BERITAALTERNATIF.COM – Prof. Dr. Ince Raden menjadi satu-satunya calon rektor Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) Tenggarong yang ditetapkan oleh Yayasan Kutai Kartanegara (YKK) sebagai calon rektor Unikarta periode 2025-2029.
Prof. Ince adalah petahana yang sebelumnya telah menjabat sebagai orang nomor satu di Unikarta selama empat tahun.
Dia merupakan rektor yang disebut-sebut sebagai pemimpin Unikarta yang telah membawa berbagai keberhasilan, baik dari aspek pengembangan infrastruktur maupun sumber daya manusia, di Kampus Ungu.
Artikel ini merupakan bagian kedua atau terakhir dari wawancara kami pada Sabtu (6/12/2025) yang diterbitkan secara berseri di Berita Alternatif.
Dari mana sumber pendanaan untuk pembangunan Unikarta selama ini?
Seperti yang Anda ketahui, dan mungkin juga masyarakat sudah tahu, selama periode saya yang pertama, kami memang berupaya untuk mendapatkan berbagai sumber pendanaan dari luar. Baik pendanaan untuk penelitian, untuk pembangunan infrastruktur, maupun kebutuhan lainnya. Semua itu tetap kami lakukan dengan koordinasi bersama Yayasan Kutai Kartanegara, Pak Agus, dan rekan-rekan yang lain.
Alhamdulillah, hasil dari upaya tersebut kini cukup terasa. Kita terbantu dengan adanya pembangunan pagar kampus, taman yang lebih tertata, serta perpustakaan yang kondisinya kini jauh lebih baik. Di perpustakaan, kita bahkan sudah memiliki fasilitas podcast yang kedap suara dengan kualitas yang cukup memadai untuk digunakan secara profesional. Mungkin Anda bisa melihat langsung fasilitas itu—karena memang sudah layak dan cukup representatif.
Itulah langkah-langkah yang kami lakukan dalam pembangunan infrastruktur. Walaupun belum mampu membangun sesuatu yang berskala besar, tetapi ada proses, ada usaha, dan ada progres nyata dari waktu ke waktu. Dengan sumber daya yang terbatas, kami tetap berusaha agar selalu ada perbaikan.

Harapan kami ke depan, perkembangan ini bisa semakin besar. Ibaratnya, dari langkah-langkah kecil ini kita perlahan melebar, sehingga dapat menumbuhkan kepercayaan (trust) dari berbagai pihak—baik perusahaan, pemerintah daerah, maupun siapa pun yang ingin bekerja sama dengan Unikarta. Kita sangat terbuka untuk itu.
Saya sadar bahwa hasilnya memang belum maksimal. Tetapi itulah capaian terbaik yang bisa kami raih pada periode sebelumnya, 2021–2025.
Apa saja tantangan yang Anda hadapi dalam proses pengembangan SDM Unikarta?
Terkait SDM dan peningkatan infrastruktur, tantangan yang kami hadapi cukup beragam. Dosen-dosen kita memiliki rentang usia yang sangat variatif. Ada yang sudah sangat senior, bahkan sudah berusia di atas 60 tahun—sementara batas pensiun dosen adalah 65 tahun. Ada juga dosen yang berusia 50-an, 40-an, hingga 30-an ke bawah. Kondisi ini tentu menghadirkan tantangan tersendiri.
Tantangan pertama yang dulu sering disebut adalah masalah keuangan. Namun saat ini, menurut saya hal itu tidak lagi terlalu berat. Karena sekarang tersedia berbagai program funding, seperti LPDP maupun beasiswa dari Kemendikbudristek, termasuk Beasiswa Gratispol dan Beasiswa Kukar Idaman, yang bisa membiayai studi doktoral (S3). Bahkan beberapa lembaga swasta pun menyediakan dukungan pembiayaan. Karena itu, sebagian besar dosen yang sedang melanjutkan pendidikan saat ini memperoleh beasiswa dari berbagai sumber tersebut. Kampus memang memberi insentif tambahan, meski nilainya terbatas, sebagai dukungan internal.
Tantangan yang lebih nyata justru berasal dari faktor usia dan motivasi melanjutkan studi. Ada dosen-dosen senior yang merasa usia mereka sudah tidak memungkinkan untuk mengambil studi doktoral. Mereka sudah sangat berpengalaman, tetapi tidak semua lagi siap untuk kembali kuliah. Ini menjadi tantangan karena di saat yang sama, kita harus meningkatkan jumlah doktor dan memperkuat jabatan fungsional.
Selain itu, ada juga pembatasan administratif, terutama bagi dosen yang berstatus ASN—jumlahnya sekitar 18 orang. Aturan kepegawaian membuat ruang gerak mereka untuk melanjutkan studi atau meningkatkan jabatan fungsional lebih terbatas.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, kami mengambil langkah strategis dengan merekrut dosen-dosen baru. Pada saat pengangkatan, kami membuat surat pernyataan bahwa setelah beberapa tahun mengabdi, mereka wajib melanjutkan pendidikan ke jenjang S3. Selain itu, mereka juga diarahkan untuk segera mengurus jabatan fungsional setelah 1–2 tahun bekerja di Unikarta.
Langkah ini penting agar proses kenaikan jabatan fungsional dapat berjalan, sekaligus membuka peluang mereka melanjutkan pendidikan doktoral. Kami juga aktif mencarikan sponsor, baik dari pemerintah maupun pihak swasta, agar dosen-dosen ini dapat memperoleh beasiswa.
Apakah fasilitas yang tersedia saat ini sudah mencukupi untuk mengakomodasi proses belajar mengajar di Unikarta?
Dari sisi infrastruktur, memang sudah banyak peningkatan yang telah dilakukan. Namun, jika pertanyaannya apakah saat ini sudah mencukupi untuk mengakomodasi seluruh kebutuhan kampus, jawabannya: untuk beberapa aspek sudah cukup, tetapi untuk aspek lain masih sangat kurang.
Dengan tujuh fakultas, satu program pascasarjana, dan dua belas program studi, ketersediaan ruang kelas untuk saat ini sebenarnya masih mencukupi. Hal ini karena perkuliahan tersebar pada jadwal pagi, siang, dan sore. Bahkan perkuliahan malam sekarang jumlahnya sudah jauh berkurang dibandingkan sebelumnya. Jadi untuk ruang kelas pendidikan reguler, kita relatif aman.
Namun ada beberapa infrastruktur yang masih menjadi kekurangan besar. Pertama, kita belum memiliki ruang besar yang mampu menampung mahasiswa dalam jumlah ratusan orang, seperti kebutuhan untuk stadium generale atau seminar besar. Fasilitas seperti itu sangat dibutuhkan.
Kedua, ruang untuk kegiatan pertemuan atau rapat dengan kapasitas 30–40 orang juga sangat terbatas. Saat ini kita hanya memiliki satu ruang rapat di lingkungan universitas, yakni di gedung rektorat. Ruangan tersebut hampir selalu terpakai. Kalau ada tamu-tamu tertentu, misalnya ketika ada Ibu Hetifah yang harus melakukan zoom meeting, kita terpaksa menggunakan ruang kelas untuk menggantikannya. Padahal idealnya ada beberapa ruang pertemuan yang memadai, termasuk ruang dengan kapasitas sekitar 200 orang.
Di bagian ini, kami benar-benar masih kekurangan fasilitas. Karena itu, kami terus berkomunikasi dengan yayasan agar fasilitas besar seperti auditorium dan ruang-ruang penunjang lainnya dapat segera diprioritaskan pembangunannya. Saya sebagai rektor juga berusaha menjalin komunikasi dengan berbagai pihak luar untuk mendorong percepatan penyediaan fasilitas tersebut. Khususnya auditorium, yang menurut saya sangat penting dan mendesak untuk segera diselesaikan.
Apakah Anda sudah memiliki skema untuk menyelesaikan pembangunan auditorium?

Auditorium itu sangat penting bagi Unikarta. Terkait skema penyelesaiannya, kita sebenarnya sudah memiliki rencana dan desain finalnya. Gambarnya sudah selesai, sudah diperbaiki, dan diperbaharui sesuai kebutuhan terkini. Desain itu juga sudah dikomunikasikan dengan yayasan, bahkan sudah pernah kita presentasikan kepada pihak-pihak yang berpotensi membantu, termasuk PT Bayan. Jadi harapannya, perusahaan-perusahaan ini—khususnya PT Bayan—bisa segera mendukung penyelesaiannya.
Dalam paparan kebutuhan infrastruktur, saya sudah mempresentasikan langsung kepada yayasan dan juga kepada PT Bayan. Dan komunikasi itu sejalan dengan saran dari yayasan. Fokus utama kita memang auditorium. Setelah itu, baru pengembangan bisnis center yang menghadap ke jalan utama. Selain itu, beberapa ruangan di dalam kampus juga akan kita renovasi dan tingkatkan. Semua itu sudah ada gambarnya, rencana teknisnya, dan estimasi biayanya. Saat ini sudah masuk tahap pembahasan dengan pihak perusahaan.
Kenapa sebelumnya kami belum mengajukan ke pemerintah daerah? Karena pada saat itu Bupati Edi dan Ketua DPRD, Pak Rasid, memberikan rekomendasi agar kami terlebih dahulu berkomunikasi dengan beberapa perusahaan. Rekomendasi itu diberikan setelah kami menyampaikan permohonan kepada mereka bersama Ketua Yayasan. Karena itulah kami fokus mencari dukungan dari perusahaan-perusahaan di Kukar. Dan alhamdulillah, ada hasilnya. Contoh nyata adalah pembangunan masjid. Sekitar 98 persen pendanaannya berasal dari perusahaan-perusahaan, baik perusahaan daerah maupun perusahaan pertambangan. Pemerintah daerah juga membantu, seperti pembangunan menara masjid, dan ada dukungan pribadi dari Pak Edi serta Pak Rasid.
Kami memang harus memilih skala prioritas. Auditorum ini jika dihitung total biayanya, termasuk interior dan mobilernya, mencapai lebih dari Rp 40 miliar. Dalam desain kami, jika auditorium selesai, fakultas-fakultas yang masih menumpang di ruang-ruang kuliah akan dipindahkan ke gedung auditorium. Sudah disiapkan tujuh fakultas lengkap dengan ruang dekan, ruang prodi, ruang rapat senat, dan ruang layanan. Lantai satu dan dua untuk auditorium, dan direncanakan akan ada lantai tiga. Semua perencanaan itu sudah berjalan. Termasuk site plan pengembangan untuk lahan 2,3 hektare juga sudah rampung.
Jadi memang masih banyak yang harus dikerjakan, dan itu menjadi target kita agar setiap waktu ada peningkatan yang signifikan. Harapannya, dengan dukungan semua pihak, terutama perusahaan-perusahaan yang sudah kami ajak berkomunikasi, auditorium bisa segera terealisasi.
Apakah PT Bayan bisa membantu seluruh pembiayaan untuk merampungkan pembangunan auditorium?
Sejujurnya saya belum bisa memastikan secara detail. Namun pada prinsipnya, harapan kita adalah auditorium ini bisa segera selesai dengan dukungan perusahaan. Soal apakah PT Bayan bisa membantu sepenuhnya, atau hanya sebagian, lalu sisanya ditopang perusahaan lain—itu semua masih terbuka dan belum kita bahas secara final. Yang jelas, dari seluruh perusahaan yang ada, baru PT Bayan yang sudah kita presentasikan secara langsung terkait desain dan kebutuhan anggarannya. Presentasi itu kita lakukan bersama Ketua Yayasan pada waktu itu.
Bagaimana Unikarta menyikapi fakta bahwa banyak kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat masih dikerjasamakan Pemkab Kukar dengan pihak luar?
Terima kasih, ini pertanyaan yang sangat menarik. Saya perlu sampaikan bahwa Universitas Kutai Kartanegara sebenarnya belum memiliki seluruh tenaga ahli yang dibutuhkan dalam riset-riset tertentu yang diminta oleh Pemkab. Jadi wajar jika sebagian kebutuhan itu masih harus dikerjakan melalui kerja sama dengan pihak luar.
Namun demikian, harapan kami sederhana: jika SDM yang dibutuhkan sudah ada di Kukar, maka sebaiknya kerja sama tersebut melibatkan Unikarta. Dan dalam praktiknya, saya memantau betul bahwa dosen-dosen Unikarta sebenarnya sudah sangat aktif bekerja sama dengan pemerintah daerah dan pihak swasta. Jejak aktivitas itu terekam di LPPM, di fakultas, maupun melalui surat tugas dari rektorat. Jumlahnya sangat banyak, bahkan kadang sampai over activity, sehingga beberapa terpaksa kami tolak.
Meski begitu, jika Pemkab tetap bekerja sama dengan perguruan tinggi dari luar daerah, menurut saya tidak masalah selama dilakukan dengan model kolaborasi. Idealnya, tim dari luar tersebut digabungkan dengan tim dosen Unikarta. Karena dalam riset yang berkaitan dengan kondisi lapangan, mohon maaf, teman-teman dari luar mungkin punya metode riset yang lebih canggih atau pengalaman lebih luas, tetapi pemahaman kondisi nyata di lapangan justru lebih dimiliki oleh dosen-dosen di Kukar. Jika tidak disinergikan, ada risiko interpretasi dan generalisasi hasil riset tidak sesuai dengan realitas lapangan.

Karena itu saya menekankan, bukan berarti semua riset harus dikerjakan sendiri oleh Unikarta. Tidak begitu. Yang penting adalah bagaimana kerja sama dengan kampus luar itu menciptakan transfer knowledge, membangun jejaring, dan memberi dampak pada peningkatan kualitas SDM kita. Apalagi jika riset itu melibatkan mahasiswa—nilai tambahnya akan jauh lebih baik.
Model kolaborasi seperti itu sudah pernah terjadi. Misalnya saat Unikarta bekerja sama dengan ITB dalam riset IKN. Itu berjalan karena ada hubungan personal dan mereka juga mengajak 1–2 dosen kita terlibat. Contoh seperti ini ideal, karena kehadiran perguruan tinggi luar di Kukar ikut mendorong peningkatan kapasitas perguruan tinggi lokal.
Jadi intinya, sinergi antara Pemkab, perguruan tinggi luar, dan Unikarta harus berjalan bersama. Saat ini sebenarnya banyak dosen Unikarta yang sudah sangat aktif di berbagai sektor—pertanian, pemerintahan, ekonomi, hingga kemasyarakatan. Bahkan perusahaan-perusahaan pun banyak melibatkan dosen kita dalam program PPM. (*)
Penulis: Ulwan Murtadha
Editor: Ufqil Mubin












