BERITAALTERNATIF.COM – Meski mendapat tekanan besar dari Amerika Serikat dalam bentuk perang dagang dan sanksi, China tetap mampu menjaga bahkan meningkatkan ekspornya dalam beberapa bulan terakhir.
Berdasarkan laporan bea cukai China yang dirilis pada hari Senin (8/9/2025), ekspor negara itu di bulan Agustus naik 4,4 persen dibanding tahun sebelumnya dan mencapai 322 miliar dolar.
Sementara impor hanya naik 1,3 persen. Meski begitu, kenaikan ini masih di bawah perkiraan para analis yang sebelumnya memperkirakan ekspor tumbuh 5 persen. Angka ini juga lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 7,2 persen pada Juli.
Di tengah kondisi ini, ekspor China ke AS justru terus mengalami penurunan tajam. Pada Agustus, ekspor ke AS turun 33 persen dibanding tahun lalu dan 11,8 persen dibanding bulan sebelumnya. Penurunan ini sudah berlangsung lima bulan berturut-turut. China hanya mengekspor 31,6 miliar dolar barang ke AS pada Agustus, turun dari 35,8 miliar dolar pada Juli.
Kebijakan dagang Presiden AS, Donald Trump, dengan menaikkan tarif dan memperketat aturan perdagangan, menjadi faktor utama yang menekan ekspor ini. Kebijakan tersebut juga mengacaukan rantai pasok global dan sempat menghentikan sementara sejumlah pengiriman.
Namun di sisi lain, ekspor China ke negara-negara lain justru tumbuh. Ekspor ke ASEAN naik hampir 23 persen, ke Uni Eropa naik 10 persen, dan ke Afrika melonjak 26 persen. Hal ini menunjukkan kemampuan China dalam memperluas pasar ekspornya sekaligus mengurangi ketergantungan pada AS. Dengan strategi dagang yang lebih luwes, China tetap menjadi mitra dagang terbesar bagi banyak negara di dunia.
Meski ketegangan dagang sempat tinggi, akhirnya kedua negara sepakat melakukan perjanjian sementara. Kesepakatan itu menurunkan sebagian tarif, di mana tarif AS atas barang-barang China turun menjadi 30 persen, sementara tarif China atas barang-barang Amerika turun menjadi 10 persen. Langkah ini membantu meredakan ketegangan dan menjaga stabilitas ekonomi kedua belah pihak.
Selain itu, impor minyak mentah China pada Agustus juga naik 0,8 persen dari tahun sebelumnya. Negara ini mengimpor 49,49 juta ton minyak mentah, setara 11,65 juta barel per hari. Peningkatan ini menandakan kenaikan permintaan energi dan keberlanjutan aktivitas industri.
Di sisi lain, ekspor produk olahan minyak juga meningkat 8,4 persen menjadi 5,33 juta ton. Ini mencerminkan kekuatan industri energi China yang tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik, tapi juga mampu menambah cadangan devisa lewat ekspor.
Secara keseluruhan, meski ditekan kebijakan dagang AS, China tetap berhasil menjaga stabilitas ekonominya. Dengan memperluas pasar ekspor dan meningkatkan produksi energi, China membuktikan kemampuannya mengubah tekanan menjadi peluang. (*)
Sumber: Fars News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin












