Search

Visi dan Program Profesor Ince Raden untuk Memajukan Unikarta (1)

Prof. Ince Raden saat menyampaikan sambutan di salah satu kegiata mahasiswa Unikarta. (Dok. Berita Alternatif)

BERITAALTERNATIF.COM – Prof. Dr. Ince Raden menjadi satu-satunya calon rektor Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) Tenggarong yang ditetapkan oleh Yayasan Kutai Kartanegara (YKK) sebagai calon rektor Unikarta periode 2025-2029.

Prof. Ince merupakan petahana yang sebelumnya telah menjabat sebagai orang nomor satu di Unikarta selama empat tahun.

Dia merupakan rektor yang disebut-sebut sebagai pemimpin Unikarta yang telah membawa berbagai keberhasilan, baik dari aspek pengembangan infrastruktur maupun sumber daya manusia, di Kampus Ungu.

Artikel ini merupakan bagian pertama dari wawancara kami pada Sabtu (6/12/2025) yang akan diterbitkan secara berseri di Berita Alternatif.

Apa yang melatarbelakangi sehingga Anda memutuskan maju kembali sebagai calon rektor Unikarta?

Yang pertama, fondasi dasar yang sudah kami letakkan dalam periode 2021–2025, alhamdulillah sebagian telah berjalan dan terus berproses. Namun, masih banyak hal yang harus terus disempurnakan, baik dalam tata kelola maupun tata pamong, kemudian terkait SDM, sapras, kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, termasuk juga kegiatan usaha baik di tingkat mahasiswa, fakultas, maupun universitas. Semua itu masih harus terus diperjuangkan.

Karena itulah banyak rekan-rekan yang meminta saya untuk melanjutkan tugas tersebut, meskipun pada saat itu posisi saya tidak resmi. Saya berpikir, jika tenaga dan pengalaman saya selama satu periode memimpin sebagai rektor masih dibutuhkan, maka saya siap.

Namun dalam berbagai diskusi, termasuk pada rapat senat, saya juga menyampaikan bahwa pemilihan rektor harus dilakukan secara terbuka sesuai aturan yang berlaku di tingkat yayasan, senat, maupun universitas. Tujuannya agar proses ini benar-benar berjalan transparan, akuntabel, dan memberi kesempatan kepada seluruh sivitas akademika yang memenuhi syarat untuk mencalonkan diri sebagai rektor.

Itu harapan saya, karena keterbukaan dan akuntabilitas adalah bagian yang tidak terpisahkan dari upaya memperbaiki tata kelola dan tata pamong demi kemajuan kampus Unikarta.

Jadi, kata kuncinya adalah masih banyak hal yang harus ditingkatkan dan diperbaiki. Sementara itu, hal-hal yang sudah berjalan dan berada pada tahap finalisasi harus terus dijaga dan dikuatkan. Saya berpikir bahwa kita harus konsisten, berkomitmen, dan berkesinambungan dalam mengelola kampus.

Apalagi saat ini, alhamdulillah, berdasarkan beberapa laporan yang saya sampaikan dalam pertanggungjawaban baik di senat maupun yayasan, terdapat sejumlah indikator yang sudah menunjukkan hasil sangat baik. Namun ada juga indikator-indikator yang masih kurang. Tentu saja itulah yang menjadi pekerjaan rumah bagi saya: bagaimana meningkatkan indikator yang masih lemah agar dapat mencapai posisi yang lebih baik. Harapannya seperti itu.

Apa saja program-program yang ingin Anda jalankan di periode mendatang?

Rektor Unikarta Prof. Ince Raden bersama perwakilan Pemkab Kukar saat menghadiri acara grand opening Unikarta Mart Rabu, 23 April 2025. (Berita Alternatif/Ulwan Murtadho)

Terkait visi dan program yang ingin dilanjutkan, khususnya yang sudah berjalan, yang pertama adalah pengembangan jabatan fungsional dosen. Pada periode sebelumnya, saya sebenarnya berharap kita dapat memiliki enam orang profesor di Unikarta. Namun hingga saat ini kita masih memiliki tiga profesor. Meski begitu, progresnya tetap berjalan karena beberapa dosen telah mengajukan usulan, tetapi masih dianggap kurang sehingga belum mencapai target yang diharapkan. Saya menilai ini masih menjadi kekurangan kita.

Namun demikian, beberapa dosen terus menulis di jurnal internasional bereputasi. Mudah-mudahan dalam waktu dekat mereka dapat mencapai jabatan profesor. Kemudian, terkait tambahan doktor, ini juga menjadi tantangan bagi saya. Saat ini dari 108 dosen Unikarta, hanya 21 yang bergelar doktor. Target saya adalah setidaknya 50 persen dosen Unikarta memiliki gelar doktor. Berarti masih ada sekitar 30 orang lagi yang harus kita dorong untuk melanjutkan studi.

Sekarang sudah ada beberapa dosen yang sedang menempuh pendidikan doktor, mudah-mudahan segera kembali dan dapat menambah jumlah doktor. Saya meyakini bahwa selain infrastruktur kampus, yang lebih penting adalah kemampuan para doktor untuk mentransformasikan ilmu kepada mahasiswa, sehingga kualitas pembelajaran dapat semakin baik dari waktu ke waktu. Itu dari aspek SDM.

Kemudian, yang kedua adalah penyempurnaan kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE). Kurikulum saat ini harus diarahkan pada digitalisasi, termasuk metode pembelajaran yang harus menyesuaikan dengan kondisi kekinian. Untuk kurikulum OBE, pada periode pertama sudah 100 persen disusun oleh para dosen bersama tim kurikulum di bawah koordinasi Wakil Rektor I, Bapak Dr. Sudirman.

Namun, penyusunan saja tidak cukup. Dibutuhkan implementasi, pendampingan, dan aktualisasi yang berkelanjutan kepada seluruh dosen. Dosen kita terdiri dari yang sangat senior, yang berada di level menengah, hingga yang baru bergabung. Mereka memiliki latar belakang dan “zaman” pendidikan yang berbeda-beda. Tantangannya adalah bagaimana mendorong semua dosen agar memiliki aura dan kemampuan digitalisasi yang semakin baik, sehingga terjadi perubahan dan penyesuaian dengan perkembangan zaman.

Perubahan untuk menyesuaikan dengan kondisi kekinian ini sangat penting. Karena itu, diskusi mengenai kurikulum menjadi hal yang krusial. Di dalamnya terdapat capaian pembelajaran tiap mata kuliah, dan capaian pembelajaran lulusan yang harus benar-benar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman saat ini.

Untuk membangun itu, ada banyak langkah dan kegiatan yang sedang kami lakukan. Misalnya, menjalin kerja sama dengan multipihak—baik perusahaan, pemerintah, maupun berbagai industri. Tujuannya adalah agar alumni kita bisa menyesuaikan diri dengan kebutuhan dunia kerja saat ini. Tidak hanya itu, harapan kami alumni juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru. Hal-hal seperti ini selalu menjadi fokus kami di bidang akademik: bagaimana menyesuaikan kurikulum, metode mengajar, dan metode pembelajaran agar muatannya mampu memberikan edukasi kepada mahasiswa dalam aspek-aspek tersebut.

Walaupun tetap berada dalam koridor sikap, pengetahuan, dan keterampilan, tetap ada pembaruan-pembaruan yang diarahkan agar mahasiswa benar-benar masuk ke OBE. Pada prinsipnya, OBE menekankan pada apa yang dapat dikerjakan mahasiswa setelah mereka menyelesaikan studi—bukan sekadar apa yang mereka ketahui, pahami, atau hafalkan. Jadi, yang menjadi fokus adalah kemampuan riil yang dapat dilakoni oleh lulusan setelah mereka keluar dari program studinya. Itulah yang sedang kami perkuat dalam aspek kurikulum.

Untuk aspek SDM sudah saya jelaskan sebelumnya. Kemudian pada aspek sarana dan prasarana, saat ini kami sebagai pimpinan terus berupaya meningkatkan fasilitas pembelajaran, baik di laboratorium, lokasi-lokasi praktikum, maupun melalui kerja sama dengan pihak luar untuk kegiatan magang. Tantangannya memang besar karena kondisi kekinian menuntut banyak penyesuaian.

Misalnya, di sektor pertanian, alhamdulillah kami bekerja sama dengan industri pertanian hingga universitas memperoleh fasilitas greenhouse yang kini digunakan oleh mahasiswa pertanian. Di sana terdapat proses pembelajaran kewirausahaan. Mereka menanam melon, melakukan edukasi, bahkan mendapatkan penghasilan. Meski belum sampai pada skala usaha besar, tetapi dalam konteks pembelajaran, mereka memperoleh banyak hal.

Mereka belajar kerja sama tim, belajar mengelola kegiatan, mempertanggungjawabkan hasil kerja, menjual produk, kemudian mengatur keuangan—sebagian digunakan untuk biaya listrik dan air, sebagian ditabung, dan sebagian menjadi modal kembali. Ada proses pembelajaran yang lengkap terjadi di sana.

Baik itu terkait kesejahteraan dosen, tenaga kependidikan, fasilitas kampus, maupun fasilitas laboratorium, semuanya membutuhkan perhatian. Namun kita juga memiliki berbagai cara untuk memperoleh dukungan tersebut. Alhamdulillah, baru-baru ini kita mendapatkan bantuan dana hampir 500 juta rupiah dari Kementerian Dikti berupa alat-alat laboratorium. Di antaranya analyzer biokimia, mikroskopik yang sudah dilengkapi layar televisi untuk Fakultas Teknik, serta di Fakultas Pertanian ada airflow cabinet dan kabinet untuk kultur jaringan. Kita juga memperoleh centrifuge untuk proses pencampuran larutan kimia.

Selain itu, dari teman-teman Dinas Perkebunan kita juga menerima fasilitas oven untuk proses pengeringan—misalnya untuk mengeringkan daun kelor menjadi teh, dan berbagai bahan biofarmaka lainnya agar dapat diproduksi dalam bentuk kemasan siap saji dalam bentuk kemasan-kemasan kecil. Proses ini terus berjalan. Karena itu, saya merasa perlu mendampingi dan memastikan bahwa selama masih ada peluang, kita harus mendorong pengembangan ini hingga benar-benar mencapai tahap akhir sesuai harapan.

Kemudian, dari aspek fasilitas kelas, alhamdulillah saat ini seluruh ruang kuliah telah dilengkapi AC. Semua ruangan juga telah memiliki infokus, CCTV, serta akses internet gratis. Hampir seluruh area kampus dapat mengakses internet—bahkan di masjid, di depan perpustakaan, hingga di area taman.

Mengapa ini kita lakukan? Karena proses pembelajaran saat ini tidak lagi hanya dilakukan di dalam kelas. Literatur-literatur digital sangat berlimpah. Selama mahasiswa memiliki visi belajar dan rasa ingin tahu yang tinggi, fasilitas ini bisa sangat membantu mereka.

Namun, untuk mencapai kondisi itu tentu diperlukan kesabaran, pendampingan, dan edukasi. Kita perlu terus mengarahkan mereka, memberi pemahaman, dan membangun motivasi. Saya memahami bahwa input mahasiswa Unikarta tidak semuanya berada di atas rata-rata; banyak juga yang di bawah. Karena itu, tugas kita adalah memanusiakan mereka melalui pendekatan-pendekatan yang tepat, agar mereka tidak minder. Sebaliknya, mereka harus memiliki semangat dan daya saing yang tinggi untuk memanfaatkan fasilitas yang tersedia di kampus. (*)

Penulis: Ulwan Murtadha
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA