BERITAALTERNATIF.COM – Dengan semakin dekatnya pertemuan keempat negara Mesir, Arab Saudi, Turki, dan Pakistan di Kairo, spekulasi mengenai hakikat sebenarnya dari mekanisme regional ini semakin meningkat. Meskipun para pejabat dari empat negara tersebut masih menggunakan bahasa yang hati-hati seperti “koordinasi”, “konsultasi”, dan “kerja sama regional”, banyak pengamat berpendapat bahwa perkembangan pesat di Timur Tengah, khususnya setelah perang Gaza, agresi berulang rezim Zionis terhadap Lebanon, Suriah, dan Iran, serta menurunnya kepercayaan terhadap jaminan keamanan Amerika Serikat, telah membuka jalan bagi terbentuknya sebuah konfigurasi regional baru.
Pertemuan mendatang di Kairo merupakan putaran keempat konsultasi bersama antara empat negara regional ini. Sebelumnya, tiga pertemuan telah diselenggarakan di Riyadh, Islamabad, dan Antalya, Turki. Meskipun secara resmi tujuan pertemuan-pertemuan ini disebut sebagai pembahasan cara mengurangi ketegangan dan mengelola krisis regional, namun melihat perkembangan yang terjadi menunjukkan bahwa agenda pertemuan ini secara bertahap telah melampaui pembahasan diplomatik semata dan meluas kepada isu-isu strategis seperti pengaturan keamanan regional, keamanan energi, perlindungan jalur laut, serta masa depan tatanan politik Timur Tengah.
Menghadapi Kebijakan Agresif Israel
Banyak analis regional meyakini bahwa faktor utama yang mendekatkan keempat negara ini adalah kebijakan agresif rezim Zionis di kawasan. Perang Gaza yang dimulai sejak Oktober 2023, serangan besar Israel terhadap Lebanon, serangan berulang terhadap wilayah Suriah, dan pada akhirnya perang terhadap Iran, menyebabkan banyak negara di kawasan merasa khawatir terhadap dampak jangka panjang kebijakan Tel Aviv.
Menurut para analis ini, persoalannya bukan hanya sebuah perang atau krisis sementara, melainkan kekhawatiran terhadap sebuah proyek yang telah berulang kali dibicarakan oleh para pejabat Israel; sebuah proyek yang didasarkan pada perancangan ulang tatanan kawasan melalui kekuatan militer dan pemaksaan berbagai realitas baru terhadap negara-negara regional.
Berbagai pernyataan Benjamin Netanyahu mengenai “perubahan peta Timur Tengah” dalam beberapa tahun terakhir, di banyak ibu kota kawasan dipandang sebagai tanda keinginan Israel untuk memperluas pengaruh dan campur tangan dalam struktur keamanan negara-negara regional. Oleh karena itu, banyak pengamat menilai kerja sama yang semakin meningkat antara Mesir, Arab Saudi, Turki, dan Pakistan harus dilihat dalam kerangka upaya negara-negara kawasan untuk menciptakan semacam keseimbangan menghadapi arah tersebut.
Dalam kerangka ini, sebagian pejabat dan media Israel juga menyatakan kekhawatiran terhadap pembentukan apa yang mereka sebut sebagai “poros Sunni baru”. Benjamin Netanyahu beberapa bulan lalu secara terbuka berbicara tentang kemungkinan terbentuknya poros regional baru yang dapat menjadi tantangan bagi Israel di masa depan. Sebelumnya, sejumlah tokoh politik dan keamanan rezim Zionis juga telah memperingatkan kedekatan Turki, Mesir, Arab Saudi, dan Pakistan.
Kekhawatiran Israel terhadap Kerja Sama Keamanan dan Pertahanan Empat Negara
Kekhawatiran Tel Aviv tidak hanya terbatas pada dimensi politik dari kerja sama ini. Hal yang paling membuat kalangan keamanan Israel khawatir adalah kemungkinan meluasnya kerja sama keamanan dan pertahanan antara negara-negara tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan Kairo dan Ankara setelah periode panjang ketegangan memasuki tahap baru. Pertemuan berulang para pejabat kedua negara, perkembangan kerja sama ekonomi, serta dimulainya kembali sejumlah kerja sama militer dan keamanan menunjukkan bahwa kedua pihak sedang melewati perbedaan-perbedaan masa lalu.
Pada saat yang sama, kerja sama pertahanan antara Arab Saudi dan Pakistan juga memasuki tahap baru. Penandatanganan berbagai kesepakatan keamanan dan militer antara Riyadh dan Islamabad, terutama dalam kondisi Pakistan sebagai salah satu dari sedikit kekuatan nuklir di dunia Islam, menarik perhatian banyak analis.
Dari sudut pandang strategis, pentingnya kerja sama ini semakin terlihat ketika dikaitkan dengan menurunnya kepercayaan negara-negara kawasan terhadap Amerika Serikat. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak pemerintah regional sampai pada kesimpulan bahwa Washington tidak lagi memiliki keinginan atau kemampuan seperti sebelumnya untuk menjamin keamanan para sekutunya.
Perkembangan di Afghanistan, ketidakmampuan Amerika dalam mengendalikan krisis regional, dan perubahan berulang dalam kebijakan luar negeri negara tersebut membuat banyak aktor regional mencari mekanisme keamanan yang lebih mandiri.
Dalam hal ini, perang terbaru terhadap Iran juga berperan penting dalam mempercepat proses tersebut. Banyak negara kawasan melihat bahwa sebuah konflik besar dapat dalam waktu singkat memengaruhi keamanan energi, perdagangan laut, dan stabilitas ekonomi seluruh kawasan.
Karena itu, pembahasan mengenai pembentukan pengaturan keamanan baru dan mekanisme yang berpusat pada kawasan menjadi lebih penting dibanding sebelumnya.
Dari sudut pandang Republik Islam Iran, keamanan kawasan harus dijamin oleh negara-negara kawasan itu sendiri. Keterlibatan kekuatan di luar kawasan bukan hanya tidak membantu stabilitas, tetapi justru menjadi faktor utama berbagai krisis.
Teheran selama beberapa tahun terakhir berulang kali menekankan perlunya pembentukan mekanisme keamanan lokal serta kerja sama antara negara-negara Islam dan regional.
Dalam kondisi seperti ini, setiap kedekatan antara kekuatan-kekuatan penting kawasan dapat dinilai sebagai langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap aktor asing dan bergerak menuju pengaturan keamanan yang lebih mandiri.
Meskipun Iran bukan anggota mekanisme empat negara ini, namun banyak tujuan yang diumumkan, seperti penolakan terhadap perang, mencegah meluasnya ketidakstabilan, dan menekankan solusi regional, memiliki kesamaan dengan posisi yang selama ini disampaikan Teheran.
Namun demikian, jalan untuk mengubah kerja sama ini menjadi sebuah aliansi yang solid dan berkelanjutan tidaklah mudah. Perbedaan pandangan mengenai sejumlah isu regional, persaingan geopolitik, serta perbedaan prioritas kebijakan luar negeri negara-negara anggota masih menjadi hambatan dalam proses ini.
Selain itu, Amerika Serikat dan rezim Zionis juga terus mengikuti perkembangan kerja sama ini dengan cermat. Laporan-laporan yang diterbitkan oleh media Barat dan Israel menunjukkan bahwa Tel Aviv sangat sensitif terhadap segala bentuk konvergensi keamanan antara negara-negara penting kawasan.
Dari perspektif Israel, terbentuknya mekanisme apa pun yang dapat mengubah keseimbangan kekuatan regional berarti terbatasnya ruang gerak rezim tersebut di masa depan.
Kesimpulan
Terlepas dari berbagai tantangan ini, kenyataannya perkembangan dua tahun terakhir di Timur Tengah telah mengubah banyak perhitungan tradisional. Perang Gaza, kegagalan proyek normalisasi, meningkatnya penolakan opini publik dunia Islam terhadap kebijakan Israel, serta menurunnya kepercayaan terhadap peran AS telah menciptakan kondisi baru. Dalam kondisi ini, negara-negara kawasan semakin terdorong menuju kerja sama internal regional.
Pertemuan Kairo dapat dinilai dalam kerangka tersebut; sebuah pertemuan yang meskipun belum menggunakan istilah “aliansi” atau “persatuan”, tetapi dapat menjadi salah satu tanda penting terbentuknya tatanan baru di kawasan.
Sebuah tatanan di mana negara-negara regional berusaha menentukan keamanan dan masa depan mereka sendiri tanpa bergantung kepada kekuatan asing.
Pada akhirnya, pesan terpenting dari perkembangan ini adalah bahwa banyak aktor kawasan tidak lagi bersedia jika nasib Timur Tengah hanya ditentukan di Tel Aviv, Washington, atau pusat kekuatan luar kawasan lainnya.
Tampaknya gagasan “keamanan kawasan oleh negara-negara kawasan” semakin berubah menjadi sebuah kebutuhan strategis. Dan pertemuan Kairo dapat menjadi langkah lain menuju terwujudnya gagasan tersebut. (*)
Sumber: Mehr News












