BERITAALTERNATIF.COM – Georgia dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi salah satu contoh penting politik luar negeri multidimensi dalam lingkungan geopolitik Eurasia. Di satu sisi, Tbilisi—berbeda dengan sejumlah propaganda media—ingin mempertahankan hubungan dekat dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa serta memperoleh manfaat ekonomi dan politik dari keterkaitan dengan Barat.
Di sisi lain, terutama setelah perang Ukraina, Georgia berusaha menghindari keterlibatan langsung dalam konfrontasi ekonomi dengan Rusia, Iran, dan aktor-aktor regional lainnya yang berada di kawasan sekitarnya. Kebijakan ini juga terlihat dalam hubungan Georgia dengan Iran.
Dilansir dari Mehr News pada Jumat (11/9/2026), Uni Eropa dalam laporan tahun 2025 mengenai Georgia menyatakan bahwa tingkat keselarasan negara tersebut dengan posisi dan rezim sanksi Uni Eropa telah menurun dan pada Oktober 2025 mencapai sekitar 40 persen.
Laporan tersebut juga menegaskan bahwa Georgia tidak bergabung dengan sebagian besar langkah pembatasan Uni Eropa terhadap Rusia, Belarus, dan Iran. Dalam laporan tahun 2024, kecenderungan yang sama juga terlihat, dengan tingkat keselarasan Georgia terhadap kebijakan luar negeri dan keamanan bersama Uni Eropa tercatat sebesar 49 persen.
Namun, kondisi tersebut tidak berarti bahwa Georgia telah menjadi tempat untuk sepenuhnya mengabaikan sanksi AS. Bank Nasional Georgia pada April 2024 berdiskusi dengan perwakilan khusus AS untuk urusan Iran mengenai penerapan sanksi terkait Iran dan menegaskan langkah-langkah yang telah dilakukannya dalam hal tersebut. Oleh karena itu, perlu dibedakan antara tidak bergabungnya sistem politik Georgia dengan rezim sanksi dan tidak dipatuhinya sanksi yang bersifat mengikat bagi bank-bank dan perusahaan-perusahaan Georgia.
Meskipun terdapat keterbatasan tersebut, hubungan Iran dan Georgia memiliki kapasitas yang jauh lebih besar daripada tingkat perdagangan bilateral saat ini. Posisi Georgia di pantai timur Laut Hitam dan posisi Iran di Teluk Persia serta Laut Oman, apabila terhubung dengan jaringan transportasi Rusia dan Asia Tengah, akan menciptakan sebuah kawasan geoekonomi penting bagi Iran.
Jaringan semacam ini, melalui peningkatan diversifikasi jalur perdagangan, pengurangan ketergantungan pada jalur yang berada di bawah kendali Barat, serta peningkatan daya tawar Iran, dapat membantu ketahanan ekonomi dan strategis Iran dalam menghadapi tekanan eksternal, sementara di selatan Iran menghadapi blokade maritim ilegal AS.
Mengapa Georgia Tidak Bergabung dengan Sanksi terhadap Iran?
Pertama, kebijakan luar negeri Georgia yang multiarah. Faktor terpenting harus dilihat dari karakter kebijakan luar negeri Georgia. Setelah perang tahun 2008 dengan Rusia, Tbilisi membangun hubungan yang mendalam dengan AS dan Eropa. Namun, hubungan tersebut tidak berarti menerima sepenuhnya seluruh kebijakan sanksi Barat.
Karena berbatasan dengan Rusia dan memiliki ketergantungan ekonomi yang cukup besar terhadap perdagangan, pariwisata, transportasi, dan investasi regional, Georgia tidak dapat dengan mudah terlibat dalam seluruh konflik ekonomi dan politik Barat melawan Moskow. Georgia juga belum melupakan kenangan pahit konflik militer dengan Rusia beserta dampak berat yang ditimbulkannya.

Logika yang sama, sampai batas tertentu, diterapkan terhadap Iran. Bagi Georgia, Iran sama sekali bukan ancaman militer, melainkan negara tetangga di kawasan, pasar potensial, sumber pasokan energi yang dapat diandalkan, serta bagian dari jaringan konektivitas Kaukasus dan Asia Barat.
Karena itu, Tbilisi berusaha menyeimbangkan dua tujuan: mempertahankan akses terhadap sistem ekonomi Barat sekaligus mencegah dirinya menjadi salah satu pihak yang terlibat langsung dalam konfrontasi AS dengan Iran.
Pendekatan tersebut juga terlihat dalam laporan-laporan Uni Eropa. Uni Eropa, sembari mengkritik rendahnya tingkat keselarasan Georgia dengan kebijakan luar negeri bersama Eropa, menyatakan bahwa negara tersebut tidak bergabung dengan sebagian besar sanksi terkait Iran.
Kedua, kepentingan ekonomi Georgia. Volume perdagangan Iran dan Georgia masih relatif terbatas, tetapi trennya meningkat. Berdasarkan data yang dipublikasikan, nilai perdagangan kedua negara pada 2024 mencapai sekitar US$322 juta, angka tertinggi yang tercatat hingga saat itu.
Pentingnya angka tersebut bukan hanya terletak pada besarnya nilai perdagangan. Hal yang lebih penting adalah kemungkinan peningkatan kapasitasnya. Iran dapat menyediakan pasar besar di selatan dan timur bagi Georgia, sementara Georgia dapat menjadi pintu menuju Laut Hitam, Eropa Timur, dan jaringan transportasi Eropa. Karena itu, dari sudut pandang Tbilisi, memutus hubungan ekonomi secara total dengan Teheran bukanlah langkah yang masuk akal.
Ketiga, merosotnya hubungan AS dan Georgia. Keputusan ini juga harus dipahami dalam konteks hubungan AS dan Georgia yang mengalami kerusakan cukup parah. Pada 30 November 2024, AS, sebagai respons terhadap keputusan pemerintah Georgia untuk menangguhkan perundingan keanggotaan Uni Eropa dan apa yang disebut Washington sebagai “tindakan antidemokratis”, menangguhkan kemitraan strategis AS dan Georgia.
Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa keputusan pemerintah Georgia yang dipimpin Partai Georgian Dream untuk menghentikan proses aksesi ke Uni Eropa bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar piagam kemitraan strategis kedua negara.
Kemudian, pada 27 Desember 2024, Departemen Keuangan AS memasukkan Bidzina Ivanishvili, pendiri sekaligus ketua kehormatan Partai Georgian Dream, ke dalam daftar sanksinya. Washington menuduhnya “melemahkan masa depan demokratis dan Euro-Atlantik Georgia demi kepentingan Federasi Rusia”.
Kerenggangan ini terjadi setelah bertahun-tahun meningkatnya otoritarianisme di Tbilisi serta keselarasan dengan musuh-musuh AS—terutama Rusia dan Iran. Pendekatan keras dan intervensionis AS terhadap perkembangan internal Georgia, khususnya ketidakpuasan Amerika terhadap berpalingnya mayoritas masyarakat negara tersebut dari kelompok pro-Barat, merupakan salah satu alasan sikap-sikap yang dianggap tidak masuk akal dan ekstrem tersebut.
Posisi Iran Strategis Iran dan Georgia
Salah satu bidang penting interaksi kedua negara adalah sektor energi. Georgia bergantung pada sumber energi dari luar negeri dan dalam beberapa tahun terakhir berupaya mengurangi ketergantungannya pada satu atau beberapa pemasok.
Iran, apabila tersedia pengaturan hukum, finansial, dan infrastruktur yang sesuai, dapat membantu diversifikasi sumber energi Georgia, khususnya dalam penyediaan gas. Pengalaman pengiriman gas Iran ke Georgia pada 2006 serta kemungkinan penggunaan mekanisme swap dapat membantu dalam hal ini.
Dari perspektif tersebut, Iran bagi Georgia bukan sekadar pasar, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keamanan energi negara tersebut.
Georgia memperkenalkan dirinya sebagai pusat energi dan transit di kawasan. Kementerian Ekonomi Georgia pada 2025 menyatakan bahwa Tbilisi bermaksud meningkatkan kapasitas transit dan perannya sebagai pusat energi regional.
Karena itu, secara alami Georgia berkepentingan dengan negara yang mampu mengirimkan lebih banyak barang dari selatan menuju jaringan pelabuhan dan jalur kereta api negara tersebut. Iran memiliki kapasitas yang tepat untuk itu.
Kapasitas Nyata
Pertama, Koridor Teluk Persia–Laut Hitam. Salah satu proyek terpenting adalah menciptakan dan memperkuat jalur transportasi koridor antara Teluk Persia dan Laut Hitam.
Iran, Armenia, dan Georgia, bersama Azerbaijan, dalam beberapa tahun terakhir telah membahas pembentukan jalur transit baru antara Teluk Persia dan Laut Hitam. Jalur Iran–Armenia–Georgia memiliki arti geopolitik khusus karena menghubungkan Iran dengan jaringan Laut Hitam tanpa melewati wilayah Turki dan mencegah monopoli negara pesaing tersebut.
Jalur ini dapat menjadi penting bagi ekspor Iran ke pasar Georgia, Bulgaria, Rumania, dan Eropa Timur.
Di sisi lain, bagi Georgia, Iran juga dapat menjadi jalur akses menuju pasar Teluk Persia, India, dan Asia Selatan. Karena itu, hubungan Iran dan Georgia tidak seharusnya hanya dilihat dalam kerangka perdagangan bilateral, tetapi sebagai bagian dari arsitektur transit utara–selatan.
Kedua, menghubungkan Koridor Utara–Selatan dengan Laut Hitam. Koridor Internasional Utara–Selatan menghubungkan Iran melalui Laut Kaspia dan Rusia dengan kawasan utara Eurasia. Koridor ini merupakan jaringan sepanjang sekitar 7.200 kilometer yang menghubungkan Rusia, Iran, Kaukasus, Laut Kaspia, Teluk Persia, dan India.
Jika jaringan ini dihubungkan dengan jalur Georgia dan Laut Hitam, Iran dapat memiliki sejumlah jalur yang beragam, alih-alih hanya bergantung pada satu atau dua jalur terbatas, yaitu: Rusia–Kaspia–Iran–Teluk Persia, Asia Tengah–Laut Kaspia–Kaukasus–Georgia–Laut Hitam, dan Iran–Armenia–Georgia–Laut Hitam. Keragaman tersebut sendiri merupakan keuntungan geopolitik.
Ketiga, transportasi kereta api. Penyelesaian jalur kereta api Rasht–Astara, pengembangan pelabuhan-pelabuhan di Iran bagian utara, serta peningkatan konektivitas kereta api dengan jaringan Rusia secara bertahap dapat meningkatkan posisi Iran dalam perdagangan Eurasia.
Di sisi lain, Georgia juga sedang mengembangkan dan memperkuat posisinya dalam koridor timur–barat. Dalam persaingan berbagai koridor Eurasia, termasuk Koridor Tengah dan jalur Utara–Selatan, Georgia secara bertahap memperoleh posisi penting. Kerja sama Iran dan Georgia dapat menghubungkan kedua jaringan tersebut.
Keempat, perdagangan barang. Kedua negara dapat merancang program lima tahun untuk meningkatkan perdagangan bilateral. Iran memiliki keunggulan dalam bidang seperti pangan dan pertanian, bahan bangunan, produk petrokimia, obat-obatan dan peralatan medis, produk industri, mesin, produk berbasis pengetahuan, karpet dan kerajinan tangan, serta jasa teknis dan rekayasa.
Sebaliknya, Georgia dapat menyediakan kapasitas bagi Iran dalam bidang jasa logistik, pemanfaatan pelabuhan Laut Hitam, pariwisata, jasa keuangan dan perdagangan legal, teknologi informasi, industri makanan, serta jasa transit.
Perdagangan saat ini tidak sepenuhnya menguntungkan ekspor Georgia ke Iran dan neraca perdagangan lebih menguntungkan Iran. Karena itu, perlu dirancang mekanisme untuk meningkatkan ekspor Iran sekaligus meningkatkan impor barang dan jasa Georgia ke Iran. Data 2024 menunjukkan bahwa volume perdagangan sebesar US$322 juta masih jauh dari potensi kedua perekonomian.
Sektor Strategis
Pariwisata merupakan salah satu bidang termudah untuk mengembangkan hubungan kedua negara. Pada 2024, sekitar 146 ribu wisatawan dari Iran berkunjung ke Georgia.
Iran juga dapat menarik wisatawan Georgia melalui sektor sejarah, budaya, medis, alam, dan ziarah.
Pengembangan penerbangan langsung, paket wisata bersama, serta kemudahan pembayaran untuk sektor pariwisata dapat memperkuat hubungan ekonomi kedua negara tanpa memerlukan investasi besar.
Selain itu, jika Iran dan Georgia ingin meningkatkan hubungan mereka dari tingkat “ketetanggaan ekonomi” menjadi “kemitraan ekonomi strategis”, energi harus menjadi salah satu pilar utamanya.
Iran memiliki cadangan gas dan minyak yang sangat besar, sementara Georgia sedang mencari diversifikasi sumber energinya. Menghidupkan kembali ekspor gas Iran ke Georgia juga dapat menjadi mata rantai penting keberhasilan kerja sama di bidang ini.
Namun, dalam kondisi sanksi, pengembangan kerja sama energi membutuhkan kajian hukum yang cermat dan penyelesaian berbagai persoalan terkait. Karena itu, salah satu usulan praktis lainnya adalah menciptakan proyek-proyek yang lebih kecil dan transparan di bidang listrik, energi terbarukan, swap, dan kerja sama teknis.
Peran Rusia dan Negara-Negara Asia Tengah

Kerja sama Iran dan Georgia secara terpisah memiliki arti dan dampak yang terbatas. Namun, jika hubungan tersebut ditempatkan dalam jaringan yang lebih besar yang mencakup Rusia, Kazakhstan, Turkmenistan, Uzbekistan, Tajikistan, dan Kirgizstan, dampak geopolitiknya akan jauh lebih besar.
Jaringan semacam ini, selain bergerak menuju “persatuan politik”, dapat menciptakan jaringan konektivitas ekonomi di Eurasia sebagai berikut:
Pertama, menciptakan sejumlah jalur independen untuk perdagangan Iran. Dalam kondisi tekanan AS, kerentanan terbesar Iran adalah ketergantungan pada sejumlah jalur finansial, maritim, dan perdagangan yang terbatas.
Jaringan Iran–Laut Kaspia–Rusia–Asia Tengah–Georgia dapat meningkatkan jumlah jalur yang tersedia dan juga memberikan manfaat bagi negara seperti India serta sejumlah negara di pesisir selatan Teluk Persia.
Dalam kondisi tersebut, gangguan terhadap satu jalur akibat tindakan AS, persoalan sanksi, maupun konflik militer tidak serta-merta berarti terhentinya seluruh perdagangan negara-negara di kawasan.
Kedua, menjadikan Iran sebagai jembatan antara Asia Tengah dan perairan terbuka. Negara-negara Asia Tengah merupakan negara yang terkurung daratan dan membutuhkan jalur melalui negara lain untuk mengakses perairan terbuka.
Iran memiliki keunggulan penting karena memiliki akses sekaligus ke Teluk Persia, Laut Oman, Laut Kaspia, serta jaringan kereta api di bagian selatan dan utara.
Karena itu, Iran dapat menjadi salah satu jalur penting bagi Kazakhstan, Turkmenistan, Tajikistan, Kirgizstan, dan Uzbekistan untuk mengakses pasar-pasar selatan. Sebaliknya, negara-negara tersebut dapat menyediakan sumber daya, barang, dan pasar yang dibutuhkan Iran.
Hubungan ini menciptakan ketergantungan timbal balik yang positif dan secara strategis jauh lebih berharga daripada sekadar meningkatkan volume perdagangan bilateral.
Ketiga, peran Rusia. Rusia memiliki peran khusus dalam jaringan ini. Karena menghadapi sanksi Barat setelah perang Ukraina, Moskow juga mencari jalur perdagangan alternatif.
Oleh sebab itu, kepentingan Rusia dan Iran dalam mengembangkan Koridor Utara–Selatan sebagian besar telah beririsan. Meningkatnya perhatian Rusia terhadap koridor ini dapat dilihat sebagai bagian dari upaya negara tersebut membangun kembali rantai pasok di luar kendali Barat.
Jika Rusia, Iran, dan negara-negara Asia Tengah bekerja sama dalam pengembangan infrastruktur kereta api, pelabuhan, dan bea cukai, sementara Georgia juga terhubung ke jaringan tersebut melalui Laut Hitam, maka sebuah jaringan perdagangan multimoda akan terbentuk.
Bagaimana Jaringan Ini Membantu Iran Bertahan Menghadapi AS?
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam hal ini. Pertama, mengurangi kerentanan transit. Sanksi memiliki dampak terbesar ketika mampu membatasi jalur perdagangan suatu negara. Jika Iran memiliki beberapa jalur alternatif, tekanan terhadap satu jalur akan memiliki dampak yang lebih kecil.
Karena itu, strategi Iran tidak boleh semata-mata berfokus pada penghindaran sanksi. Yang lebih penting adalah meningkatkan pilihan yang tersedia untuk perdagangan.
Kedua, meningkatkan daya tawar. Semakin banyak negara yang melihat kepentingan ekonomi mereka dalam perdagangan dengan Iran, semakin besar biaya penerapan tekanan sekunder AS terhadap negara-negara tersebut.
Jika Iran hanya berdagang dengan beberapa negara, daya tawarnya terbatas. Namun, jika terbentuk jaringan yang mencakup Rusia, Asia Tengah, Kaukasus, dan pelabuhan-pelabuhan Laut Hitam, persoalannya akan melampaui hubungan bilateral dan menjadi kepentingan bersama sejumlah negara.
Ketiga, mengurangi ketergantungan pada jalur laut yang berada di bawah pengaruh Barat. Iran memiliki akses ke perairan terbuka di selatan, tetapi bagian penting dari perdagangan maritim dunia berada di bawah pengaruh kekuatan maritim Barat. AS juga menciptakan tantangan bagi Iran di Selat Hormuz.
Pengembangan jalur darat dan kereta api di utara secara bersamaan dapat mengurangi risiko ketergantungan pada satu jalur maritim. Persoalan ini menjadi semakin penting dalam kondisi saat ini, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik.
Keempat, meningkatkan pendapatan transit. Iran tidak boleh hanya memikirkan ekspor barang. Salah satu peluang terbesar adalah menjadikan Iran sebagai negara transit dan pusat koridor Eurasia.
Setiap kereta atau truk yang bergerak dari Asia Tengah menuju Teluk Persia melalui Iran akan menghasilkan pendapatan bagi Iran, bahkan jika pemilik barang tersebut bukan perusahaan Iran. Model ini dapat menciptakan sumber pendapatan devisa yang relatif stabil dan berjangka panjang bagi Iran.
Keterbatasan Kerja Sama dengan Georgia
Analisis mengenai hubungan Iran dan Georgia tidak boleh terjebak dalam optimisme yang berlebihan.
Pertama, Georgia masih memiliki hubungan yang sangat dekat dengan AS dan Eropa.
Kedua, bank dan perusahaan Georgia menghadapi risiko sanksi sekunder AS. Ancaman sanksi sekunder merupakan salah satu hambatan utama bagi perluasan hubungan finansial Iran dan Georgia.
Ketiga, Tbilisi sensitif terhadap penggunaan wilayahnya untuk aktivitas yang dapat memicu sanksi atau tekanan Barat.
Keempat, Georgia tidak memiliki perbatasan darat dengan Iran. Karena itu, konektivitas darat antara Iran dan Georgia membutuhkan perjalanan melalui Armenia atau Azerbaijan.
Kelima, Georgia sendiri berada dalam persaingan antar-koridor regional dan mungkin ingin menyeimbangkan antara Koridor Tengah, jalur Turki, Rusia, dan jalur Iran.
Karena itu, Iran tidak boleh berharap Georgia dengan cepat berubah menjadi “sekutu geopolitik”. Sasaran yang lebih realistis pada tahap awal adalah menjadikan Georgia sebagai mitra transit, perdagangan, dan ekonomi.
Dalam hal ini, mempertimbangkan sejumlah usulan dan kapasitas yang tersedia dapat membantu.
Pertama, membentuk Dewan Strategis Iran–Georgia untuk Pengembangan Koridor. Iran perlu membentuk mekanisme permanen yang melibatkan kementerian perhubungan, ekonomi, minyak, luar negeri, serta sektor swasta untuk membahas proyek-proyek bersama.
Kedua, menghubungkan tiga jaringan. Strategi utama Iran harus menghubungkan Koridor Utara–Selatan dengan jalur Teluk Persia–Laut Hitam dan kemudian jaringan Asia Tengah. Jika ketiga jalur tersebut terhubung, Iran dapat menjadi salah satu simpul transit terpenting di Eurasia.
Ketiga, menyelesaikan infrastruktur domestik Iran. Tanpa penyelesaian jalur kereta api Rasht–Astara dan pengembangan pelabuhan-pelabuhan utara, pembicaraan mengenai peran besar Iran dalam koridor Eurasia tidak akan dapat diwujudkan secara operasional.
Keempat, mengembangkan perdagangan barter dan mekanisme pembayaran yang legal. Dalam kerangka hukum domestik dan peraturan internasional yang berlaku, Iran dan Georgia dapat menggunakan metode pembayaran dan penyelesaian transaksi yang mengurangi ketergantungan perdagangan bilateral terhadap satu saluran finansial. Hal ini bertujuan meningkatkan diversifikasi perdagangan dan transparansi finansial sehingga upaya Barat untuk menghambat kerja sama Georgia dengan Iran dapat dihentikan.
Kelima, membentuk kawasan logistik bersama. Iran dapat membangun pusat logistik khusus untuk barang-barang Georgia dan Asia Tengah di pelabuhan-pelabuhan utara dan titik-titik perbatasannya. Sebaliknya, perusahaan Iran dapat memanfaatkan kapasitas pelabuhan Georgia di Laut Hitam untuk ekspor mereka.
Keenam, kerja sama sektor energi. Swap gas, listrik, energi terbarukan, dan kerja sama teknis harus menjadi prioritas. Gas Iran dapat menarik bagi Georgia dari sisi diversifikasi sumber impor energi.
Ketujuh, membentuk konsorsium dengan partisipasi Iran–Rusia–Asia Tengah–Georgia. Alih-alih hanya berfokus pada hubungan bilateral, Iran harus berupaya membentuk konsorsium multilateral dalam bidang seperti perkeretaapian, pelabuhan, pergudangan, transportasi multimoda, energi, pertanian, teknologi informasi, pariwisata, dan industri makanan.
Kesimpulan

Tidak bergabungnya Georgia dengan sebagian besar sanksi Uni Eropa terhadap Iran tidak boleh semata-mata dianggap sebagai akibat kedekatan politik Tbilisi dengan Teheran. Georgia sebenarnya sedang menjalankan kebijakan penyeimbangan, di mana negara tersebut tetap mempertahankan hubungannya dengan AS dan Eropa, sekaligus berupaya mempertahankan kepentingan ekonomi dan geopolitiknya melalui hubungan dengan Rusia, Iran, dan negara-negara lain di kawasan. Laporan resmi Uni Eropa pada 2024 dan 2025 mengonfirmasi rendahnya tingkat keselarasan tersebut.
Pada saat yang sama, Georgia tidak mengabaikan seluruh kewajiban terkait sanksi terhadap Iran. Pertemuan pejabat perbankan Georgia dengan perwakilan khusus AS untuk urusan Iran pada 2024 menunjukkan bahwa Tbilisi berupaya mempertahankan kerja sama ekonominya dengan Teheran, sekaligus mencegah bank dan perusahaan Georgia terkena sanksi sekunder AS.
Karena itu, strategi terbaik Iran adalah berupaya menjadikan Georgia sebagai salah satu simpul dalam jaringan transit dan ekonomi Eurasia.
Dalam kerangka ini, terdapat tiga tingkat kerja sama yang penting:
Tingkat pertama, bilateral: meningkatkan perdagangan, pariwisata, energi, jasa teknis, dan investasi.
Tingkat kedua, regional: menghubungkan Iran dengan Georgia melalui Armenia serta mengembangkan jalur Teluk Persia–Laut Hitam.
Tingkat ketiga, Eurasia: menghubungkan jalur tersebut dengan Rusia, Kazakhstan, Turkmenistan, Uzbekistan, dan negara-negara Asia Tengah lainnya dalam kerangka jaringan Utara–Selatan dan jaringan konektivitas Laut Kaspia.
Jika jaringan semacam itu terbentuk, dampaknya bagi Iran akan jauh melampaui peningkatan perdagangan beberapa ratus juta dolar dengan Georgia. Iran dapat berubah dari negara yang berada di bawah tekanan sanksi menjadi simpul penting dalam jaringan perdagangan Eurasia.
Dalam kondisi tersebut, sanksi AS tetap akan menimbulkan biaya bagi Iran, tetapi kemampuan Washington untuk memutus sepenuhnya hubungan Iran dengan perekonomian kawasan akan berkurang secara signifikan. Hal ini sangat penting dalam kondisi perang ekonomi. Ketika mengeluarkan Iran dari jaringan perdagangan Eurasia juga menimbulkan biaya bagi sejumlah negara lain, maka hal tersebut menciptakan tantangan serius bagi kebijakan ekspansionis AS.
Georgia, dalam strategi tersebut, karena memiliki akses ke Laut Hitam, posisi transit, hubungan dengan Eropa dan Asia Tengah, serta kedekatan geografis dengan Rusia dan Kaukasus, dapat menjadi salah satu mata rantai penting jaringan tersebut.
Namun, realisasi kapasitas ini bergantung pada satu syarat mendasar: Iran harus meningkatkan hubungannya dengan Georgia dari sekadar hubungan politik dan perdagangan bilateral terbatas menjadi kemitraan transit dan ekonomi multilateral.
Pada akhirnya, kombinasi Iran–Rusia–Asia Tengah–Kaukasus–Laut Hitam dapat menjadi salah satu instrumen terpenting untuk meningkatkan ketahanan ekonomi Iran terhadap tekanan eksternal. Bukan karena jaringan tersebut menghapus sanksi, melainkan karena meningkatkan biaya penerapan sanksi dan memperbanyak pilihan ekonomi serta geopolitik Iran.
Pendekatan-pendekatan terbaru terhadap pengembangan Koridor Utara–Selatan dan persaingan memperebutkan koridor Eurasia juga menunjukkan bahwa perkembangan ini bukan sekadar hipotesis teoritis. Perkembangan tersebut mulai menjadi bagian dari penataan ulang nyata jaringan perdagangan dan transportasi Eurasia.
Bagi Iran, Georgia lebih dari sekadar mitra dagang. Negara ini merupakan jembatan strategis menuju Eropa, koridor menuju Asia Tengah, serta simbol kuat kemungkinan menghadapi sanksi AS dan keberhasilan dalam menjalankan kebijakan luar negeri yang independen.
Georgia, meskipun menghadapi tekanan Barat, terus memperdalam hubungannya dengan Iran. Kaukasus Selatan pun menjadi front baru dalam konflik berkelanjutan antara AS dan Republik Islam Iran—sebuah front di mana Iran terus mengambil langkah maju. (*)
Editor: Ufqil Mubin











