Search

Araqchi: Eropa Jadi Fasilitator Keserakahan Washington

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF.COM – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan Eropa, yang dulu berperan sebagai kekuatan moderat dan berusaha menahan Amerika Serikat dengan ambisi maksimal di kawasan, kini justru berubah menjadi fasilitator keserakahan Washington.

Dalam tulisannya di harian The Guardian, Araqchi menegaskan bahwa lebih dari dua dekade Eropa berada di pusat krisis buatan yang terus berlanjut seputar program nuklir damai Iran. Menurutnya, peran Eropa mencerminkan gambaran lebih luas tentang keseimbangan kekuatan dalam hubungan internasional.

Dulu, Eropa mencoba menahan ambisi AS. Sekarang, mereka justru mendukung penuh langkah Washington. Pekan lalu, Inggris, Prancis, dan Jerman mengumumkan mengaktifkan mekanisme pemulihan sanksi PBB terhadap Iran. Padahal, langkah itu tidak memiliki dasar hukum karena mengabaikan rangkaian peristiwa yang membuat Iran terpaksa mengambil langkah kompensasi sesuai JCPOA.

Eropa ingin dunia melupakan fakta bahwa AS-lah yang keluar secara sepihak dari perjanjian, bukan Iran. Mereka juga mengabaikan kenyataan bahwa bukan hanya gagal memenuhi kewajiban, tetapi bahkan mendukung serangan terhadap Iran pada Juni lalu. Rusia dan Tiongkok menegaskan bahwa sikap selektif dalam menjalankan kewajiban internasional membuat langkah Eropa tidak sah.

Araqchi menekankan, langkah Inggris, Prancis, dan Jerman bukan sekadar reaksi emosional, melainkan strategi berisiko untuk mencari posisi di isu-isu global. Namun, ini adalah kesalahan besar. Trump sendiri melihat mereka hanya sebagai pemain kelas dua, terbukti dari tersisihnya Eropa dalam isu penting seperti krisis Rusia-Ukraina.

Pesan Washington jelas: agar dianggap penting, Eropa harus menunjukkan kesetiaan penuh. Foto para pemimpin Eropa duduk di hadapan Trump di Gedung Putih memperlihatkan hal itu. Padahal, ketika troika Eropa terbentuk tahun 2003 untuk menahan kebijakan Bush, Iran menyambut baik. Namun, negosiasi runtuh karena Eropa tak mampu memberikan tawaran berarti atau menolak tekanan AS. Saat itu, Iran hanya meminta tetap memiliki 200 sentrifugal, tapi ditolak karena tekanan Washington.

Setelah delapan tahun persaingan sanksi dan sentrifugal, Iran berhasil memiliki 20 ribu mesin, seratus kali lebih banyak dari 2005. Dua perubahan besar lalu membuka jalan JCPOA: pengakuan hak Iran melakukan pengayaan uranium oleh Eropa-AS, dan kesediaan Iran menerima AS sebagai mitra negosiasi. Dari situ lahirlah kesepakatan: pembatasan program nuklir dengan imbalan pencabutan sanksi.

Namun pada 2018, Trump menghentikan keterlibatan AS dan mengembalikan semua sanksi, memicu krisis baru. Awalnya, Eropa terlihat menyesal dan berjanji akan memperbaiki keadaan. Mereka bicara tentang “kemerdekaan strategis” dan memastikan perdagangan dengan Iran tetap berjalan. Namun janji itu tidak pernah ditepati. Jika mereka bisa menunjukkan satu saja janji yang dipenuhi, Iran rela melepaskan haknya untuk mengaktifkan mekanisme snapback.

Alih-alih memenuhi komitmen, Eropa malah menuntut Iran tunduk sepihak pada semua pembatasan. Ironisnya, mereka menolak mengecam serangan AS ke Iran pada Juni, namun kini menuduh Iran menolak dialog dan mendorong sanksi baru. Menurut Araqchi, permainan ini hanya akan merugikan Eropa sendiri.

Ia memperingatkan bahwa sikap mereka justru akan membuat Eropa tersisih dari diplomasi global. Meski begitu, Iran masih membuka ruang untuk dialog jujur, asalkan Eropa memahami arti sebenarnya dari “partisipasi” dalam JCPOA. Dukungan terbuka terhadap serangan ilegal ke fasilitas nuklir Iran, seperti yang dilakukan Kanselir Jerman, tidak bisa disebut sebagai “kemitraan.”

Rakyat Iran menuntut jaminan agar pelanggaran tidak terulang, namun Iran tetap siap berdiplomasi. Eropa harus sadar, mereka perlu mengubah arah, bukan demi Iran, tapi demi kepentingan mereka sendiri.

Iran siap kembali pada kesepakatan nyata: pengawasan ketat dan pembatasan nuklir dengan imbalan pencabutan sanksi. Jika kesempatan ini disia-siakan, dampaknya bisa sangat berbahaya, bukan hanya untuk kawasan, tetapi juga dunia.

Araqchi menutup dengan peringatan: jika Israel kembali nekat, pasukan Iran siap mengalahkan mereka hingga terpaksa berlindung pada “kakek” mereka, yaitu Amerika. Kegagalan Israel di musim panas lalu menghabiskan miliaran dolar dari pajak rakyat AS dan merusak citra Amerika sebagai negara yang sembrono dan mudah terseret konflik.

Jika Eropa benar-benar ingin solusi diplomatik, mereka harus memberi ruang dan waktu agar jalur damai ini berhasil. Jika tidak, hasil akhirnya tidak akan menyenangkan. (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA