Search

Perempuan Dunia Selatan Anti-Imperialis: Pelajaran dari Iran, Kuba, Palestina, dan Lebanon

Perempuan Dunia Selatan menjadi garda terdepan dalam melawan imperialisme dan kolonialisme Barat. (Al Mayadeen)

BERITAALTERNATIF.COM – Peristiwa tahun 2026 menegaskan sebuah pelajaran mendasar: setiap eskalasi imperialis melahirkan respons feminis yang lebih terorganisir dan lebih kuat.

Di saat bom-bom Amerika Serikat dan Israel menebar kematian di Iran, sementara ancaman terhadap Kuba meningkat dan genosida terhadap rakyat Palestina terus berlangsung, semakin penting untuk mendefinisikan kembali peran perempuan dalam perjuangan Dunia Selatan.

Pada musim semi 2026, agresi imperialis meningkat tajam: blokade energi terhadap Kuba mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, pendudukan Israel memperdalam kekejamannya terhadap rakyat Palestina dan Lebanon—terutama perempuan dan anak-anak—dan perlawanan Iran menghadapi eskalasi militer yang belum pernah terjadi. Lebanon, khususnya, menyaksikan desa-desa di selatannya dihancurkan dan para perempuan dipaksa melarikan diri atau bertahan di bawah pemboman tanpa henti.

Dunia Selatan bukan sekadar kategori geografis, melainkan konsep politik yang merujuk pada bangsa-bangsa yang mengalami kolonialisme, penjarahan, dan ketergantungan yang dipaksakan. Dalam sejarah eksploitasi ini, perempuan menempati posisi khusus: tubuh mereka menjadi sasaran paling kejam dari kekerasan patriarkal dan kapitalis, tetapi di pundak mereka pula perlawanan terhadap imperialisme terus bertahan.

Menjadikan perempuan Dunia Selatan terlihat sebagai subjek sejarah berarti melampaui pandangan terbatas dan bias dari perspektif Barat yang sering kali hanya melihat mereka sebagai korban atau mengurung mereka dalam narasi yang tidak mencerminkan kenyataan kompleks yang mereka hadapi. Historiografi borjuis mengandung bias seksis yang mengabaikan atau menggambarkan mereka secara menyimpang, meski mereka memainkan peran penting dalam pembentukan identitas nasional dan perjuangan anti-imperialis. Untuk memahami persoalan ini di tengah agresi terhadap Palestina, Iran, Lebanon, dan ancaman permanen Washington terhadap Revolusi Kuba, penulis menilai perlu menggunakan konsep kelas, eksploitasi, dan perjuangan kelas.

Sebagaimana dikatakan José Carlos Mariátegui, kehidupan masyarakat tidak bisa dipahami tanpa meneliti penyebabnya: organisasi keluarga dan kondisi perempuan. Artikel ini berangkat dari premis bahwa ketangguhan perempuan Dunia Selatan bukanlah kemampuan bawaan untuk menanggung penderitaan, melainkan bentuk perjuangan kelas dan produksi kehidupan yang lebih tinggi. Ketangguhan itu disebut sebagai kekuatan politik, ekonomi, dan ilmiah yang berakar pada pengalaman sejarah kolonialisme dan patriarki, dan kini tampil dalam bentuk perlawanan anti-kolonial, pengelolaan krisis akibat blokade dan perang, serta pembangunan masa depan alternatif. Pembebasan mereka dianggap tak terpisahkan dari perjuangan rakyat mereka dan sosialisme.

Ketangguhan sebagai Kategori Politik

Kelas penguasa menciptakan teori palsu tentang “kodrat perempuan yang lemah” untuk membenarkan penindasan, mulai dari gagasan Pythagoras bahwa “ada prinsip jahat yang menciptakan kekacauan, kegelapan, dan perempuan,” hingga pernyataan Thomas Aquinas bahwa “perempuan ditakdirkan hidup di bawah otoritas laki-laki.” Ideologi semacam itu disebut melayani kolonialisme dan imperialisme.

Melawan pandangan tersebut, manusia adalah kumpulan hubungan sosial yang terus berubah secara historis. Mariátegui mengatakan, “Perempuan, seperti laki-laki, tidak lebih dari kumpulan hubungan sosial yang berubah dan beradaptasi sepanjang sejarah.” Tidak ada esensi feminin yang abadi; perempuan adalah produk sosial, dan perubahan nasib mereka menuntut perubahan masyarakat kapitalis yang dianggap sebagai penyebab perang seperti yang terjadi terhadap Iran saat ini.

Di bawah kapitalisme, keluarga dipandang memiliki fungsi ekonomi penting: reproduksi tenaga kerja. Pekerjaan domestik dan perawatan, yang mayoritas dilakukan perempuan tanpa upah, menopang pekerja dan membesarkan generasi baru buruh dengan biaya serendah mungkin bagi kapitalis. Inilah dasar “perbudakan domestik” tempat keluarga modern dibangun.

Dalam situasi krisis, perang, atau blokade—seperti pengepungan Gaza, sanksi terhadap Iran, penghancuran desa-desa Lebanon oleh bom Israel, atau blokade AS terhadap Kuba—fungsi ini semakin berat. Perempuan menjadi pengelola utama kelangkaan, memperpanjang jam kerja mereka demi memastikan keluarga tetap bertahan hidup. Namun, kondisi itu bukan hanya melahirkan penderitaan, melainkan juga aksi kolektif: kekuatan perempuan terletak pada kemampuan mereka mengubah penderitaan menjadi organisasi, kehilangan menjadi perjuangan, dan perlawanan menjadi ofensif politik.

Perempuan dalam Perang Kemerdekaan dan Perjuangan Kelas

Mambisas adalah istilah yang berasal dari kata mambí, sebutan hinaan dari Spanyol terhadap pejuang kemerdekaan Kuba yang kemudian diadopsi dengan bangga oleh patriot Kuba. Mereka disebut sebagai pembentuk bangsa. Bukan hanya segelintir pahlawan perempuan terkenal, melainkan banyak perempuan anonim yang menjalankan berbagai bentuk perjuangan.

José Martí disebut memahami peran penting perempuan. Dalam surat kabar Patria tahun 1892, ia menulis, “Perjuangan suatu bangsa akan lemah bila hati perempuan tidak ikut terlibat; tetapi ketika perempuan yang terdidik dan berbudi luhur menyucikan perjuangan dengan kasih sayangnya, perjuangan itu menjadi tak terkalahkan.”

Contohnya antara lain Mariana Grajales, ibu dari para jenderal Maceo, simbol perjuangan Kuba, yang menanamkan cita-cita kemerdekaan kepada anak-anaknya dan ikut bersama mereka ke medan perang. Ada pula Iria Mayo Martinell yang sedang hamil ketika menembus garis musuh untuk mengirim rencana militer kepada Mayor Jenderal Vicente García; ia dikhianati, dipenjara, melahirkan di penjara, lalu dibunuh dengan parang. Trinidad Lagomasino menggunakan kantong diplomatik suaminya untuk mengirim informasi kepada Tentara Pembebasan. Mereka melambangkan perang anti-kolonial di mana cinta tanah air dan keluarga menyatu dalam semangat revolusioner.

Dari Perlawanan Pribumi hingga Perang Kemerdekaan

Jauh sebelumnya, perempuan pribumi telah melawan kolonialisme. Dalam pemberontakan Túpac Amaru II, Micaela Bastidas menjadi ahli strategi yang mengatur logistik, merekrut pejuang, dan menjaga jaringan komunikasi. Ia dieksekusi dengan kejam, membuktikan bahwa memimpin perang pembebasan bukan hanya urusan laki-laki.

Di Peru Hulu, Juana Azurduy de Padilla mengangkat senjata dan memimpin pasukan Los Leales dalam lebih dari dua puluh pertempuran. Di Granada Baru, Policarpa Salavarrieta menjalankan kerja intelijen sebelum dieksekusi. Manuela Sáenz, seorang kolonel dan ahli strategi militer, menyelamatkan nyawa Simón Bolívar sehingga dikenal sebagai “Pembebas Sang Pembebas”.

Perjuangan Perempuan Budak

Di Kuba, Rosa La Bayamesa yang lahir sebagai budak ikut dalam Perang Sepuluh Tahun. Ia dikenal merawat korban luka dan bertempur di garis depan. Jenderal Máximo Gómez bahkan mengusulkan agar ia diberi pangkat Kapten Kesehatan Militer—satu-satunya perempuan yang memperoleh kehormatan tersebut.

Di wilayah Río de la Plata, María Remedios del Valle bertempur di bawah komando Jenderal Manuel Belgrano, mengalami cambukan di depan umum, namun terus berjuang dan kemudian dikenang sebagai “Ibu Bangsa”.

Abad ke-20: Perempuan dalam Revolusi

Di Sierra Maestra, tokoh-tokoh seperti Celia Sánchez, Haydée Santamaría, Vilma Espín, dan Melba Hernández bergabung dalam gerilya. Fidel Castro membentuk Peleton Perempuan Mariana Grajales.

Celia Sánchez disebut sebagai pengatur utama kedatangan kapal Granma dari Meksiko yang membawa para revolusioner ke Kuba. Haydée Santamaría, yang mengalami penyiksaan dan pembunuhan saudara serta tunangannya, kemudian memimpin Casa de las Américas dan menjadikannya pusat budaya Amerika Latin.

Setelah kemenangan revolusi, emansipasi perempuan dijadikan kebijakan negara. Federasi Perempuan Kuba (FMC) yang dipimpin Vilma Espín menjadi alat penting melawan diskriminasi. Pemerintah menerapkan hukum yang menjamin kesetaraan hukum, perceraian, aborsi, dan akses pendidikan. Rencana Ana Betancourt membawa ribuan perempuan desa ke Havana untuk belajar membaca dan menulis. Fidel Castro menyatakan pada 1965 bahwa revolusi tidak mungkin berhasil tanpa perempuan.

Kini, di tengah blokade dan ancaman AS terhadap Kuba, perempuan Kuba menduduki 53 persen kursi parlemen dan 66 persen posisi teknis serta profesional. Sebelas kementerian dipimpin perempuan. Kode Keluarga 2022 memperluas pengakuan pluralitas keluarga dan tanggung jawab bersama dalam pekerjaan domestik.

Namun keberadaan hukum ini berjalan berdampingan dengan perjuangan harian di bawah blokade. Perempuan seperti Emma, guru penderita kanker yang kekurangan obat; Rocío yang bermimpi menjadi ibu saat obat-obatan belum tersedia; dan María Eva yang melawan pemadaman listrik demi menjual kue-kue buatannya.

Perempuan dalam Perlawanan Kontemporer

Pada awal 2026, pemerintahan Donald Trump memperketat blokade terhadap Kuba dengan sanksi minyak yang menghambat pasokan bahan bakar ke pulau itu. Perempuan Kuba memimpin respons. Pada 7 April 2026, ratusan perempuan berkumpul di Taman Mariana Grajales di Havana untuk memperingati 96 tahun kelahiran Vilma Espín dan mengecam blokade energi.

Dipimpin Wakil Perdana Menteri Inés María Chapman dan Wakil Menteri Luar Negeri Josefina Vidal, mereka membawa slogan “Hentikan blokade”. FMC disebut menunjukkan bahwa perjuangan mempertahankan kedaulatan nasional dan mengelola kelangkaan tetap menjadi wilayah perjuangan feminis.

Palestina: Penyiksaan di Penjara

Situasi perempuan Palestina disebut memburuk drastis. Pada Hari Tahanan Palestina 17 April 2026, terungkap bahwa lebih dari 700 perempuan telah ditangkap sejak genosida di Gaza dimulai. Kesaksian yang dikumpulkan pengacara Sahar Francis menggambarkan sistem penjara yang dirancang untuk penghinaan sistematis: isolasi, pemaksaan telanjang, pembatasan makanan ekstrem, dan pelarangan kunjungan keluarga.

Di tingkat internasional, pada 18 Maret 2026, Komite PBB untuk Hak-Hak Rakyat Palestina mendengarkan tuntutan keadilan. Amal Syam melaporkan bahwa 33 ribu perempuan telah dibunuh oleh Israel, termasuk 9 ribu ibu. Menteri Urusan Perempuan Palestina Mona al-Khalil mempresentasikan rencana meningkatkan partisipasi perempuan dalam angkatan kerja dari 17 persen menjadi 22 persen pada 2030.

Iran: Sains dan Ketahanan

Di tengah serangan AS dan Israel, perempuan Iran disebut tetap menjadi garda depan intelektual negara. Warisan matematikawan Maryam Mirzakhani—perempuan pertama penerima Medali Fields—disebut tetap hidup sebagai simbol keunggulan perempuan di bidang STEM.

Saat ini perempuan Iran mencakup lebih dari 50 persen mahasiswa universitas dan aktif di bidang penting seperti nanoteknologi dan kecerdasan buatan. Kemampuan mereka terus memproduksi ilmu pengetahuan di tengah sanksi dan ancaman bom adalah bentuk tertinggi dari perlawanan.

Ekonom Fatemeh Karroubi dari Tehran Institute for Economic Policy Research mengatakan perempuan menopang sekitar 40 persen perusahaan berbasis teknologi di Iran, meski berada di bawah tekanan sanksi.

Lebanon: Bertahan di Bawah Bom

Di Lebanon, eskalasi Israel pada 2025–2026 menghancurkan desa-desa di selatan, terutama di distrik Nabatieh dan Bint Jbeil. Perempuan Lebanon bukan hanya korban, tetapi juga pengorganisasi perlawanan.

Di tengah runtuhnya infrastruktur, mereka mendirikan dapur umum, sekolah darurat di ruang bawah tanah, dan jaringan peringatan dini. Asosiasi Keluarga Tahanan dan Orang Hilang Lebanon yang dipimpin Wadad Halawani mendokumentasikan penghancuran rumah dan pengusiran ribuan keluarga.

Para perawat dan dokter perempuan di rumah sakit Tyre dan Nabatieh melakukan operasi tanpa listrik sambil menghadapi ancaman bom baru. Seorang perawat bernama Suha Nasr berkata, “Mereka ingin mengosongkan selatan dari penduduknya, tetapi kami perempuan menolak pergi. Kami tinggal agar tanah ini tetap dihuni.”

Menuju Teori Emansipasi

Ketangguhan perempuan Dunia Selatan bukanlah fenomena spiritual atau kemampuan alami menahan rasa sakit, melainkan respons material dan kolektif terhadap penindasan kelas dan gender yang diwujudkan dalam perlawanan anti-imperialis.

Ketangguhan itu hadir dalam banyak bentuk: perang anti-kolonial, politisasi revolusioner, perjuangan bertahan hidup, produksi ilmu pengetahuan, perlawanan budaya, dan pembelaan kedaulatan. Perjuangan perempuan dianggap tak terpisahkan dari perjuangan rakyat mereka melawan imperialisme, Zionisme, dan segala bentuk penindasan.

Mariátegui disebut mengajarkan bahwa feminisme yang sejati pada dasarnya bersifat revolusioner, tetapi perjuangan kelas lebih menentukan dibanding jenis kelamin. Gerakan emansipasi tidak boleh memisahkan perempuan dari laki-laki secara abstrak, melainkan harus melihat akar penindasan pada kepemilikan pribadi dan imperialisme.

Mengutip Vladimir Lenin, pembebasan perempuan pekerja hanya dapat diselesaikan dengan kemenangan masyarakat tanpa kelas, penghapusan “perbudakan domestik”, dan kekalahan imperialisme.

Perempuan Dunia Selatan bukan korban yang menunggu diselamatkan, melainkan kekuatan politik dan produktif yang berada di garis depan pengelolaan krisis dan pembangunan masa depan alternatif. Solidaritas dari Havana hingga Gaza, dari kamp Sahrawi ke Teheran, hingga desa-desa Lebanon yang dibom disebut sebagai benih dunia baru yang bebas dari imperialisme dan patriarki. (*)

Penulis: Pedro Monzón Barata
Sumber: Al Mayadeen

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA