Search

Trump di Beijing: Tangan Amerika Paling Lemah dalam Satu Abad

Donald Trump tiba di Beijing pada Rabu, setelah berminggu-minggu melakukan pengondisian media secara hati-hati—namun kunjungan itu membawa pesan tersirat yang sangat jelas. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF.COM – Donald Trump tiba di Beijing pada Rabu, 13 Mei 2026, setelah beberapa pekan manuver media. Perjalanan ini terjadi ketika Amerika Serikat, setelah sekitar 150 tahun mengklaim diri sebagai negara adidaya, justru merencanakan kunjungan tersebut dalam posisi terlemahnya.

Selama kampanye pemilu dan setelah berkuasa, Trump menyebut China sebagai satu-satunya “musuh strategis Amerika Serikat” dan menyalahkan pemerintahan Partai Demokrat karena membantu China memperluas pengaruhnya di wilayah pengaruh AS.

Sejak hari-hari pertama berada di Gedung Putih, ia menekankan perlunya menghukum China secara ekonomi dan meningkatkan dukungan terhadap Taiwan, serta memulai perang ekonomi dengan Beijing melalui penerapan tarif tinggi terhadap barang impor.

Namun secara bertahap, seiring meningkatnya sikap ego-sentris politik Trump dan munculnya jarak antara AS dan komunitas internasional, terbuka peluang besar bagi China untuk memperluas pengaruhnya di antara negara-negara tetangga Amerika dan sekutu-sekutu Eropa melalui perencanaan yang sabar.

China menyambut Trump saat negara itu dikenal sebagai mitra dagang utama bagi sekitar 150 negara, sementara Trump datang ke Beijing pada saat status adidaya Amerika dinilai telah merosot jauh setelah invasinya ke Iran serta kekalahan dan kemunduran berturut-turut, terutama di Selat Hormuz.

Karena itu, sebagian besar analis politik menilai perjalanan Trump ke China dilakukan dari posisi lemah, demi keluar dari isolasi internasional dan mengalihkan opini publik dari kegagalannya di Teluk Persia. Tentu saja, sebelum keberangkatan, pemerintahan Trump berusaha menggambarkan kunjungan itu sebagai langkah dari posisi kuat dengan merendahkan China.

Beberapa hari sebelum keberangkatan Trump, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dalam wawancara dengan NBC News mengatakan bahwa Amerika tidak meminta bantuan China dan Washington tidak membutuhkan bantuan mereka.

Ia juga kembali menyebut China sebagai musuh geopolitik utama dalam wawancara dengan Sean Hannity di Fox News, sambil mengatakan bahwa negaranya sangat membutuhkan pengelolaan strategis hubungan kompleks dengan China.

Di sisi lain, China, dengan memantau perkembangan internasional dan memahami kegagalan Amerika dalam perang melawan Iran, mengetahui dengan baik bahwa Amerika bukan lagi negara adidaya seperti sebelumnya dan bahwa Beijing dapat memperoleh keuntungan dari negara yang kini membutuhkan pengakuan kembali di panggung internasional.

Posisi kuat Presiden China Xi Jinping dalam negosiasi, ketidakpeduliannya terhadap sanksi Amerika, dan penekanannya untuk terus membeli minyak dari Iran menunjukkan bahwa presiden AS datang ke Beijing dalam situasi yang paling tidak menguntungkan.

Tentu saja, kunjungan Trump ke China tidak dapat dianalisis semata-mata dalam kaitannya dengan isu Iran, karena perjalanan ini memiliki dimensi ekonomi, politik, dan geopolitik yang lebih luas. Namun, peringatan China kepada AS agar tidak mencampuri isu Taiwan, serta keluhan serius mengenai perang ekonomi dan tarif terhadap China, menunjukkan kedalaman perbedaan antara kedua negara dan posisi tawar Beijing yang lebih unggul dalam negosiasi.

Sikap China dalam beberapa bulan terakhir juga menunjukkan bahwa negara itu tidak bersedia dengan mudah mengikuti kebijakan “tekanan maksimum” Amerika, baik terkait Taiwan maupun Iran.

China, sebagai salah satu importir energi terbesar dari kawasan Teluk Persia, sangat sensitif terhadap terciptanya ketidakamanan di kawasan tersebut dan secara terbuka menyatakan penolakannya terhadap tindakan Amerika yang dianggap mengganggu stabilitas Laut Oman.

Fakta bahwa China tidak menerima sanksi sepihak Amerika terhadap Iran, tetap melanjutkan kerja sama ekonomi dengan Teheran, dan juga menolak mendukung beberapa resolusi anti-Iran di Dewan Keamanan PBB menunjukkan bahwa dalam banyak bidang, kepentingan strategis Iran dan China memiliki kesamaan. Karena itu, sebagaimana diperkirakan, China menolak tekanan Washington untuk sepenuhnya memposisikan Beijing melawan Teheran. (*)

Sumber: Mehr News

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA