BERITAALTERNATIF.COM – Setelah operasi Badai Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023 dan dimulainya konflik di Gaza, serangkaian perkembangan keamanan dan politik terjadi di kawasan yang membuat sebagian elit Amerika Serikat dan Israel beranggapan bahwa Poros Perlawanan sedang mengalami kemunduran.
Rangkaian pembunuhan terarah, tekanan berat terhadap Hamas dan Hizbullah, perubahan situasi lapangan di Suriah, serta meningkatnya tekanan politik, keamanan, dan regional terhadap Iran, semuanya turut membentuk persepsi bahwa Iran sebagai inti utama Poros Perlawanan dan keseluruhan poros tersebut berada dalam kondisi terlemah dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam situasi seperti itu, lobi Zionis dan sejumlah kelompok berpengaruh di Amerika yang memiliki keselarasan kepentingan dengan lobi tersebut—termasuk sebagian lingkaran pembuat kebijakan dan jaringan tekanan pendukung rezim Zionis—berusaha menjadikan pandangan ini sebagai narasi dominan; sebuah narasi yang tujuannya bukan untuk menganalisis atau menggambarkan realitas secara akurat, melainkan untuk mengarahkan penilaian dan menekan pemerintah Amerika agar bergerak menuju konfrontasi yang lebih keras dengan Iran dan Poros Perlawanan.
Kelompok-kelompok ini perlu menunjukkan bahwa saat itu adalah waktu terbaik untuk menyerang, dan demi tujuan tersebut mereka menonjolkan gambaran Iran yang lemah dan Poros Perlawanan yang terkikis. Narasi kelemahan Poros Perlawanan lebih dari sekadar penyederhanaan politik, karena di Amerika dan Israel ia juga memiliki fungsi-fungsi berbeda. Di Amerika, pemerintah ingin menunjukkan ketegasan dalam kebijakan luar negeri, khususnya terkait isu nuklir Iran, dan penilaian seperti ini dapat menjadi dasar pembenaran bagi kebijakan yang lebih keras.
Di rezim Israel, krisis internal, kegagalan di lapangan, dan terkikisnya daya tangkal membuat elit politik dan keamanan rezim berupaya membangun citra tentang “kesempatan emas” untuk menyerang Iran. Media dan lembaga think tank yang dekat dengan kelompok-kelompok tersebut juga memperkuat narasi ini melalui penonjolan data secara selektif. Akibatnya, terbentuklah gambaran yang menarik bagi pengambil keputusan Amerika, bermanfaat secara politik bagi rezim Zionis, dan efektif sebagai alat bagi kelompok lobi tekanan.
Kesenjangan antara Narasi dan Kekuatan Nyata
Narasi yang menggambarkan Iran dan Poros Perlawanan berada di ambang kelelahan, kemunduran, bahkan kekalahan, bertentangan dengan satu realitas mendasar di lapangan: salah satu produsen utama narasi itu, yaitu rezim Israel sendiri, tidak memiliki kemampuan operasional dan strategis yang cukup untuk mewujudkan gambaran tersebut menjadi kenyataan.
Tel Aviv tanpa kehadiran Amerika, karena kekurangan pesawat pengisian bahan bakar strategis, tidak mampu menjalankan operasi jarak jauh. Israel juga tidak memiliki kapasitas intelijen dan satelit independen, serta tidak mampu membangun konsensus politik internasional. Dengan kata lain, aktor yang untuk setiap tindakan strategis terhadap Iran bergantung penuh pada dukungan Washington, justru membangun narasi bahwa Iran berada di ambang kehancuran atau dapat dikendalikan hanya dengan satu pukulan.
Sebenarnya dapat diperkirakan bahwa rezim yang dalam beberapa tahun perang tidak mampu memaksa Hamas atau Hizbullah mengubah perilakunya, akan menghadapi tantangan yang jauh lebih besar terhadap Iran sebagai pilar utama Poros Perlawanan. Namun demikian, narasi kelemahan Iran dan Poros Perlawanan tetap mengakar di ruang media dan think tank Amerika, hingga berubah menjadi kerangka berpikir para pengambil keputusan Amerika.
Kerangka berpikir inilah yang menjadi dasar perhitungan keliru dan akhirnya menyeret pada perang 40 hari. Perang tersebut menjadi ujian yang memperhadapkan narasi itu dengan realitas lapangan, dan hasilnya sepenuhnya bertentangan dengan harapan para perancang narasi tersebut.
Ketahanan Operasional dan Politik Iran terhadap Tekanan Berlapis
Iran selama Perang Ramadan menunjukkan bahwa, bertentangan dengan narasi sebelumnya, negara itu tidak berada dalam posisi lemah. Ketahanan operasional, kemampuan memberikan respons bertahap, dan menjaga inisiatif dalam berbagai tahap perang menunjukkan bahwa struktur kekuatan Iran tetap stabil dan tekanan politik maupun ekonomi gagal melumpuhkannya.
Keberlanjutan pola ini sepanjang konflik menunjukkan bahwa kapasitas vital Iran tidak hanya tetap terjaga, tetapi juga masih memiliki kemampuan adaptasi dan manajemen krisis pada tingkat yang signifikan. Tingkat stabilitas ini tidak sejalan dengan gambaran Iran yang berada di ambang kehancuran.
Koordinasi Multiarah Poros Perlawanan di Tingkat Kawasan
Perang terbaru menunjukkan bahwa Poros Perlawanan tidak hanya tidak terkikis, tetapi juga tetap mampu menjaga koordinasi operasional di beberapa front secara bersamaan. Aktifnya front Lebanon, Irak, Yaman secara paralel, serta dinamika di Laut Merah menunjukkan bahwa Poros Perlawanan mampu menghadirkan pola perilaku berlapis dan bertahap di tengah tekanan; pola yang menunjukkan adanya kohesi dan manajemen lapangan.
Di front Lebanon, keberlanjutan operasi Hizbullah menunjukkan bahwa kapasitas deterrence masih aktif. Di Irak, kelompok-kelompok yang sejalan dengan Poros Perlawanan memperluas cakupan konflik. Sementara aktifnya kembali front Yaman setelah bentrokan terbaru dengan Amerika menunjukkan bahwa Ansarullah masih mempertahankan kesiapan operasionalnya.
Pola perang multiarah dalam Perang Ramadan bukan sekadar tanda bertahannya kekuatan; ia menunjukkan bahwa Poros Perlawanan mampu mereproduksi dan mengaktifkan kembali kapasitas regionalnya dalam kondisi tekanan. Tingkat koordinasi ini menarik perhatian banyak pengamat, karena bertentangan dengan perkiraan awal yang berbicara tentang kelelahan dan penurunan kekuatan perlawanan. Perkembangan lapangan justru menunjukkan bahwa tidak hanya tidak tampak tanda-tanda kelemahan dalam Poros Perlawanan, tetapi juga muncul kemampuan-kemampuan baru di arena.
Aktifnya Kartu Geopolitik Baru dalam Persamaan Kawasan
Selama perang, sejumlah variabel geopolitik yang sebelumnya kurang diperhatikan berubah menjadi kartu aktif dalam lingkungan regional. Selat Hormuz kembali menjadi variabel nyata dalam perhitungan kekuatan global. Bab al-Mandab, dengan peran Ansarullah, berubah menjadi alat tekanan efektif dalam persamaan regional. Perkembangan di Somalia dan Tanduk Afrika juga memberikan kedalaman baru pada lingkungan sekitar Poros Perlawanan.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa Poros Perlawanan tidak hanya tidak mengalami keterbatasan, tetapi juga memperluas jangkauan pengaruh geopolitiknya di kawasan.
Penutup
Perang Ramadan menunjukkan bahwa narasi tentang kelemahan Iran dan Poros Perlawanan merupakan konstruksi politik yang lebih banyak didasarkan pada kebutuhan politik dan tekanan lobi daripada realitas lapangan, dan medan perang membuktikan kebalikannya. Iran menunjukkan ketahanan, Poros Perlawanan bertindak secara terkoordinasi, kartu-kartu geopolitik baru diaktifkan, dan rezim Zionis gagal memulihkan daya tangkalnya.
Rangkaian perkembangan ini memperjelas bahwa banyak penilaian sebelumnya tentang menurunnya kemampuan aktor-aktor Poros Perlawanan lebih merupakan cerminan ekspektasi dan kalkulasi mental sebagian pengambil keputusan daripada berdasarkan data objektif.
Karena itu, para pengambil keputusan Amerika harus memperbarui pandangan lama mereka sesuai realitas baru di lapangan; jika tidak, mereka akan kembali terjebak dalam kesalahan strategis yang sama yang berujung pada perang terbaru.
Secara keseluruhan, perkembangan kawasan menunjukkan bahwa pandangan yang didasarkan pada kemunduran Poros Perlawanan tidak sesuai dengan fakta lapangan; yang tampak dalam praktik justru adalah kebangkitan kapasitas, reproduksi kekuatan, dan perluasan pengaruh perlawanan. Oleh sebab itu, setiap kesimpulan yang didasarkan pada anggapan melemahnya kekuatan tidak dapat selaras dengan realitas lapangan dan mau tidak mau harus ditinjau ulang. (*)
Sumber: Mehr News












