Search

AS Berupaya Memanfaatkan Keberhasilan Drone Iran

Juru bicara IRGC, Ali-Mohammad Naeini, mengatakan bahwa Amerika Serikat berusaha memahami dan meniru kemampuan drone Iran setelah beredar gambar yang menunjukkan Washington menyalin Shahed-136 buatan Iran.  (Mehr News).

BERITAALTERNATIFAli-Mohammad Naeini, juru bicara Pasukan Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC), menanggapi publikasi gambar yang menunjukkan upaya AS meniru drone Iran Shahed-136.

Dalam wawancara dengan Mehr News Agency, Naeini mengatakan pencapaian Republik Islam Iran yang terwujud berkat kekuatan domestik dan kerja para pakar muda Iran bukan sekadar slogan dan telah terbukti dalam konflik-konflik belakangan ini.

Naeini menyatakan bahwa ketika sebuah drone Iran menembus beberapa lapis pertahanan udara, terbang sejauh 2.000 kilometer, lolos dari deteksi bahkan di dekat sistem Iron Dome rezim Israel, dan mengenai sasaran dengan presisi, hal itu menunjukkan pencapaian teknologi yang “menakjubkan dan luar biasa” yang membuat pengamat di seluruh dunia terkagum-kagum.

Ia menambahkan bahwa Israel masih bertanya-tanya mengapa mereka tidak mampu membela diri dari serangan rudal Iran.

“Ketika kami meluncurkan sebuah rudal dalam salah satu dari dua puluh dua gelombang dan mereka tidak dapat mencegatnya, dan rudal itu mengenai sasaran yang dimaksud dengan presisi serta membawa daya hancur tinggi, hal itu menunjukkan bahwa musuh dengan semua aset teknologinya dan kemampuan maju di bidang drone, rudal, udara, dan pertahanan udara telah menempatkan formasi terorganisir yang telah dilatih secara menyeluruh, namun pada akhirnya gagal.”

Menyinggung salinan drone Shahed buatan AS tersebut, Naeini mengatakan musuh pada dasarnya telah mengakui kekalahannya sendiri. Ia menambahkan wajar bila para lawan berusaha memahami bagaimana Iran mengembangkan kemampuan ini dan mencoba mengambil manfaat dari pencapaian teknologi Iran.

The Wall Street Journal melaporkan pekan lalu bahwa militer AS menempatkan sebuah drone kamikaze di Asia Barat yang disalin dan direkayasa balik dari Shahed-136 Iran. Laporan itu menyebut upaya AS untuk mereplikasi desain dan kemampuan Shahed sebagai bagian dari respons terhadap efektivitas drone Iran di berbagai zona konflik.

Komando Pusat AS (CENTCOM) baru-baru ini mengumumkan pembentukan Scorpion Strike Task Force (TFSS). TFSS adalah skuadron Low-cost Unmanned Combat Attack Systems, LUCAS drone penyerang sekali pakai dengan biaya rendah yang dirancang untuk operasi taktis di wilayah yang rawan.

Bentuk badan pesawat yang kompak dan jejak radar rendah dari drone Shahed-136 membuat deteksi dini dan pencegatan menjadi sulit, terutama ketika diterjunkan dalam serangan kawanan besar. Biaya produksi yang rendah dan kemudahan peluncuran menjadikan pesawat yang dirancang Iran ini alat efektif untuk melumpuhkan dan mengganggu jaringan pertahanan udara musuh. Drone ini sering digunakan bersamaan dengan sistem ofensif lain dan berfungsi sebagai platform gelombang pertama untuk melemahkan pertahanan udara sebelum serangan rudal balistik atau munisi berpemandu presisi diluncurkan.

Dari sisi teknis, Shahed-136 memiliki kombinasi karakteristik yang membuatnya menonjol: desain bodi yang ringkas, bahan yang relatif sederhana, dan kemampuan navigasi yang memadai untuk mencapai target jarak jauh. Hal inilah yang memicu perhatian militer negara-negara Barat, karena platform murah semacam ini dapat mengubah dinamika konflik dengan biaya yang jauh lebih rendah dibanding pesawat berawak atau rudal konvensional.

Naeini menilai bahwa upaya reverse-engineering oleh AS menunjukkan dua hal: pertama, pengakuan bahwa teknologi Iran efektif di medan, dan kedua, kebutuhan Amerika untuk mengejar ketertinggalan dalam menghadapi ancaman baru yang bersifat asimetris. Menurutnya, bukan hal aneh jika sebuah negara mencoba menirukan teknologi yang terbukti mampu menghasilkan efek signifikan di medan perang.

Namun Naeini juga mengingatkan bahwa menyalin bentuk luar tidak serta merta menghasilkan kemampuan lengkap. “Memahami bentuk fisik saja tidak cukup; diperlukan pengetahuan mendalam tentang perangkat lunak, integrasi sistem, logistik produksi massal, serta teknik operasional yang mendukung penggunaan efektif di lapangan,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya pengalaman lapangan dan proses pengembangan yang berkelanjutan yang dimiliki oleh teknisi Iran.

Pengamat militer Barat juga pernah mencatat bahwa keberhasilan sistem seperti Shahed bergantung pada kombinasi taktik dan teknologi misalnya penggunaan kawanan, waktu peluncuran, penipuan elektronik, dan sinkronisasi dengan serangan lainnya. Dengan demikian, meniru satu aspek teknis tidak otomatis memberikan hasil yang sama tanpa adopsi taktik yang sesuai.

Pengumuman CENTCOM mengenai TFSS serta laporan tentang adaptasi model Shahed turut memicu diskusi lebih luas tentang bagaimana negara-negara menghadapi proliferasi drone murah dan berdaya rusak tinggi. Jika platform serupa menjadi umum dalam persenjataan beberapa negara, hal itu bisa mengubah pola pertahanan udara, memaksa sistem pertahanan untuk beradaptasi pada ancaman yang lebih murah dan lebih banyak jumlahnya.

Penempatan versi yang disalin oleh AS ke Asia Barat, sebagaimana dilaporkan, menunjukkan bahwa militer Washington sedang mencari solusi taktis cepat untuk menghadapi ancaman yang muncul. Tetapi seperti ditegaskan Naeini, upaya meniru tidak selalu mudah atau berhasil sepenuhnya.

Secara politis, klaim Iran dan respons terhadap laporan media internasional ini mencerminkan pertarungan narasi: di satu sisi Washington menunjukkan tindakan adaptasi, sementara di sisi lain Tehran menegaskan kemampuan domestiknya dan menekankan bahwa teknologi serta pengalaman tempur adalah hasil kerja keras internal. Perkembangan ini menegaskan bahwa drone murah dan otonom telah menjadi salah satu faktor yang mengubah wajah ancaman modern mendorong komunitas militer dan pembuat kebijakan untuk menyesuaikan strategi, teknologi, dan prosedur pertahanan. (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf

 

 

 

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA