Oleh: Ismail Amin Pasannai*
Barat kerap dipresentasikan sebagai simbol kebebasan manusia modern: bebas dari dogma agama, bebas dari ritus sakral, bebas dari otoritas ilahi. Individu dianggap merdeka karena tidak lagi tunduk pada aturan langit, melainkan hanya pada rasionalitas dan pilihan pribadi. Namun jika ditelusuri lebih dalam, kebebasan itu ternyata tidak sepenuhnya membebaskan. Ia hanya memindahkan bentuk belenggunya.
Mengapa demikian? Begini. Ketika Barat melepaskan diri dari agama, yang mereka lepaskan sesungguhnya bukan sekadar ritual, tetapi juga kerangka makna transenden. Kekosongan makna tidak mungkin dibiarkan lama; ia akan mencari pengisinya sendiri. Maka ruang kosong itu mau tidak mau terisi oleh sistem ekonomi kapitalistik, logika pasar, dan rasionalitas teknokratis. Tuhan memang ditinggalkan, tetapi digantikan oleh “tuhan-tuhan baru”: produktivitas, pertumbuhan ekonomi, efisiensi, dan konsumsi.
Dalam sistem kapitalisme, kebebasan individu secara teoritis diagungkan, tetapi secara praktis dibatasi oleh kebutuhan ekonomi yang tak pernah selesai. Manusia memang bebas berpendapat, bebas memilih identitas, bahkan bebas menggugat nilai-nilai moral lama. Namun pada saat yang sama, ia tidak bebas untuk tidak bekerja mengikuti ritme pasar, tidak bebas dari tekanan kompetisi, dan tidak bebas dari tuntutan untuk terus bernilai secara ekonomi. Yang tidak produktif dianggap gagal. Yang tidak kompetitif tersingkir. Inilah paradoks besar kebebasan modern: bebas dari agama, tetapi terikat kuat pada sistem.
Sampai di sini paham? Saya lanjutkan. Proyek modernitas juga melahirkan apa yang disebut rasionalisasi dan mekanisasi hidup. Segala hal harus efisien, terukur, cepat, dan menguntungkan. Manusia tidak lagi dipandang sebagai makhluk bermakna, melainkan sebagai unit produksi, konsumen, dan statistik ekonomi. Pada titik ini, rasionalitas yang semula dijanjikan sebagai alat pembebas justru berubah menjadi alat disiplin baru yang lebih halus dan mengikat.
Fenomena ini pernah dijelaskan Max Weber melalui konsep “sangkar besi rasionalitas” (iron cage). Weber melihat bahwa manusia modern memang terbebas dari otoritas gereja, tetapi justru masuk ke dalam penjara baru berupa sistem administrasi, birokrasi, dan ekonomi rasional yang tidak kalah menekan. Ia tidak lagi dikendalikan oleh dosa dan pahala, tetapi oleh target, rating, kredit, bunga, indeks, dan grafik pertumbuhan.
Jika dahulu manusia takut pada neraka, kini ia takut pada tagihan yang tidak bisa dibayar. Jika dulu ia cemas akan murka Tuhan, kini ia cemas pada runtuhnya karier, status sosial, dan ketidakstabilan ekonomi pasar. Bentuk ketakutannya berubah, tetapi struktur keterikatannya tetap sama.
Bahkan dalam soal identitas dan kebebasan memilih gaya hidup, kebebasan Barat juga tidak sepenuhnya netral. Pilihan-pilihan hidup dibentuk secara halus oleh industri media, iklan, tren, dan algoritma. Seseorang merasa memilih secara bebas, padahal sering kali ia hanya memilih dari opsi-opsi yang sudah disiapkan pasar. Di sinilah kebebasan berubah menjadi ilusi yang dikemas rapi.
Ada pula yang berusaha mencari jalan hidup alternatif, menolak arus utama pasar, dan membangun identitasnya sendiri. Namun apakah itu membuatnya sepenuhnya merdeka? Tidak juga. Ia justru terpenjara oleh kebutuhan untuk terus membuktikan bahwa dirinya berbeda, merdeka, dan otentik. Ia lelah menjaga citra “anti-mainstream”-nya sendiri. Ia harus terus tampak kritis, sadar, terjaga, dan bebas—sebuah peran baru yang tak kalah melelahkan dari peran lama. Ia menolak dikontrol pasar, tetapi justru dikontrol oleh egonya sendiri. Ia ingin keluar dari kerangkeng konsumsi, tetapi masuk ke kerangkeng identitas.
Lebih jauh, modernisasi melahirkan standar tunggal tentang hidup sukses: mandiri secara finansial, mapan secara karier, aktif secara sosial, bebas secara seksual, dan stabil secara psikologis. Standar ini tampak rasional, tetapi diam-diam berubah menjadi alat tekanan massal. Siapa pun yang tidak sesuai dengan standar tersebut dianggap tidak berhasil, tertinggal, atau bermasalah.
Akibatnya, lahirlah generasi yang tampak bebas di luar, tetapi gelisah di dalam: depresi, kecemasan, krisis identitas, dan kehampaan eksistensial.
Pada titik ini, klaim kebebasan Barat perlu dikritik. Masalahnya bukan soal apakah agama masih diperlukan atau tidak, melainkan apa yang menggantikan fungsi agama dalam memberi makna, batas, dan tujuan hidup. Ketika Tuhan dikeluarkan dari pusat kehidupan, yang masuk bukan ruang kosong yang netral, melainkan kekuatan ekonomi, hasrat konsumsi, dan rasionalitas instrumental yang justru lebih sulit dilawan karena tampil tanpa wajah ideologis.
Agama, dalam pengertian ini, bukan sekadar kumpulan ritus, tetapi penjaga batas antara manusia dan keserakahannya sendiri. Ia memberi arah, bukan hanya aturan. Ia memberi tujuan, bukan sekadar efisiensi. Ketika batas itu dihapuskan, manusia memang merasa bebas—tetapi juga kehilangan rem eksistensial, sehingga kebebasan itu mudah berubah menjadi pelarian, bukan pembebasan.
Maka pertanyaan kuncinya bukanlah “siapa yang lebih bebas: Barat atau masyarakat beragama?”, melainkan: bebas dari apa, dan terikat pada apa?
Barat mungkin bebas dari doktrin agama, tetapi terikat kuat pada logika pasar. Masyarakat beragama mungkin terikat oleh wahyu, tetapi wahyu justru berfungsi sebagai pembatas atas dominasi sistem yang tidak manusiawi. Yang satu tunduk pada hukum Tuhan, yang lain tunduk pada hukum modal. Yang satu mengenal dosa dan pahala, yang lain mengenal untung dan rugi.
Dari sini, semoga semakin jelas bahwa kebebasan modern bukanlah penghapusan belenggu, melainkan sekadar pertukaran jenis belenggu: dari belenggu sakral menuju belenggu struktural; dari tekanan langit menuju tekanan sistem; dari ketaatan kepada Tuhan menuju ketaatan kepada pasar.
Karena itu, manusia perlu menyadari bahwa ia hampir selalu terikat pada sesuatu. Persoalannya bukan lagi ingin terikat atau tidak, melainkan terikat oleh siapa dan pada apa. Apakah oleh Tuhan yang memberi arah dan batas demi martabat manusia, atau oleh pasar dan ego yang tak pernah mengenal cukup?
Sebab tidak ada manusia yang hidup tanpa ikatan. Yang ada hanyalah ikatan yang menyelamatkan, atau ikatan yang melelahkan tanpa arah. (*Cendekiawan Muslim)












