BERITAALTERNATIF.COM – Ruh al-Amin, sebuah buku baru karya Elahe Akherati yang diterbitkan oleh Hamaseh Yaran, memberikan gambaran yang belum pernah ada sebelumnya tentang salah satu tokoh paling berpengaruh di Asia Barat: Sayyid Hassan Nasrallah.
Lebih dari sekadar biografi biasa, buku setebal 312 halaman ini adalah kumpulan yang disusun secara cermat dari kata-kata Sayyid Hassan sendiri. Isinya diambil langsung dari 170 jam pidato dan wawancara, yang diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Persia tanpa perubahan.
Buku ini disusun dalam tujuh belas bab, yang menelusuri perjalanan Sayyid Hassan mulai dari masa kecilnya hingga minggu-minggu menjelang syahidnya. Struktur buku ini membuka jendela unik ke dalam kehidupan pribadi, keagamaan, politik, militer, hingga keluarganya.
Pembaca diajak untuk memahami lebih dalam pengaruh besar dalam hidupnya, mulai dari sosok Imam Khomeini ra, pendiri Republik Islam Iran, dan Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, hingga pemikir besar seperti Syahid Mohammad Baqir al-Sadr dan Imam Musa al-Sadr.
Buku ini juga menyingkap kisah hubungannya dengan para sahabat seperjuangan, seperti Hajj Imad Mughniyeh dan Letnan Jenderal Qassem Soleimani, Komandan Pasukan Quds IRGC yang syahid.
Metodologi penulisan yang digunakan menjadi kekuatan utama buku ini. Dalam pengantarnya, Akherati menulis, “Tidak ada seorang pun yang bisa berbicara tentang Nasrallah dengan lebih fasih dan tepat selain dirinya sendiri.”
Penulis membenamkan dirinya dalam arsip besar berisi orasi dan percakapan Sayyid Hassan, kemudian merangkai potongan-potongan dari berbagai sumber untuk setiap bab, sehingga tercipta sebuah narasi yang utuh.
Meskipun urutan paragraf terkadang disesuaikan agar lebih runtut, setiap baris dalam buku ini adalah terjemahan langsung dari ucapan Sayyid Hassan. Teks dalam tanda kurung hanya digunakan secukupnya untuk memberi konteks, dan tidak ada satu pun kata yang ditambah atau dihilangkan dari kata-kata aslinya.
Gaya narasi orang pertama ini menciptakan rasa kedekatan yang kuat, seolah-olah pembaca sedang menerima langsung suara Sayyid yang begitu menggugah.
Buku ini juga didukung dengan sumber yang ketat. Setiap bab dilengkapi catatan kaki yang mencantumkan asal kutipan dan menambahkan informasi tambahan dari keluarga maupun rekan seperjuangan, terutama pada bagian yang tidak diceritakan langsung oleh Nasrallah karena kerendahan hatinya.
Ruh al-Amin menjadi sumber primer yang penting bagi siapa saja yang ingin memahami sosok di balik gelar Sayyid al-Muqawamah. Buku ini menawarkan perspektif yang sangat manusiawi atas dekade panjang perjuangan, iman, dan sejarah di Lebanon.
Buku ini bukan sekadar untuk dibaca, melainkan sebuah kesaksian yang harus didengar. Saat Ruh al-Amin sampai ke tangan pembaca, ia tidak hanya mendokumentasikan sebuah kehidupan, tetapi juga memastikan sebuah suara tetap hidup dalam sejarah.
Buku ini memberi kesempatan bagi Sayyid Hassan untuk mendefinisikan warisannya dengan caranya sendiri, menghadirkan narasi tentang perlawanan yang tak tergoyahkan, iman yang dalam, dan pengorbanan pribadi, khususnya bagi pembaca berbahasa Persia.
Pada akhirnya, Ruh al-Amin memastikan bahwa suaranya, dengan segala keyakinan dan kompleksitasnya, akan terus terdengar jauh setelah kepergiannya. Dengan menjaga kata-katanya secara utuh, Akherati telah melahirkan sebuah dokumen yang sekaligus aktual dan abadi.
Ruh al-Amin bukan hanya buku tentang seorang pemimpin, tetapi juga tentang kepemimpinan itu sendiri, tentang keyakinan, dan tentang kekuatan iman yang mampu bertahan menghadapi berbagai kesulitan.
Buku ini menjadi jembatan yang menghubungkan dunia berbahasa Persia dengan hati dan pikiran seorang tokoh yang telah membentuk arah sejarah kawasan.
Karena itu, buku ini bukan sekadar karya tertulis, melainkan sebuah warisan yang diabadikan dalam tinta, sebuah suara yang diperkuat untuk didengar lintas generasi.
Ketika pembaca menelusuri isi Ruh al-Amin, mereka diajak menempuh perjalanan yang melampaui batas biografi tradisional. Buku ini menjadi semacam portal yang membuka akses langsung ke dunia batin Sayyid Hassan, keyakinan spiritualnya, serta visi strategisnya untuk kawasan.
Sayyid Hassan lahir di Beirut pada 31 Agustus 1960. Ia memulai pendidikan agama di Lebanon dan kemudian melanjutkannya di Najaf, Irak. Namun, rezim Ba’ath memaksanya meninggalkan Irak. Ia lalu pindah ke Qom, Iran, di mana ia berinteraksi langsung dengan Revolusi Islam dan pemikiran Imam Khomeini ra.
Sayyid Hassan belajar bahasa Persia dan bahkan dipercaya menjadi wakil Imam Khomeini di Lebanon.
Dikenal dengan sebutan Sayyid al-Muqawamah (Pemimpin Perlawanan), Sayyid Hassan adalah salah satu pendiri sekaligus Sekretaris Jenderal ketiga Hizbullah, jabatan yang dipegangnya sejak 1992 hingga 2024.
Di bawah kepemimpinannya, Hizbullah berkembang menjadi kekuatan regional. Sejumlah peristiwa penting terjadi di masanya, antara lain pembebasan Lebanon Selatan pada tahun 2000, pertukaran tahanan dengan Israel pada 2004, serta kemenangan Hizbullah dalam Perang Lebanon 2006.
Perlawanan yang dipimpinnya melawan Israel menjadikannya sosok pemimpin yang sangat dihormati di dunia Arab, bahkan melampaui batas Lebanon. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin












