Search

Trump dan Versi Lama Tekanan Ekonomi terhadap Iran: Apa Kata Para Pakar?

Pertanyaan mendasarnya adalah, jika tekanan militer tidak mampu memaksa Iran untuk menyerah, mengapa Washington menganggap bahwa mengulangi kebijakan ekonomi selama beberapa dekade terakhir dapat menghPertanyaan mendasarnya adalah, jika tekanan militer tidak mampu memaksa Iran untuk menyerah, mengapa Washington menganggap bahwa mengulangi kebijakan ekonomi selama beberapa dekade terakhir dapat menghasilkan hasil yang berbeda? (Mehr News)

BERITAALTERNATIF.COM – Enam bulan setelah dimulainya perang empat puluh hari, kebijakan Amerika Serikat terhadap Iran lebih menunjukkan kembalinya Washington ke jalur yang telah diuji selama beberapa dekade dan tidak berhasil memaksa Teheran menerima tuntutan-tuntutannya, daripada menunjukkan sebuah strategi baru.

Pemerintahan Donald Trump memulai perang dengan anggapan bahwa tekanan militer dapat memaksa Iran menyerah dalam waktu singkat; tetapi kini, setelah gagal mencapai tujuan-tujuan yang telah diumumkan, sanksi dan tekanan ekonomi kembali menjadi poros kebijakan Amerika.

Perubahan arah ini dapat dianggap sebagai salah satu tanda terpenting dari kebuntuan strategis Washington dalam menghadapi Iran. Pada awal perang empat puluh hari, retorika pemerintahan Trump berfokus pada kemenangan cepat dan pemaksaan kehendak AS. Kemampuan militer Iran diharapkan melemah dalam waktu singkat dan Teheran tidak memiliki pilihan selain menerima tuntutan Washington di bawah tekanan militer. Namun, berlarut-larutnya konflik dan berlanjutnya perlawanan Iran menunjukkan bahwa perhitungan tersebut tidak berjalan sebagaimana yang diperkirakan di Washington.

Kini Trump berbicara tentang dimulainya “operasi ekonomi paling keras” terhadap Iran; sebuah kebijakan yang bertujuan memberikan tekanan lebih besar terhadap perekonomian Iran melalui tekanan terhadap jaringan keuangan, perusahaan, pemerintah, jalur transfer minyak, mata uang, dan bahkan pendaftaran kapal.

Namun pertanyaan mendasarnya adalah: jika tekanan militer tidak mampu memaksa Iran menyerah, mengapa Washington menganggap bahwa mengulangi kebijakan ekonomi selama beberapa dekade terakhir dapat menghasilkan hasil yang berbeda?

Kebijakan yang Telah Diuji

Laporan jaringan televisi China CGTN mengenai strategi baru Trump secara tepat berfokus pada keraguan tersebut. Media ini, dalam mengulas “perang ekonomi Trump terhadap Iran”, menekankan bahwa banyak tindakan baru AS sebenarnya merupakan kelanjutan dari kebijakan-kebijakan yang telah diterapkan selama tahun-tahun sebelumnya.

Selama beberapa dekade berada di bawah sanksi, Iran telah membangun berbagai jaringan untuk menghadapi pembatasan keuangan dan perdagangan. Oleh karena itu, sanksi baru tidak selalu berarti terciptanya sebuah instrumen baru; dalam banyak kasus, sanksi tersebut merupakan peningkatan intensitas penggunaan instrumen lama.

Bahkan jika tekanan-tekanan ini mampu membebankan biaya kepada perekonomian Iran, persoalan utama bagi AS tetap ada: sanksi secara politik dianggap berhasil ketika mampu mengubah perilaku pihak lawan. Hingga kini, belum terdapat bukti jelas yang menunjukkan bahwa peningkatan tekanan ekonomi saja dapat memaksa Teheran menerima tuntutan Washington.

Robert Malley, mantan utusan AS untuk urusan Iran, juga secara tepat memperingatkan mengenai logika tersebut. Ia mengatakan bahwa anggapan bahwa “jika tekanan ekonomi tidak berhasil, maka lebih banyak tekanan ekonomi pasti akan berhasil” dapat menjadi sesuatu yang menyesatkan dan bersifat sesat pikir.

Pernyataan ini penting karena kritik terhadap kebijakan Trump tidak hanya datang dari pihak-pihak yang menentang AS di luar negeri; sebagian pakar dan tokoh politik Amerika juga meragukan efektivitas pendekatan tersebut.

Sanksi yang Gagal

Laura Rozen, jurnalis Amerika, juga menilai bahwa sanksi-sanksi baru tersebut sebagian merupakan tindakan untuk menunjukkan bahwa Washington masih melakukan sesuatu agar tidak terpaksa kembali menuju peningkatan eskalasi militer.

Jika pandangan ini benar, maka “perang ekonomi” Trump harus dilihat bukan sebagai sebuah inisiatif strategis, melainkan sebagai upaya untuk mengelola sebuah kebuntuan; kebuntuan di mana AS tidak dapat dengan mudah mencapai tujuan-tujuan militernya dan pada saat yang sama tidak ingin mengakui kekalahan atau keterbatasannya.

Dalam kondisi seperti ini, tekanan ekonomi tampak sebagai instrumen yang lebih murah dibandingkan perang langsung. Namun instrumen ini juga tidak tanpa biaya.

Jack Reed, senator Demokrat AS, memperingatkan bahwa Iran memiliki pengaruh dalam bidang energi dunia dan tidak akan tinggal diam menghadapi tekanan berat. Menurutnya, peningkatan tekanan terhadap Teheran dapat menimbulkan reaksi di kawasan.

Hal ini mengungkap salah satu kontradiksi utama kebijakan Trump. Washington berupaya meningkatkan biaya tekanan terhadap Iran, tetapi Iran juga dapat mengalihkan sebagian biaya tersebut kepada AS, sekutunya, dan pasar global. Dengan demikian, tekanan ekonomi tidak selalu merupakan jalan satu arah.

Ancaman terhadap China

Salah satu masalah terpenting dalam kebijakan baru Trump adalah persoalan penerapannya secara nyata di tingkat internasional. Washington telah mengancam bahwa negara-negara dan lembaga-lembaga yang membantu Iran dalam bidang keuangan, minyak, dan perdagangan akan dikenai sanksi. Namun penerapan kebijakan seperti ini hanya mungkin dilakukan jika AS dapat memaksa mitra ekonomi utama Iran untuk ikut serta.

Arnold Bernard, analis Prancis, dalam hal ini menyatakan keraguan mengenai kemungkinan penerapan nyata sanksi terhadap China. Ia mengingatkan bahwa AS sebelumnya juga telah berupaya menargetkan beberapa kilang minyak China yang membeli minyak Iran, tetapi reaksi Beijing dan potensi biaya dari pemberian sanksi terhadap lembaga-lembaga keuangan besar China membuat penerapan serius kebijakan tersebut menjadi sulit.

Masalah ini memiliki arti penting. Menjatuhkan sanksi terhadap Iran adalah satu hal, sedangkan berusaha memaksakan sanksi tersebut kepada China adalah hal yang sama sekali berbeda. Jika Washington, untuk menjalankan kebijakan barunya, terpaksa menargetkan bank-bank dan lembaga-lembaga keuangan besar China, maka persoalannya tidak lagi sekadar “menekan Iran”; melainkan dapat berubah menjadi krisis ekonomi dan keuangan antara dua kekuatan besar dunia.

Oleh karena itu, klaim mengenai “operasi ekonomi paling keras” baru akan berhadapan dengan kenyataan ketika AS hendak mewujudkan ancaman-ancamannya.

Ancaman Kosong atau Awal Krisis Baru?

Mantan duta besar AS untuk wilayah pendudukan juga menggambarkan ancaman Trump terutama sebagai “gertakan dan kosong”, serta mengatakan bahwa tidak banyak instrumen yang tersedia untuk tindakan semacam itu yang penggunaannya tidak mengharuskan AS menanggung tindakan pembalasan.

Ia pada saat yang sama menegaskan bahwa bahkan jika ancaman Washington serius, Iran siap menanggung biaya dan tekanan serta memiliki instrumen yang dapat digunakannya untuk membebankan biaya kepada AS, para mitranya, dan perekonomian global. Pernyataan ini menyoroti sebuah kenyataan penting: tekanan terhadap Iran tidak terjadi dalam ruang hampa. Iran bukan sekadar sebuah ekonomi yang berada di bawah sanksi; Iran adalah negara dengan posisi penting dalam energi, geografi strategis, dan jaringan hubungan regional. Semakin besar tekanan AS, semakin besar pula kemungkinan terjadinya reaksi timbal balik, dan persoalan inilah yang dapat meningkatkan biaya kebijakan Trump.

Jaringan CNN juga dalam analisisnya mengenai strategi baru Trump menekankan bahwa keberhasilan perang ekonomi terhadap Iran membutuhkan tekanan terus-menerus selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun serta kerja sama China, Eropa, dan negara-negara kawasan. Poin inilah yang mungkin menjadi perbedaan paling penting antara janji-janji awal Trump dan kondisi saat ini.

Perang yang seharusnya berlangsung cepat menjadi berkepanjangan. Tekanan militer yang seharusnya memaksa Iran menyerah menemui jalan buntu. Dan kini kebijakan yang seharusnya menggantikan perang justru membutuhkan proses melelahkan yang berlangsung selama beberapa tahun. Kesenjangan antara janji dan kenyataan inilah yang menjadi titik kelemahan utama kebijakan Trump terhadap Iran.

Pada awal perang, Washington berbicara mengenai perubahan cepat dalam perimbangan; namun hari ini, untuk mencapai tujuan ekonominya, Washington berbicara tentang tekanan berkelanjutan selama berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun ke depan. Perubahan retorika ini dengan sendirinya menunjukkan sejauh mana perhitungan awal AS mengenai kemampuan dan kemauan Iran berbeda dari kenyataan.

Pengakuan atas Kekalahan?

Pada akhirnya, kebijakan ekonomi baru Trump tidak dapat dianalisis secara terpisah dari hasil perang militer. Jika AS berhasil mencapai tujuan-tujuan militernya, pada dasarnya tidak ada kebutuhan untuk mengumumkan sebuah “operasi ekonomi” yang luas dan baru. Kembalinya sanksi yang lebih keras dalam kondisi saat ini menunjukkan bahwa instrumen militer tidak mampu menghasilkan hasil politik yang diharapkan Washington.

Tentu saja, sanksi dapat menimbulkan biaya bagi Iran dan memberikan tekanan lebih besar terhadap perekonomian serta pasar energi. Namun membebankan biaya ekonomi dan mencapai kemenangan politik adalah dua konsep yang berbeda.

Trump kini sedang menguji sebuah versi yang sebelum dirinya juga telah digunakan oleh berbagai pemerintahan AS terhadap Iran. Sanksi luas, tekanan maksimum, ancaman sekunder, dan upaya memutus hubungan Iran dengan perekonomian global, semuanya telah berulang kali dialami.

Oleh karena itu, persoalan utamanya bukanlah apakah AS dapat menciptakan tekanan yang lebih besar; kemungkinan besar bisa. Persoalannya adalah apakah tekanan yang lebih besar tersebut dapat mencapai tujuan yang sama yang tidak dapat dicapai oleh tekanan militer? Tampaknya, setelah enam bulan, Washington bukan kembali dengan strategi baru, melainkan dengan versi yang lebih keras dari kebijakan lama yang sama; sebuah kebijakan yang telah diuji selama beberapa dekade tetapi tidak berhasil memaksa Iran menyerah.

Dalam pengertian ini, “perang ekonomi” Trump lebih daripada sekadar tanda kekuatan baru AS, dapat menjadi tanda menyempitnya pilihan-pilihan AS dalam menghadapi Iran; pengulangan tekanan yang seharusnya membuat Teheran menyerah, tetapi kini setelah mengalami kegagalan di medan militer, kembali menjadi instrumen utama Washington. (*)

Sumber: Mehr News

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA