Search

Unikarta Berhasil Budi Daya Ratusan Golden Melon

Pimpinan Unikarta dan jajaran Pemkab Kukar melihat golden melon yang berhasil dibudidayakan di greenhouse Unikarta. (Berita Alternatif/M. As'ari)

BERITAALTERNATIF.COM – Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) mencatat keberhasilan dalam budi daya golden melon melalui fasilitas greenhouse yang dikelola mahasiswa.

Dari 300 polybag yang ditanam, sekitar 80-90 persen menghasilkan buah berkualitas dengan bobot rata-rata 1,5 kilogram hingga 2 kilogram.

Rektor Unikarta Prof. Ince Raden menjelaskan bahwa greenhouse tersebut dirancang bukan sekadar untuk praktik perkuliahan, tetapi juga sebagai wadah pembelajaran kewirausahaan bagi mahasiswa.

Greenhouse ini selain tempat belajar, juga diharapkan bisa menghasilkan pendapatan dan memberi pengalaman kepada mahasiswa. Mereka belajar bahwa usaha pertanian itu tidak mudah, ada jatuh bangunnya,” ucap dia kepada awak media, Kamis (18/9/2025).

Ia mengungkapkan, percobaan budi daya golden melon sempat mengalami kegagalan pada siklus kedua karena menggunakan benih turunan F2 yang tidak cocok.

Namun, pihaknya segera melakukan perbaikan dengan mengganti varietas, hingga akhirnya menghasilkan panen yang cukup memuaskan.

“Alhamdulillah sekarang dari 300 polybag, sekitar 80 persen sampai 90 persen berhasil berbuah. Rasanya juga sudah dicoba banyak pihak dan sesuai selera masyarakat Kutai Kartanegara,” ungkapnya.

Ia menerangkan, hasil panen golden melon Unikarta dijual dengan harga Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu per kilogram, lebih rendah dari harga pasar yang bisa mencapai Rp 50 ribu per kilogram.

Hal ini dilakukan agar mahasiswa bisa merasakan langsung proses bisnis sekaligus menjadikan produk mereka lebih terjangkau.

Jika dalam dua bulan panen bisa menghasilkan 250 buah melon, potensi pendapatan mencapai Rp 15 juta.

Dengan tiga hingga empat kali panen per tahun, mahasiswa bisa memperoleh pemasukan puluhan juta rupiah.

Ince menekankan bahwa program pembelajaran berbasis pengembangan ekosistem pertanian dan bisnis akan terus dilanjutkan di Unikarta.

Ia menyebut Unikarta merancang sistem agar produk pertanian mahasiswa tidak hanya dipasarkan, tetapi juga masuk ke rantai ekonomi internal kampus.

Hasil panen dapat dijual di Unikarta Mart maupun dimanfaatkan di foodcourt kampus sehingga menciptakan siklus usaha yang berkesinambungan.

“Sehingga proses circle usaha itu ada di sektor pertanian jalan, di kantin jalan, kemudian di Unikarta Mart jalan,” ujarnya.

Untuk menjaga keberlanjutan, setiap selesai panen greenhouse dibersihkan dari sisa media tanam, hama, dan penyakit sebelum ditanami kembali.

Mahasiswa menjadi ujung tombak pengelolaan, sementara dosen berperan sebagai pembimbing dan pimpinan fakultas serta universitas mendukung program tersebut.

Ince menginginkan pendapatan dari greenhouse dikelola kembali untuk keberlanjutan usaha.

“Pendapatan ini dikelola kembali. Dikembalikan modal untuk benih, kemudian ditanam kembali, diputar kembali untuk pengembangan-pengembangan ke depan,” tuturnya.

Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan tinggi tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga praktik dan pengalaman nyata di lapangan.

Dia mengatakan bahwa melalui greenhouse golden melon, mahasiswa tidak hanya memahami teknik pertanian modern, tetapi juga belajar menghadapi risiko, mengelola usaha, hingga menciptakan nilai ekonomi.

“Jadi, sekali lagi bahwa ini semuanya adalah proses pembelajaran dan ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan di Universitas Kutai Kartanegara,” tutupnya. (*)

Penulis: M. As’ari
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA