Search

Amerika Serikat Dilanda Kekacauan Sosial serta Krisis Ekonomi dan Politik

Potret lingkungan kumuh di Amerika Serikat. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF.COM – Donald Trump, pada Senin (11/8/2025), mengakui tingginya tingkat kejahatan di ibu kota Amerika Serikat di tengah krisis ekonomi dan keputusasaan sosial.

Ia menyebut akan mengerahkan Garda Nasional ke jalan-jalan Washington DC serta menempatkan kepolisian metropolitan di bawah kendali federal sebagai solusi darurat.

Langkah ini memicu perdebatan sengit di kancah politik AS dan mencerminkan jurang dalam antara pemerintah pusat dan otoritas lokal.

Menyusul perintah Trump, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengumumkan bahwa Garda Nasional akan ditempatkan di Washington DC dan mulai turun ke jalan pada pekan depan.

Trump membandingkan tingkat kejahatan di Washington DC yang, menurutnya, dua hingga tiga kali lebih tinggi daripada Baghdad, Panama City, Mexico City, dan Lima. Data menunjukkan, meski populasinya tidak terlalu besar, tingkat pembunuhan dan kejahatan kekerasan di kota ini termasuk yang tertinggi di dunia.

Kejahatan tidak hanya terbatas pada pembunuhan, tetapi juga perampokan bersenjata, perkelahian jalanan, penyerangan fisik, hingga kejahatan terorganisir di lingkungan pemukiman.

Trump menekankan bahwa krisis keamanan ini bukan lagi persoalan lokal, melainkan masalah nasional yang merusak citra Amerika di mata dunia. Karena itu, ia memandang perlu intervensi langsung pemerintah federal.

Selain krisis keamanan, AS juga menghadapi masalah ekonomi akibat kebijakan pemerintah federal: tarif perdagangan yang tinggi, pembatasan impor, ketidakstabilan kebijakan moneter, dan tekanan politik terhadap Federal Reserve.

Menurut data resmi Departemen Tenaga Kerja AS, tingkat pengangguran pada Juli 2025 mencapai 4,2%—tertinggi dalam dua tahun terakhir. Penambahan lapangan kerja hanya 73 ribu, jauh di bawah perkiraan, sementara revisi data Mei dan Juni menunjukkan pengurangan total lebih dari 250 ribu pekerjaan dari estimasi awal. Inflasi tahunan mencapai 2,8%, dan inflasi inti 3,1%, melebihi target resmi bank sentral. Kondisi ini mengarah pada stagflasi—pertumbuhan rendah disertai inflasi tinggi.

Di bidang sosial, polarisasi politik antara Partai Demokrat dan Republik mencapai titik tertinggi dalam beberapa dekade. Survei AP/NORC menunjukkan hanya 25% warga yang menilai kebijakan pemerintah menguntungkan mereka, sedangkan hampir setengah merasa dirugikan. Lembaga riset Pew melaporkan tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah federal hanya 22%, salah satu yang terendah dalam sejarah.

Di sektor kesehatan, jutaan warga menghadapi kenaikan premi asuransi dan penurunan layanan. Penghapusan sebagian Affordable Care Act membuat banyak keluarga berpendapatan rendah dan lansia kehilangan perlindungan kesehatan atau menanggung biaya tinggi. Pada 2025, rata-rata premi asuransi keluarga empat orang mencapai lebih dari USD 24 ribu per tahun, naik 18% dibanding dua tahun sebelumnya.

Bencana alam juga menyingkap kelemahan manajemen krisis pemerintah. Banjir besar di Texas pada Juli 2025 menewaskan lebih dari 135 orang dan merusak ribuan rumah. Laporan Kongres menyebut FEMA kekurangan personel, anggaran, dan koordinasi, sehingga banyak korban tidak mendapat bantuan memadai.

Selain itu, tingkat kemiskinan di beberapa negara bagian selatan dan wilayah industri lama melebihi 15%, kesenjangan ekonomi melebar, dan tunawisma meningkat—mencapai lebih dari 660 ribu orang pada 2025.

Gabungan krisis keamanan, ekonomi, sosial, dan manajemen bencana menciptakan gambaran negara yang mengalami erosi dari dalam. Bagi Trump, pengerahan Garda Nasional adalah langkah tegas untuk memulihkan ketertiban dan menunjukkan ketegasan pemerintah pusat. Namun, banyak pihak menilai masalah-masalah ini terlalu kompleks dan berakar dalam untuk diselesaikan dengan langkah militeristik semata.

Situasi ini mendorong masyarakat pada pesimisme dan kekhawatiran akan masa depan, dengan kepercayaan terhadap perbaikan kondisi yang terus menurun. (*)

Sumber: Mehr News
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA