan Negara-Negara Tetangganya Menuju Mekanisme Keamanan demi Stabilitas Teluk Persia

Pandangan Beijing tentang Timur Tengah mengingatkan bahwa stabilitas Teluk Persia pada akhirnya menuntut kerja sama Iran dengan negara-negara tetangganya serta pergerakan menuju pengaturan keamanan yang lebih rendah ketegangannya. Dengan kata lain, meskipun Amerika Serikat dan Iran tetap menjadi rival strategis, stabilitas kawasan bergantung pada interaksi yang pragmatis, bukan pada konfrontasi militer. (Mehr News).

BERITAALTERNATIF – Situs berita-analisis Al Ahram Online dalam sebuah laporan berjudul “China dan Timur Tengah: Transformasi Senyap, Dampak yang Besar”, yang ditulis oleh Ahmed Kandil, peneliti, penulis, dan analis terkemuka asal Mesir di bidang politik internasional serta hubungan Timur Tengah dengan kekuatan besar, menulis bahwa selama beberapa dekade Timur Tengah ditandai oleh perang, intervensi asing, dan persaingan permanen antarnegara adidaya. Dari kehadiran pasukan Amerika Serikat di Baghdad hingga serangan udara Rusia di Suriah, dari permukiman Israel hingga Poros Perlawanan yang dipimpin Iran, kawasan ini kerap tampak seperti papan catur bagi kekuatan eksternal.

Namun demikian, sebuah konferensi yang baru-baru ini digelar di Beijing menunjukkan bahwa Timur Tengah mungkin sedang memasuki fase yang lebih tenang sekaligus lebih kompleks, sebuah fase di mana pengaruh ekonomi, teknologi, dan diplomasi pragmatis semakin menentukan arah hasil, sementara keunggulan militer konvensional perlahan turun ke posisi sekunder. Konferensi yang berlangsung pada November 2025 itu mengusung tema “China dan Timur Tengah: Bergandengan Tangan demi Perdamaian dan Pembangunan Regional”, dan menghadirkan para pakar dari China, Mesir, Amerika Serikat, Eropa, Rusia, Iran, serta Arab Saudi. Konferensi ini dipimpin oleh Profesor Wu Bingbing dari Universitas Peking dan diselenggarakan bersamaan dengan forum yang lebih luas bertajuk “Understanding China 2025”.

Hal yang paling menonjol dari forum tersebut adalah cara pandang China yang pragmatis terhadap Timur Tengah. Kawasan ini, sebagaimana sering digambarkan, tidak sedang meluncur menuju kekacauan, melainkan tengah menjalani proses penataan ulang strategis. Beijing memandang bahwa lanskap kawasan tidak lagi ditentukan oleh perang proksi atau konflik ideologis, melainkan oleh konflik lokal, perubahan keseimbangan kekuatan regional, dan naiknya pengaruh ekonomi secara bertahap. Inti dari pandangan ini adalah kesadaran bahwa dominasi Amerika Serikat tidak lagi bersifat mutlak. Meskipun Washington masih memiliki aset militer yang besar dan lebih dari 40 ribu tentaranya ditempatkan di kawasan, kemampuannya untuk membentuk perubahan dinilai semakin terbatas.

Krisis yang terjadi, mulai dari Yaman hingga Lebanon, Suriah, Sudan, Libya, dan Gaza, semakin banyak bersumber dari dinamika internal, konflik identitas, perebutan kekuasaan lokal, serta rivalitas regional, alih-alih menjadi hasil dari rekayasa strategis ibu kota-ibu kota yang jauh. Dalam konteks baru ini, para aktor regional tidak lagi bersikap pasif, melainkan telah menjadi perancang aktif atas krisis mereka sendiri, dan mungkin juga atas solusi-solusinya.

Pemahaman China terhadap tingkat keterlibatan Amerika Serikat dinilai akurat dan berlapis. Washington masih mengandalkan pihak-pihak perantara, khususnya Israel, untuk melindungi kepentingannya, namun pendekatan ini pun menghadapi berbagai keterbatasan yang diperparah oleh ketegangan antara prioritas strategis Amerika Serikat dan dinamika politik domestik Israel. Iran dipandang sebagai tantangan ganda, baik secara strategis maupun ideologis. Meski begitu, Beijing menekankan bahwa stabilitas Teluk Persia pada akhirnya mengharuskan Iran untuk terlibat dengan negara-negara tetangganya dan bergerak menuju pengaturan keamanan yang lebih tidak tegang. Dengan kata lain, meskipun Amerika Serikat dan Iran tetap menjadi rival strategis, stabilitas kawasan bergantung pada keterlibatan yang bersifat praktis, bukan pada konfrontasi militer.

Para analis China juga mencermati dengan saksama ambisi dan manuver Israel. Konflik di Gaza kerap digambarkan sebagai bencana kemanusiaan yang memperlihatkan jurang yang semakin lebar antara tujuan resmi Amerika Serikat dan realitas di lapangan. Ekspansi regional Israel di Tepi Barat, Yerusalem, dan sebagian wilayah Suriah dipandang sebagai upaya untuk mengukuhkan pengaruh di tengah perubahan regional yang dinamis, khususnya dengan adanya potensi kerja sama Iran dan Turki. Pada saat yang sama, inisiatif normalisasi yang diprakarsai Amerika Serikat, seperti Kesepakatan Abraham, dipandang dengan skeptisisme. Berlanjutnya konflik dan kerasnya kebijakan Israel membuat kemajuan jangka pendek dinilai sulit terwujud.

Yang tak kalah penting adalah fokus China pada transformasi ekonomi di kawasan Teluk Persia. Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar tidak hanya melakukan diversifikasi ekonomi, tetapi juga sedang mendefinisikan ulang peran regional mereka. Inisiatif kecerdasan buatan, koridor perdagangan yang menghubungkan India dengan Eropa, serta proyek-proyek infrastruktur strategis, tengah membentuk ulang geografi ekonomi kawasan. Dari sudut pandang Beijing, perkembangan ini merupakan peluang, bukan ancaman. Negara-negara Teluk Persia dinilai mampu menjaga hubungan yang seimbang dengan China dan Amerika Serikat, sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada payung militer Amerika sekaligus memperdalam hubungan dagang dan teknologi dengan China.

China hadir sebagai kekuatan ekonomi, bukan militer. Melalui Inisiatif Sabuk dan Jalan serta kesepakatan perdagangan berskala besar, Beijing telah menjadi pengimpor minyak dan gas terbesar dari Timur Tengah. Total nilai perdagangan bilateral China dengan kawasan ini mendekati 500 miliar dolar AS, atau sekitar tiga kali lipat dari total perdagangan dengan Amerika Serikat, sementara penjualan senjata China masih relatif kecil. Para analis China menegaskan bahwa persaingan antara Amerika Serikat dan China di Timur Tengah bersifat ekonomi dan teknologi, bukan militer, serta berfokus pada energi, logistik, dan inovasi, bukan pada tank atau pesawat tempur.

Pendekatan yang diusung para pakar China ini membuka ruang bagi bentuk kerja sama yang tidak konvensional. Baik Beijing maupun Washington sama-sama berkepentingan menjaga stabilitas pasar energi dan menghindari konflik berskala besar. Di sisi lain, negara-negara kawasan dapat mempertahankan hubungan yang seimbang dengan kedua kekuatan tersebut. Timur Tengah kini memasuki fase di mana pengaruh ekonomi lebih dominan dibandingkan keunggulan militer, dan persaingan strategis semakin berlangsung melalui perdagangan, teknologi, serta investasi.

Peran China ke depan kemungkinan besar akan terfokus pada kemitraan pembangunan dan inovasi, bukan pada kekuatan militer. Hal ini dipandang sebagai peluang yang belum pernah ada sebelumnya untuk mendorong integrasi, stabilitas, dan pertumbuhan kawasan. Pada saat yang sama, Beijing berupaya memperluas pengaruhnya tanpa memicu konflik politik atau militer. Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, China menilai bahwa Timur Tengah dapat menjadi arena pendekatan dan kerja sama, bukan ajang konfrontasi regional, serta bahwa peta jalan kawasan dapat digambar bukan dengan kekerasan, melainkan melalui bahasa kepentingan bersama. Dari Beijing, perlahan terbentuk gambaran Timur Tengah baru, Timur Tengah yang ditandai oleh pragmatisme, inovasi ekonomi, dan diplomasi yang luwes. China memandang kawasan ini sebagai ladang peluang, sementara Amerika Serikat melihatnya sebagai wilayah dengan kepentingan strategis. Dalam realitas baru ini, Timur Tengah berpotensi keluar dari pusaran konflik yang tak berkesudahan dan menapaki jalur yang menggantikan perang serta persaingan dengan pembangunan, kerja sama, dan keterlibatan praktis. Bagi para pembuat kebijakan, analis, dan masyarakat luas, perubahan ini merupakan pergeseran penting yang layak dipahami, dan mungkin juga layak untuk diinvestasikan. (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf

 

 

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA