Oleh: Ismail Amin Pasannai*
Pernyataan bahwa “Gaza tetap sendiri” adalah bentuk ketidakadilan naratif yang merendahkan darah para syuhada dan membutakan kita dari realitas pengorbanan berbagai pihak—terutama Iran—yang telah membayar harga mahal demi Palestina. Justru karena sebagian dunia Islam diam, maka Iran tampil di garda depan, bukan dengan kata-kata, tapi dengan darah, senjata, pelatihan, teknologi, dan konsistensi selama lebih dari 40 tahun.
Pertama, Iran tidak cuma bicara, tapi berkorban nyawa. Siapa Qassem Soleimani? Bukan orang Palestina. Tapi dia wafat bukan di Teheran, melainkan dalam misi membangun poros perlawanan di kawasan—di antaranya untuk Palestina. Jenderal-jenderal Iran banyak yang terbunuh di Suriah, Lebanon dan Irak. Darah mereka ditumpahkan karena membantu para mujahid Palestina, Lebanon, Suriah, dan Yaman. Iran tidak duduk di kursi PBB hanya dengan mengecam; Iran mengirim drone, rudal, taktik perang gerilya, dan membentuk Hizbullah agar Palestina tidak sendiri.
Kedua, dana dan dukungan realistis bukan simbolik. Dukungan Iran bukan sekadar poster atau konferensi solidaritas. Setiap bulan, puluhan juta dolar disalurkan ke Hamas, PIJ (Palestinian Islamic Jihad), Hizbullah, dan faksi-faksi lainnya. Di saat negara-negara Arab sibuk menormalisasi hubungan dengan Israel atau menonton dari jauh, Iran tetap hadir dengan tindakan nyata. Bukan baru kemarin. Tapi sejak Revolusi 1979.
Apakah itu kepentingan geopolitik? Ya, tentu! Tapi geopolitik yang berpihak pada kaum tertindas. Geopolitik yang memilih dibenci dunia agar tetap konsisten di pihak al-Haqq. Jika semua negara punya kepentingan, kenapa hanya Iran yang dituduh? Di mana negara lain ketika darah anak-anak Gaza tumpah? Kalau Iran memilih berkonfrontasi dengan AS dengan mengusili Israel disebut untuk menjaga kepentingannya di kawasan, terus ketika Saudi berinvestasi miliaran dolar ke AS apa itu bukan untuk menjaga kepentingannya? Mengapa hanya kepentingan Iran yang disoroti?
Ketiga, “manipulasi” atau “kesetiaan”? Kata “Iran memanipulasi opini” hanyalah cermin dari kegagalan lawan-lawan Iran dalam menyamai level pengorbanannya. Justru yang manipulatif adalah mereka yang mengecam Iran, lalu diam saat Palestina dibantai. Mereka yang merasa muak dengan “pengaruh Iran”, tapi tidak bisa menyumbang sebutir peluru pun untuk rakyat Gaza.
Jika benar Iran hanya ingin “daya tawar”, kenapa Iran justru menjadi musuh utama Israel dan Amerika? Kenapa sanksi ekonomi dan ancaman perang diarahkan ke Teheran? Negara yang disebut menjadikan Palestina “alat politik” ini justru diserang habis-habisan karena dukungannya terlalu besar dan konsisten.
Keempat, Hamas memahami, bukan terpaksa. Benar bahwa Hamas tidak bisa bersikap ideologis semata. Mereka realistis. Tapi bukan berarti Iran “memanfaatkan” Hamas secara sewenang-wenang. Ini adalah kemitraan strategis antara dua pihak yang sama-sama diblokade dan dimusuhi. Hamas punya pilihan untuk berpaling ke Turki, Qatar, bahkan Saudi—tapi mereka tahu siapa yang benar-benar menolong di saat yang lain hanya sibuk beretorika.
Kelima, Palestina tidak sendiri, Poros Perlawanan mendampinginya. Gaza tidak sendiri. Ada Lebanon dengan Hizbullah, ada Yaman dengan Ansharullah, ada Irak dengan al-Hashd al-Shaabi, dan ada Iran sebagai jantungnya. Tidak adil menghapus peran mereka hanya karena tidak suka ideologinya. Apa kita hanya ingin dukungan dari sekutu yang sekuler dan sesuai narasi Barat?
Keenam, siapa yang benar-benar meninggalkan Gaza? Pertanyaan penting: siapa yang tinggalkan Gaza? Iran, yang tetap mengirim senjata meski disanksi, atau negara-negara Teluk yang malah menyambut Donald Trump dengan pesta di tanah mereka?
So, tuduhan bahwa Iran tidak tulus adalah narasi berbahaya yang melemahkan Poros Perlawanan dan menguatkan posisi Israel. Narasi ini tidak lahir dari medan tempur, tapi dari ketidakmampuan menyamai level pengorbanan Iran dan para sekutunya. Jika hari ini Gaza masih berdiri, itu karena pejuangnya tidak sendiri. Mereka ditemani darah, logistik, dan doa dari Poros Perlawanan—dan Iran adalah salah satu poros terpenting itu.
Jangan balas air mata Gaza dengan fitnah pada mereka yang membelanya. Justru ketika Iran diserang, apa ada yang membantu? Iranlah yang sendiri, bukan Gaza. (*Pengamat Timur Tengah)












