BERITAALTERNATIF.COM – Dalam beberapa tahun terakhir, setiap kali berbicara tentang ancaman regional terhadap Iran, pikiran banyak orang langsung tertuju pada Amerika Serikat atau Israel. Namun di samping dua aktor tersebut, ada negara lain yang secara bertahap memperoleh posisi penting dalam persamaan keamanan dan ekonomi kawasan: Uni Emirat Arab.
Berbeda dengan citra yang ditampilkan sebagai pendukung stabilitas dan pembangunan regional, banyak bukti menunjukkan bahwa negara ini telah berubah menjadi aktor yang bersifat destabilisasi dan radikal di Asia Barat dan bahkan lebih luas.
Memahami perubahan ini penting untuk menganalisis ketegangan terbaru di Selat Hormuz dan konfrontasi dengan Iran, karena krisis saat ini bukanlah titik balik yang tiba-tiba, melainkan puncak dari strategi agresif yang telah berlangsung selama beberapa tahun.
Selama dua dekade terakhir, UEA berupaya menampilkan diri sebagai negara modern, berbasis perdagangan, dan berorientasi pembangunan. Namun pada saat yang sama, negara ini memainkan peran aktif dalam banyak isu regional yang—menurut para kritikus—justru meningkatkan ketegangan dan ketidakstabilan. Untuk memahami sensitivitas posisi UEA dalam konfrontasi terbaru, beberapa lapisan harus dikaji secara bersamaan.
Lapisan Pertama: UEA sebagai Simpul Strategis Finansial dan Valuta bagi Iran
Dengan meningkatnya sanksi sekunder Amerika terhadap Iran pada berbagai periode, akses negara tersebut secara praktis terputus dari jaringan resmi SWIFT dan sistem perbankan global. Dalam kondisi ini, ekonomi Iran terpaksa beralih ke mekanisme informal, jaringan perantara, sistem hawala, dan perusahaan cangkang (yang terdaftar di luar negeri).
Dalam konteks ini, UEA—terutama Dubai—menjadi pusat utama dari mekanisme paralel tersebut. Alasan posisi unik ini antara lain:
Pertama, infrastruktur perbankan dan perdagangan yang fleksibel. Kehadiran ribuan perusahaan di kawasan bebas (seperti JAFZA), kemudahan pembukaan rekening perusahaan, serta adanya lembaga penukaran besar internasional yang mampu melakukan transfer tidak langsung atau menggunakan koridor keuangan alternatif (seperti berbasis emas atau mata uang kripto).
Kedua, kedekatan geografis dan kesamaan budaya. Jarak pendek (sekitar 30 menit penerbangan dari Bandar Abbas ke Sharjah) serta keberadaan jaringan luas pedagang Iran-UEA memungkinkan perpindahan fisik uang selain transfer elektronik. Sebagian besar barang impor Iran—terutama barang antara dan mesin—masuk melalui “re-ekspor” dari pelabuhan Dubai dan Sharjah.
Namun ketergantungan ini juga membawa risiko besar:
Pertama, risiko guncangan nilai tukar. Karena sifatnya informal, ketegangan politik sekecil apa pun antara Teheran dan Abu Dhabi dapat langsung memutus aliran keuangan ini, memicu lonjakan nilai tukar di pasar Iran.
Kedua, peningkatan biaya transaksi. Karena risiko sanksi Amerika, biaya komisi bisa sangat tinggi (bahkan hingga 20%), yang pada akhirnya meningkatkan harga barang di Iran.
Kedua, kerentanan informasi. Ada indikasi bahwa data transaksi keuangan ini, karena kerja sama intelijen UEA dengan Amerika dan Israel (terutama setelah Perjanjian Abraham), dapat diakses oleh pihak lawan dan digunakan untuk tekanan ekonomi dan psikologis.
Kesimpulannya, selama Iran belum mampu menciptakan sistem pembayaran bilateral independen dan jalur pasokan alternatif, stabilitas ekonominya akan tetap bergantung pada “saklar sensitif” yang terhubung ke UEA.
Lapisan Kedua: Rekam Jejak Intervensi Militer dan Operasi Lintas Batas
UEA dalam beberapa tahun terakhir tidak hanya aktor ekonomi, tetapi juga terlibat dalam berbagai konflik keamanan. Dalam satu dekade terakhir, negara ini ikut campur di delapan negara, termasuk Yaman, Libya, Sudan, Somalia, Afghanistan, Irak, Suriah, dan Bahrain—angka yang luar biasa bagi negara dengan populasi kecil.
Kasus paling menonjol terlihat di Sudan dan Yaman. Berdasarkan laporan PBB dan lembaga internasional, UEA berperan dalam mendukung pasukan tertentu di Sudan, yang dikaitkan dengan pelanggaran HAM dan korban sipil besar. Pola serupa juga terlihat di Yaman melalui dukungan terhadap kelompok separatis dan operasi militer di wilayah sipil.
Lapisan Ketiga: Normalisasi Hubungan dengan Israel dan Perubahan Keseimbangan Politik
Penandatanganan Perjanjian Abraham menjadi titik penting dalam kebijakan regional UEA. Negara ini menjadi salah satu negara Arab pertama yang secara resmi menormalisasi hubungan dengan Israel pada tahun 2020.
Langkah ini, menurut pendukungnya, bertujuan untuk kerja sama ekonomi dan keamanan. Namun bagi para kritikus, ini dianggap sebagai pelanggaran konsensus historis Arab terkait Palestina serta memperkuat posisi Israel di kawasan. UEA juga mendorong negara lain seperti Bahrain dan Maroko untuk mengikuti langkah serupa.
Lapisan Keempat: Persaingan Geopolitik—Perebutan Koridor dan Penghapusan Peran Transit Iran
Di balik konflik militer, terdapat persaingan strategis antara Iran dan UEA dalam jalur perdagangan global.
Pertama, proyek koridor India–Timur Tengah–Eropa (IMEC). Proyek ini dirancang untuk menghubungkan India ke Eropa melalui UEA, Arab Saudi, Yordania, dan Israel—secara efektif melewati Iran.
Kedua, pengembangan pelabuhan kompetitif. UEA telah mengembangkan pelabuhan besar seperti Jebel Ali, Khalifa, dan Fujairah menjadi pusat logistik global.
Ketiga, kontrol rantai pasokan. Perusahaan UEA seperti DP World berinvestasi di berbagai pelabuhan dunia, memberi mereka pengaruh besar terhadap perdagangan global.
Jika proyek-proyek ini berhasil dan Iran gagal mengembangkan alternatifnya, negara tersebut berisiko mengalami “isolasi logistik” dengan dampak ekonomi dan geopolitik serius.
Lapisan Kelima: Kerja Sama Keamanan dengan Amerika dan Barat
UEA telah memperkuat hubungan militer dan keamanan dengan AS. Pelabuhan Fujairah dilaporkan menjadi pusat logistik penting bagi armada Amerika, dan sistem pengawasan juga berkembang di wilayahnya. Selain itu, negara ini menjadi pusat aktivitas finansial dan intelijen yang terhubung dengan kepentingan Barat.
Kesimpulan Strategis
UEA saat ini bukan lagi sekadar negara kecil di Teluk Persia. Dalam satu dekade terakhir, negara ini telah bertransformasi dari aktor ekonomi menjadi aktor keamanan yang agresif, radikal, dan kontroversial.
Di satu sisi, sebagian sistem keuangan Iran bergantung pada UEA. Di sisi lain, kerja sama erat UEA dengan Amerika dan Israel serta intervensinya di berbagai negara menjadikannya bagian dari struktur keamanan yang berlawanan dengan kepentingan Iran.
Kesimpulannya, setiap analisis tentang konflik di Teluk Persia—terutama antara Iran dan Amerika—tanpa mempertimbangkan peran kompleks UEA akan menjadi tidak lengkap. Untuk menghadapi aktor seperti ini, respons sementara tidak cukup; perlu strategi yang meningkatkan biaya intervensi dan mendorong kembali ke stabilitas serta penghormatan terhadap kedaulatan negara-negara kawasan. (*)
Penulis: Sajjad Padam
Sumber: Mehr News












