Oleh: Riyawan*
Bayangkan kamu bisa keliling Kota Tenggarong naik bajaj dengan angin sepoi-sepoi, tanpa kepanasan, dan cuma bayar mulai Rp 10.000. Kedengarannya seperti mimpi? Faktanya, ini sudah jadi realita lewat kehadiran Maxride, transportasi roda tiga modern yang lagi viral di Kutai Kartanegara.
Tapi, di balik euforia warga, muncul satu fakta yang bikin kaget yakni layanan ini ternyata belum punya izin resmi dari pemerintah daerah. Jadi, sebenarnya ini solusi transportasi masa depan atau malah masalah baru?
Kemunculan Maxride di Tenggarong benar-benar mendadak. Tanpa banyak sosialisasi, kendaraan roda tiga ini langsung wara-wiri di jalanan kota. Warga yang penasaran langsung mencoba, dan hasilnya? Banyak yang langsung jatuh hati.
Bajaj ini beda jauh dari bayangan lama yang identik dengan panas dan sempit. Maxride hadir dengan konsep modern, ada kipas angin di dalam kabin, jendela fleksibel yang bisa diatur, serta bagasi untuk menyimpan barang. Kapasitasnya juga cukup nyaman untuk tiga penumpang.
Seorang pelajar bahkan sempat berkomentar santai, “Dulu naik ojek panas-panasan, sekarang naik bajaj adem alami.” Komentar sederhana, tapi cukup menggambarkan pengalaman yang dirasakan pengguna.
Selain nyaman, tarifnya juga jadi alasan utama kenapa layanan ini cepat populer. Mulai dari Rp 10.000, pengguna bisa sampai tujuan tanpa ribet tawar-menawar. Sistemnya sudah berbasis aplikasi, jadi lebih transparan dan praktis.
Maxride sendiri bukan sekadar transportasi biasa. Ini adalah aplikasi transportasi online roda tiga pertama di Indonesia yang menyediakan layanan antar-jemput sekaligus kurir. Jadi, selain mengantar penumpang, juga bisa dipakai kirim barang.
Layanannya sudah tersedia di berbagai kota seperti Solo, Semarang, Medan, Makassar, Yogyakarta, hingga Tenggarong. Bahkan di beberapa kota, Maxride sudah menjadi alternatif transportasi harian yang cukup diandalkan.
Cara pakainya juga simpel. Tinggal unduh aplikasi “Maxride: Transportasi & Kurir”, daftar pakai nomor HP, tentukan lokasi jemput dan tujuan, lalu pesan. Tak berbeda jauh dengan ojek online yang sudah familiar.
Saat Dishub Bilang “belum Resmi”
Di saat warga sedang menikmati layanan baru ini, Dinas Perhubungan Kukar justru memberikan pernyataan yang cukup mengejutkan. Mereka menegaskan bahwa Maxride belum memiliki izin resmi untuk beroperasi di Tenggarong.
Kepala Dishub Kukar, Ahmad Junaidi, menyebut bahwa hingga saat ini belum ada pengajuan administrasi dari pihak operator. Uji kelayakan kendaraan juga belum dilakukan, sehingga secara aturan, layanan ini belum bisa dikatakan legal.
Pernyataan ini langsung memicu tanda tanya di kalangan warga. Apakah selama ini mereka menggunakan transportasi ilegal? Bagaimana dengan aspek keselamatan?
Menariknya, ternyata pihak perusahaan, PT Vahana Bajaj Sukses, sempat melakukan pertemuan awal dengan Dishub Kukar. Namun pertemuan tersebut hanya sebatas pengenalan konsep, belum sampai tahap pengajuan izin atau operasional resmi.
Artinya, yang terjadi sekarang adalah semacam “jalan dulu, izin belakangan”. Di satu sisi, layanan sudah berjalan dan digunakan masyarakat. Di sisi lain, regulasi belum mengikutinya.
Situasi ini sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Dulu, saat ojek online pertama muncul, kondisinya juga serupa. Dianggap ilegal, tapi tetap jalan karena dibutuhkan masyarakat. Bedanya, waktu itu pemerintah pusat cukup cepat membuat regulasi. Sekarang di level daerah, responsnya cenderung lebih lambat. Ini yang bikin inovasi seperti Maxride sering terhambat.
Peluang Besar di Balik Kontroversi
Kalau dilihat lebih dalam, kehadiran Maxride sebenarnya membuka banyak peluang, terutama untuk kota seperti Tenggarong.
Dari sisi ekonomi, layanan ini bisa jadi sumber penghasilan baru. Beberapa pengemudi bahkan mengaku sebelumnya hanya bekerja serabutan, tapi sekarang mempunyai pemasukan lebih stabil. Di kota lain seperti Yogyakarta, pengemudi Maxride bisa menghasilkan hingga Rp400.000–Rp500.000 per hari saat ramai.
Dari sisi transportasi, bajaj modern ini cocok untuk area perkotaan yang memiliki banyak gang sempit. Ini jadi solusi yang tidak bisa dijangkau kendaraan besar.
Belum lagi potensi di sektor pariwisata. Tenggarong punya banyak destinasi menarik seperti Museum Mulawarman dan kawasan tepian Mahakam. Bajaj modern bisa jadi daya tarik wisata unik, seperti tuk-tuk di Thailand atau bajaj di India.
Bayangkan wisatawan keliling kota naik bajaj sambil mendengar cerita sejarah dari pengemudi. Sederhana, tapi punya nilai pengalaman yang kuat.
Fakta Penting Maxride
Maxride adalah aplikasi transportasi online roda tiga pertama di Indonesia yang menyediakan layanan antar-jemput penumpang dan kurir dalam satu platform; tarif mulai dari Rp 10.000, dengan skema berbeda di tiap kota; dilengkapi fitur nyaman seperti kipas angin, jendela fleksibel, dan bagasi.
Aplikasinya bisa diunduh di Google Play Store dan App Store; bajaj ini sudah beroperasi di kota seperti Solo, Semarang, Medan, Makassar, dan Yogyakarta; menawarkan peluang kerja melalui sistem kemitraan driver; belum memiliki izin resmi operasional di Tenggarong saat ini.
Melihat semua ini, solusi terbaik sebenarnya bukan melarang, tapi mengatur. Pemerintah daerah bisa membuka komunikasi lebih serius dengan pihak Maxride, lalu memberikan izin uji coba sementara sambil melakukan evaluasi.
Aspek keselamatan tetap harus jadi prioritas. Uji kir kendaraan, pengecekan rem, lampu, dan standar operasional harus dipastikan. Tapi di saat yang sama, inovasi juga jangan dimatikan.
Maxride di Tenggarong adalah gambaran nyata benturan antara inovasi dan birokrasi. Warga sudah siap, pasar sudah ada, tapi aturan belum mengikuti.
Sekarang tinggal bagaimana pemerintah daerah mengambil langkah. Mau menolak karena belum siap, atau berani beradaptasi untuk masa depan transportasi yang lebih modern?
Kalau bisa dikelola dengan tepat, bukan tidak mungkin bajaj modern ini jadi ikon baru Tenggarong. Transportasi jalan, ekonomi bergerak, dan warga tetap nyaman. Itu baru namanya solusi yang win-win. (*Pemerhati Sosial & Budaya)












