BERITAALTERNATIF – Kondisi tersebut membuat Iran secara praktis tidak memiliki banyak pilihan dalam menjalin kemitraan strategis dengan tiga kekuatan besar dunia saat ini, yakni Cina, Rusia, dan Amerika Serikat. Dengan tertutupnya jalur menuju Washington, perhatian Iran pun mengarah kepada dua kekuatan lainnya, Cina dan Rusia. Namun selama bertahun-tahun, pendekatan Iran terhadap kedua negara ini lebih banyak bersifat alternatif, bukan strategis: jika kerja sama dengan Amerika dan Eropa menemui jalan buntu, barulah Teheran menoleh ke Timur. Pola pikir seperti ini dinilai membuat Iran kerap ragu dalam menentukan prioritas serta membaca secara jernih di mana sesungguhnya letak kepentingan jangka panjangnya.
Bias Persepsi Sejarah dan Realitas Politik Kontemporer
Di ruang publik dan media sosial, sebagian elite dan aktivis politik yang menolak pendalaman kerja sama dengan Rusia dan Cina kerap merujuk pada pengalaman sejarah masa Dinasti Qajar atau masa pendudukan Iran oleh Rusia untuk memperingatkan bahaya ketergantungan pada Moskow dan Beijing. Namun pendekatan ini dinilai mengabaikan dua hal penting.
Pertama, faktor sejarah kelam dalam hubungan Iran dan Amerika Serikat juga tidak pernah diulas secara seimbang, termasuk keterlibatan Washington dalam penggulingan pemerintahan Mohammad Mossadegh sebelum Revolusi Islam. Kedua, hubungan internasional bukanlah sesuatu yang statis; posisi, kepentingan, dan perilaku negara-negara besar terus berubah seiring waktu.
Sejumlah pengamat mengingatkan bahwa Imam Khomeini pernah menyatakan, “Jika pihak lawan memahami dan mengerti Iran, maka pintu hubungan dapat dipertimbangkan.” Namun hampir lima dekade setelah Revolusi, pola kebijakan Amerika terhadap Iran pada dasarnya belum menunjukkan perubahan mendasar. Sebaliknya, sistem politik di Rusia dan Cina justru mengalami transformasi signifikan. Dalam banyak isu, posisi ketiga negara—Iran, Cina, dan Rusia—kini semakin beririsan, baik dalam menentang unilateralisme Barat maupun dalam mendukung tatanan dunia multipolar.
Pentingnya Kepercayaan dan Konsistensi dalam Kebijakan Luar Negeri
Meski di dalam negeri sering dibahas soal ketidakpercayaan Iran terhadap Cina dan Rusia, sejumlah analis menilai bahwa justru ketidakpercayaan Beijing dan Moskow terhadap Teheran kini menjadi faktor yang tidak kalah besar. Akar persoalannya disebut terletak pada ketidakstabilan pengambilan keputusan dalam kebijakan luar negeri Iran.
Sebagai dua kekuatan besar, Cina dan Rusia mengharapkan mitra yang mengklaim sebagai “mitra strategis” memiliki konsistensi dalam garis kebijakan jangka panjang. Namun selama empat dekade terakhir, Iran beberapa kali mengubah orientasi utamanya: pada satu masa lebih condong ke Barat, pada masa lain mengusung slogan menjauh sepenuhnya dari Barat, lalu berbelok ke Timur tanpa menjadikannya sebagai kerangka strategis yang benar-benar berkelanjutan.
Contoh yang sering dikutip adalah pengembangan Pelabuhan Chabahar yang diserahkan kepada India, sebuah negara yang dikenal dekat dengan Amerika Serikat dan berposisi keras terhadap isu-isu terkait Israel. Ketika kemudian muncul risiko India mengurangi kehadirannya karena tekanan Washington, muncul ekspektasi bahwa Cina akan segera mengisi kekosongan tersebut. Dari sudut pandang Beijing, pola semacam ini menggambarkan mitra yang belum sepenuhnya jelas dalam perencanaan jangka panjang.
Pergantian pemerintahan yang cepat, polarisasi politik internal, serta tidak adanya satu suara nasional yang konsisten memperkuat persepsi bahwa setiap kesepakatan besar dengan Iran berpotensi terhambat atau bahkan dibatalkan ketika konfigurasi politik dalam negeri bergeser. Nasib yang belum jelas dari kontrak kerja sama 25 tahun dengan Cina kerap disebut sebagai ilustrasi konkret atas persoalan tersebut.
Peran Opini Publik dan Perang Narasi Media
Faktor lain yang dinilai menghambat terbangunnya hubungan strategis yang stabil dengan Cina dan Rusia adalah kondisi psikologis dan opini publik di dalam negeri. Ruang informasi di Iran dalam banyak kasus disebut sangat dipengaruhi oleh media berbahasa Persia di luar negeri serta sebagian arus dalam negeri yang kerap memberi label “kolonial” terhadap setiap bentuk kerja sama jangka panjang dengan Timur.
Setiap kali ada kesepakatan baru dengan Cina atau Rusia yang memasuki tahap pembahasan, narasi penolakan segera mengemuka—mulai dari tuduhan penjualan sumber daya nasional hingga klaim tidak berdasar seperti isu penjualan Pulau Kish kepada Cina. Narasi semacam ini dinilai menciptakan ketakutan, kecurigaan, serta resistensi sosial yang besar terhadap setiap langkah yang bersifat strategis dengan kekuatan-kekuatan Asia.
Pada saat yang sama, di sisi lain, Beijing dan Moskow relatif tidak mengalami tekanan opini publik serupa dalam kerja sama mereka dengan Teheran. Sebagai contoh, pemberian sebagian kapasitas Pelabuhan Astrakhan di Rusia kepada Iran tidak pernah digambarkan oleh media resmi Rusia sebagai “penjualan wilayah”. Perbedaan cara pengelolaan opini publik ini membuat pembentukan konsensus nasional di Iran menjadi lebih sulit dan memperkuat kesan di mata mitra Timur bahwa setiap keputusan strategis bersama Teheran dapat dengan mudah terguncang oleh gelombang tekanan media domestik.
Urgensi Pendekatan Realistis terhadap Timur dan Barat
Sejumlah analis menilai bahwa Teheran tidak seharusnya mengulangi kesalahan dekade 2010-an, ketika hampir seluruh perhatian diarahkan pada kehadiran Barat di Iran dan peluang yang muncul dari perundingan dengan Eropa dan Amerika Serikat. Dalam konteks konstelasi geopolitik saat ini, Iran dinilai perlu bersikap lebih realistis dalam menyikapi pembagian Timur dan Barat serta memanfaatkan ruang baru dalam tatanan dunia multipolar.
Pendekatan baru yang diusulkan adalah menggeser pola pikir dari “jika Barat menutup pintu, barulah kita ke Timur” menjadi desain kebijakan luar negeri yang sejak awal menempatkan Cina dan Rusia sebagai mitra strategis dengan struktur kepentingan bersama yang jelas. Hubungan tersebut harus dibangun sedemikian rupa sehingga meninggalkan kemitraan itu akan merugikan kedua belah pihak. Artinya, bukan hanya Iran yang merasa membutuhkan Cina dan Rusia, tetapi kedua negara tersebut juga memiliki kepentingan konkret yang membuat mereka berkepentingan menjaga kemitraan dengan Teheran.
Sebagai pembanding, Arab Saudi—yang selama ini dikenal sebagai salah satu mitra militer, politik, dan ekonomi terpenting Amerika Serikat di kawasan—kini justru aktif menandatangani kontrak besar di sektor pembangunan perkeretaapian dan infrastruktur dengan Cina. Langkah Riyadh ini dibaca sebagai sinyal kuat bahwa bahkan sekutu dekat Washington pun mulai menyeimbangkan kemitraannya dengan membuka ruang kerja sama luas dengan Beijing.
Dalam perspektif ini, sejumlah pengamat menilai Iran perlu lebih cepat mendefinisikan kepentingan utamanya di Timur, mulai dari kerja sama energi dan infrastruktur hingga teknologi dan keuangan. Tanpa definisi kepentingan yang tegas serta konsistensi kebijakan jangka panjang, hubungan dengan Cina dan Rusia akan tetap berada di level taktis dan instrumental, dan tidak akan naik kelas menjadi kemitraan strategis sejati yang mampu mengokohkan posisi Iran dalam tatanan dunia baru. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf












