BERITAALTERNATIF.COM – Belakangan ini, Amerika Serikat terjebak dalam serangkaian krisis, mulai dari ketegangan dengan Iran, intervensi di Gaza dan Lebanon, perang yang berkepanjangan di Ukraina, hingga persaingan yang semakin meningkat dengan China. Situasi tersebut membuat sebagian fokus dan kekuatan AS harus dibagi di antara berbagai front.
Kondisi ini, meskipun Washington mengklaim ingin membendung China, menunjukkan tanda-tanda bahwa AS secara praktis mulai menjauh dari prioritasnya di kawasan Indo-Pasifik.
Contoh terbaru adalah pengerahan kapal induk USS George Washington dari Samudra Pasifik ke Timur Tengah untuk menggantikan USS Abraham Lincoln, yang telah menjalankan misi selama lebih dari 250 hari. Langkah tersebut untuk sementara membuat kawasan Pasifik Barat tanpa kehadiran kapal induk AS.
Krisis Beruntun
Kelanjutan intervensi di Asia Barat dan serangan agresif AS terhadap Iran, ditambah dengan komitmen militer Washington di Eropa serta persaingan yang semakin meningkat dengan China, telah meningkatkan biaya untuk mempertahankan kekuatan AS di berbagai front secara bersamaan.
Pemindahan kapal induk George Washington ke Asia Barat menjadi tanda terbaru dari biaya dan tekanan tersebut.
Pentingnya perpindahan ini semakin terlihat karena Pasifik Barat merupakan arena utama persaingan militer antara AS dan China. Associated Press dan Stars and Stripes melaporkan bahwa keluarnya George Washington dari kawasan tersebut, di tengah meningkatnya aktivitas militer China, menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan Washington mempertahankan daya tangkal serta memberikan rasa aman kepada para sekutunya.
Tekanan akibat perang tidak hanya terlihat dari perpindahan kapal dan pasukan, tetapi juga telah berdampak pada persediaan persenjataan AS.
Reuters pada 4 Agustus melaporkan bahwa militer AS selama konflik lima bulan dengan Iran telah menggunakan hampir seluruh persediaan rudal presisi jarak jauhnya, termasuk rudal ATACMS dan PSM. Selain itu, sekitar 65 persen rudal pencegat Patriot dan 38 persen pencegat THAAD telah digunakan, sementara hampir separuh rudal jelajah Tomahawk juga telah dikerahkan.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa persoalannya bukan sekadar pemindahan satu kapal induk atau perubahan sementara lokasi penempatan pasukan. Kelanjutan operasi militer AS di Timur Tengah telah memberikan tekanan terhadap sebagian kapasitas yang dibutuhkan Washington untuk mempertahankan daya tangkal terhadap para pesaing utamanya.
Reuters memperingatkan bahwa berkurangnya persediaan persenjataan dapat memengaruhi kesiapan AS menghadapi konflik di masa depan dengan kekuatan seperti China dan Rusia. Hal tersebut menjadi semakin penting bersamaan dengan kosongnya Pasifik Barat untuk sementara waktu dari kehadiran kapal induk Amerika.
Dari perspektif ini, perkembangan terbaru tidak dapat semata-mata dianggap sebagai tanda mundurnya AS dari Asia. Namun, kondisi tersebut dapat dilihat sebagai indikasi jelas mengenai biaya intervensi militer dan penyebaran kekuatan Washington.
Ketika AS menggunakan sebagian kapasitas militernya untuk melanjutkan perang di Timur Tengah, China di kawasan yang menjadi arena persaingan strategis terpenting dengan Washington masih memiliki kesempatan untuk meningkatkan aktivitas dan pengaruhnya. Kondisi inilah yang menjadi pertanyaan utama mengenai bagaimana Beijing memanfaatkan ruang baru tersebut.
Bagaimana China Memperluas Pengaruhnya?
Dalam menghadapi serangan agresif AS dan rezim Israel terhadap Iran, China, berbeda dengan Washington yang mengerahkan sebagian besar kekuatan militernya ke Timur Tengah, tidak terlibat dalam konfrontasi langsung. Pada saat yang sama, Beijing berupaya memanfaatkan dampak ekonomi dan geopolitik dari krisis tersebut untuk memperkuat posisinya.
Brookings Institution dalam sebuah laporan menyebutkan bahwa perang Iran memang menimbulkan sejumlah biaya bagi Beijing, seperti kenaikan harga energi. Namun, pada saat yang sama, perang tersebut menciptakan peluang bagi China untuk memperkuat posisinya dalam teknologi energi bersih, hubungan dengan negara-negara berkembang, serta narasi mengenai tatanan dunia multipolar.
Salah satu tanda paling jelas dari perkembangan tersebut terlihat di sektor energi dan transportasi. Reuters sebelumnya melaporkan bahwa ekspor truk listrik China setelah dimulainya perang Iran pada 28 Februari meningkat lebih dari dua kali lipat. Impor produk-produk tersebut ke negara-negara Asia Selatan juga meningkat lima kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Lonjakan harga bahan bakar akibat terganggunya lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz telah meningkatkan permintaan terhadap kendaraan listrik. Perusahaan-perusahaan China juga memanfaatkan kondisi tersebut dengan menawarkan model yang lebih murah serta paket lengkap kendaraan dan infrastruktur pengisian daya. Dengan demikian, mereka mulai mengambil alih pasar yang sebelumnya dikuasai produsen tradisional.
Peluang ini juga berkembang ke pasar-pasar yang lebih besar di negara-negara Global South. Perbandingan antara China dan AS memberikan gambaran yang lebih jelas.
Pada 2025, perdagangan China dan Afrika mencapai 348 miliar dolar AS, meningkat 17,7 persen. Ekspor China ke Afrika tumbuh lebih cepat dibandingkan impor Afrika. Beijing juga mulai menerapkan kebijakan tarif nol sejak Mei 2026 untuk barang-barang dari negara-negara Afrika yang memiliki hubungan diplomatik dengan China.
Langkah-langkah tersebut dilakukan ketika kebijakan tarif AS justru meningkatkan biaya akses berbagai negara berkembang ke pasar Amerika.
Pada saat yang sama, Beijing memanfaatkan berkurangnya konsentrasi militer AS untuk memperkuat posisinya di kawasan sekitarnya.
Menurut Reuters, ketika perhatian dunia terfokus pada perang di Timur Tengah dan Ukraina, China meningkatkan aktivitas militer dan strategisnya di kawasan Indo-Pasifik. Contoh terbaru adalah selesainya tahap pertama pembangunan di Antelope Reef di Laut China Selatan.
Citra satelit menunjukkan adanya sebuah pulau buatan dengan panjang hampir 6 kilometer, pelabuhan dengan dermaga sekitar 680 meter, serta infrastruktur dengan jalur lurus sepanjang lebih dari 3 kilometer yang pada masa mendatang dapat dikembangkan menjadi landasan pacu.
Infrastruktur tersebut, ketika AS memindahkan sebagian kekuatan lautnya ke Timur Tengah, dapat meningkatkan kemampuan China untuk mempertahankan kehadiran secara terus-menerus di kawasan tersebut.
Namun, keunggulan China dalam kondisi saat ini tidak semata-mata terletak pada peningkatan kekuatan militer atau ekonominya.
Keuntungan terbesar Beijing adalah kemampuannya mengubah krisis yang dialami pihak lain menjadi peluang untuk memperluas hubungan tanpa harus menanggung biaya politik dan militer yang sama.
AS harus memindahkan kapal induk, menghabiskan persediaan persenjataan, dan memusatkan sumber dayanya di Timur Tengah untuk mengelola berbagai perang. Sementara itu, China dapat secara bersamaan memperluas perdagangannya di pasar-pasar berkembang, menggantikan teknologi dan produk Barat yang lebih mahal dengan produk-produknya sendiri, serta meningkatkan kehadiran strategisnya di Asia Timur.
Perbedaan inilah yang membuat pertanyaan tentang bagaimana Beijing memperoleh keuntungan dari krisis Washington bukan lagi sekadar sebuah klaim umum, melainkan sebuah tren yang dapat diukur.
Persaingan di Tengah Krisis
Para ahli meyakini bahwa China tidak berusaha dengan cepat mengisi kekosongan yang ditimbulkan oleh keterlibatan AS dalam berbagai konflik. Sebaliknya, Beijing memanfaatkan tersebarnya kekuatan Washington untuk secara bertahap memperkuat hubungan ekonomi, keuangan, dan diplomatiknya.
Reuters melaporkan bahwa negara-negara Arab Teluk, seiring meningkatnya keraguan terhadap kemampuan AS, semakin memperhatikan peran China dalam mengelola ketegangan regional dan menjaga jalur perdagangan.
Tren tersebut juga terlihat dalam perdagangan China dengan negara-negara Asia. Perdagangan China dan ASEAN pada paruh pertama 2026 tumbuh 18,2 persen menjadi 4,34 triliun yuan. Ekspor listrik China ke negara-negara tersebut juga meningkat 42,9 persen menyusul kekhawatiran yang ditimbulkan oleh krisis energi.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa Beijing sedang mengubah kapasitas ekonominya menjadi instrumen untuk memperdalam ketergantungan dan hubungan timbal balik dengan negara-negara di kawasan.
China pada saat yang sama berusaha mengurangi ketergantungannya terhadap infrastruktur keuangan yang berada di bawah dominasi AS.
Berdasarkan data Administrasi Negara Devisa China, pada paruh pertama 2026 volume penerimaan dan pembayaran lintas batas sektor nonperbankan China mencapai 9,2 triliun dolar AS, sementara yuan mencakup 52,9 persen dari penyelesaian transaksi lintas batas negara tersebut.
Angka-angka tersebut, meskipun belum mengancam posisi dolar AS, menunjukkan berkembangnya kapasitas keuangan China yang lebih independen.
Di bidang politik, China juga memiliki posisi yang berbeda dari AS karena menjalin hubungan secara bersamaan dengan Iran dan negara-negara Arab di kawasan Teluk.
Beijing, tanpa terlibat langsung dalam konflik dan menanggung biaya militer seperti yang dihadapi Washington, dapat memanfaatkan hubungan ekonomi dan diplomatiknya untuk meningkatkan peran politiknya.
Dari perspektif ini, semakin lama berbagai krisis di kawasan tersebut berlangsung, semakin besar pula peluang China untuk memperkuat hubungan dan meningkatkan daya tawarnya, baik di kawasan maupun di luar kawasan. (*)
Sumber: Mehr News











