Search

Tak Ada Kepercayaan, Tak Ada Kesepakatan: Mengapa Teheran Menolak Pendekatan AS?

Iran berulang kali menyatakan bahwa Amerika Serikat memainkan “permainan ganda” dengan mencari negosiasi sambil tetap mempertahankan tekanan militer, dan memperingatkan bahwa tidak akan ada terobosan sampai Washington mengubah arah kebijakannya secara mendasar. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF.COM – Seiring terus berlangsungnya upaya diplomatik antara Teheran dan Washington, muncul sebuah pola yang mengkhawatirkan: Amerika Serikat menjalankan sikap yang pada dasarnya tidak jujur dan kontradiktif—secara bersamaan di ranah diplomatik dan militer—sebuah pendekatan yang hampir tidak melakukan apa pun untuk memperbaiki erosi mendalam terhadap kepercayaan pada perilaku Washington.

Di front diplomatik, tidak ada perubahan berarti dalam pendekatan Amerika. Secara militer, Republik Islam Iran berada pada posisi yang lebih kuat, sebuah kenyataan yang memaksa Washington berulang kali mencari negosiasi dan dialog melalui berbagai jalur belakang. Iran telah mempertimbangkan secara hati-hati berbagai pendekatan tersebut, meskipun menolak banyak di antaranya karena syarat-syarat Washington dianggap tidak realistis dan tidak adil.

Alasannya tidak sulit dipahami: AS tidak benar-benar ingin mengakui hak-hak rakyat Iran. Sebaliknya, Washington berusaha menggunakan meja perundingan sebagai instrumen tekanan—sarana untuk memaksakan tuntutannya dengan kedok diplomasi.

Bahkan pesan-pesan yang dipertukarkan kedua pihak melalui Pakistan menunjukkan bahwa Washington masih memasuki proses diplomatik dari posisi arogan, dengan tujuan mencari keuntungan tawar-menawar, bukan penyelesaian. Presiden Donald Trump khususnya tampaknya tidak memiliki keyakinan tulus terhadap diplomasi.

Baginya, negosiasi tampaknya terutama berfungsi sebagai alat untuk memajukan tujuan strategis yang lebih luas dan pada akhirnya bersifat militeristik. Dalam situasi seperti ini, penilaian jujur terhadap sikap diplomatik Washington menjadi hampir mustahil.

Kontradiksi yang sama juga terlihat jelas di front militer. Setelah sekitar empat puluh hari konflik, Trump menyerukan penghentian permusuhan dan mengumumkan gencatan senjata selama dua belas hari—yang kemudian diperpanjang tanpa batas waktu. Namun dalam praktiknya, Israel tidak mematuhi gencatan senjata tersebut, dan tekanan terhadap Iran terus berlanjut tanpa henti.

Intensifikasi blokade laut dan serangan yang terus berlangsung terhadap kapal-kapal Iran menjadi contoh nyata—tindakan yang menurut definisi apa pun merupakan pelanggaran jelas terhadap syarat-syarat gencatan senjata.

Secara keseluruhan, tindakan-tindakan ini menunjukkan bahwa Amerika tidak benar-benar percaya pada diplomasi maupun menghormati komitmen yang dibuatnya. Karena itu, sangat wajar jika Republik Islam Iran memandang pendekatan Amerika terkait negosiasi dan penyelesaian konflik dengan skeptisisme besar.

Hambatan utama yang menghalangi kemajuan diplomatik yang bermakna saat ini, menurut analisis ini, adalah Amerika sendiri—dan Trump secara khusus—karena terus mempertahankan sikap agresif meskipun mengaku menginginkan perundingan.

Sebagai tanggapan, angkatan bersenjata Iran—termasuk Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan Angkatan Darat—tetap berada dalam kesiapan operasional penuh dan telah menunjukkan, dalam berbagai kesempatan, kapasitas serta kemauan untuk merespons dengan tegas terhadap setiap tindakan permusuhan.

Dari sudut pandang Iran, gencatan senjata parsial atau sementara—terutama yang berulang kali dilanggar—tidak dapat menjadi jalan nyata untuk mengakhiri krisis ini. Yang dituntut Iran adalah penghentian permanen permusuhan, didukung oleh jaminan konkret dan diakui secara internasional untuk mencegah terulangnya konflik.

Iran juga berpandangan bahwa AS, sebagai pihak yang memainkan peran langsung dan material dalam meningkatkan ketegangan serta melakukan tindakan permusuhan, harus menerima tanggung jawab atas kerugian yang dialami rakyat Iran dan memberikan kompensasi yang sesuai.

Karena itu, akhir dari konflik ini tidak akan terwujud melalui deklarasi sepihak Amerika. Gagasan bahwa Washington dapat menentukan sendiri kapan dan bagaimana krisis berakhir adalah sesuatu yang secara tegas ditolak Iran.

Mengenai blokade laut, posisi Iran sangat jelas: blokade itu sendiri merupakan tindakan perang. Dengan demikian, situasi saat ini tidak dapat disebut sebagai gencatan senjata dalam arti yang sebenarnya. Bentuk konfliknya mungkin telah berubah—dari pertukaran rudal dan drone menjadi konfrontasi maritim—tetapi sifat dasarnya tidak berubah. Perang, dengan cara lain, masih terus berlangsung. (*)

Sumber: Mehr News

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA