Search

Aksi Bunuh Diri di Militer Israel karena Trauma Perang Gaza Kian Meningkat

Aksi bunuh diri kian meningkat di tubuh militer Israel. (Tasnim News)

BERITAALTERNATIF.COM – Media Israel melaporkan adanya peningkatan tajam kasus bunuh diri di kalangan pasukan pendudukan. Sejak awal tahun ini, 18 tentara dilaporkan mengakhiri hidupnya sendiri, menandakan runtuhnya kondisi psikologis yang meluas di tubuh militer setelah perang Gaza.

Media berbahasa Ibrani mengakui bahwa bunuh diri telah menjadi fenomena berulang di dalam militer Israel sejak dimulainya serangan ke Gaza.

Kasus terbaru menimpa seorang prajurit Brigade Golani yang ditemukan tewas di sebuah pangkalan militer di wilayah Palestina yang diduduki. Militer mengonfirmasi kejadian tersebut, menyebut jenazah ditemukan di dalam pangkalan, namun tidak memberikan rincian lokasi maupun identitas korban.

Beberapa pekan sebelumnya, jasad perwira Yosef Haim ditemukan di hutan dekat Ramat Biriya, wilayah pendudukan di utara. Sebelumnya lagi, seorang tentara dari Brigade Lapis Baja 401 juga dilaporkan bunuh diri setelah bertugas di Gaza.

Meski ada sensor militer ketat yang membatasi publikasi angka korban sebenarnya, harian Haaretz mengungkap bahwa tujuh tentara bunuh diri hanya dalam bulan Juli lalu. Akibatnya, divisi sumber daya manusia militer terpaksa membentuk komite khusus untuk meninjau dukungan kesehatan mental bagi wajib militer maupun pasukan cadangan.

Sebuah studi yang dikutip media Israel menyebut sebagian besar kasus bunuh diri berkaitan dengan kondisi tak tertahankan yang dialami tentara selama perang Gaza. Data menunjukkan hingga kini, sepanjang 2025, sudah ada 18 tentara yang bunuh diri.

Lebih dari 10.000 tentara dilaporkan sedang menjalani perawatan akibat trauma psikologis, termasuk PTSD (gangguan stres pascatrauma). Namun hanya 3.769 orang yang benar-benar mendapat akses ke perawatan khusus.

Itamar Graf, pejabat senior di Kementerian Perang Israel, mengakui, “Kami sudah menyediakan solusi dan membentuk tim terapis untuk memantau kasus-kasus ini. Namun sayangnya, masih banyak insiden bunuh diri, dan fenomena ini terus meningkat. Setiap bunuh diri adalah kekalahan bagi kami.”

Media Walla mencatat tren bunuh diri yang kian mengkhawatirkan: 17 tentara bunuh diri pada 2023, meningkat menjadi 21 kasus pada 2024, dan kini 18 kasus sudah terjadi hanya dalam tahun 2025.

Profesor Hagai Hermes, seorang psikiater yang anaknya sendiri bunuh diri saat bertugas, menilai angka resmi hanyalah “puncak dari gunung es.”

Ia memperkirakan ada 500 hingga 700 kasus bunuh diri setiap tahun di seluruh masyarakat Israel. Dia menekankan pentingnya transparansi terkait skala sebenarnya dari krisis ini.

Sementara itu, media investigasi Shomrim melaporkan bahwa sebagian besar kasus bunuh diri tahun lalu menimpa pasukan cadangan, meskipun pihak militer mengklaim jumlahnya tidak besar jika dibandingkan dengan gelombang mobilisasi massal sejak 7 Oktober.

Profesor Yossi Levi Belaz dari Pusat Riset Bunuh Diri Universitas Rupin memperingatkan adanya potensi “gelombang bunuh diri” di kalangan tentara Israel.

Dia menekankan luka psikologis mendalam akibat perang Gaza menjadi faktor utama.

Menurutnya, setelah 7 Oktober, para tentara Israel sadar bahwa ada musuh eksternal yang lebih besar. Para pasukan cadangan terkena dampak paling berat dan banyak yang terus mengalami stres pascatrauma.

“Kita akan melihat gelombang besar bunuh diri selama dan setelah perang ini, karena mereka tidak mampu menanggung konsekuensi dari apa yang mereka alami,” ujarnya. (*)

Sumber: Tasnim News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA