BERITAALTERNATIF.COM – Selama bertahun-tahun, isu nuklir Iran kerap dikaitkan dengan satu kekhawatiran: kemungkinan Iran mengembangkan senjata nuklir. Namun Imam Khamenei menempatkan persoalan tersebut dalam kerangka yang berbeda.
Menurut beliau, penolakan Iran terhadap senjata pemusnah massal bukanlah strategi yang lahir karena tekanan negara lain, melainkan bagian dari keyakinan agama.
“Senjata nuklir digunakan untuk pembunuhan massal,” tegas Imam Khamenei.
Karena itu, menurut beliau, Iran tidak menginginkannya. Alasannya bukan karena takut kepada Amerika Serikat atau kekuatan lainnya, tetapi karena pembunuhan massal bertentangan dengan prinsip Islam.
Pernyataan tersebut penting karena memindahkan perdebatan dari sekadar persoalan teknologi menuju persoalan etika. Pertanyaannya bukan hanya apakah suatu negara mampu membuat senjata tertentu, melainkan apakah kemampuan tersebut sejalan dengan prinsip moral yang diyakininya.
Imam Khamenei menyatakan bahwa Islam menolak pembunuhan massal, apa pun bentuk senjatanya. Senjata nuklir hanyalah salah satu bentuk. Senjata kimia dan berbagai sarana penghancuran massal lainnya juga berada dalam persoalan yang sama.
Untuk menjelaskan prinsip tersebut, beliau merujuk pada tradisi peperangan pada masa Nabi Muhammad Saw, Imam Ali, dan generasi awal Islam. Bahkan dalam konteks perang, terdapat penekanan agar masyarakat umum tidak menjadi sasaran penghancuran. Beliau memberikan contoh larangan menutup akses air bagi masyarakat.
Jika dalam peperangan pada masa itu terdapat perhatian terhadap akses masyarakat terhadap air, maka prinsip tersebut menunjukkan adanya batas moral dalam menghadapi musuh. Perang, dalam kerangka tersebut, tidak berarti segala bentuk tindakan menjadi sah.
Bagi Imam Khamenei, prinsip itu tetap relevan ketika teknologi peperangan berkembang jauh lebih dahsyat. Perubahan teknologi tidak otomatis mengubah prinsip moral. Jika sebuah senjata dirancang untuk menghasilkan pembunuhan massal terhadap manusia dalam skala besar, maka persoalannya bukan sekadar apakah senjata tersebut canggih, melainkan apakah penggunaannya dapat dibenarkan.
Karena itu, beliau menegaskan bahwa keputusan Iran untuk tidak mengejar senjata nuklir tidak bergantung pada tekanan internasional.
Bahkan Imam Khamenei menyampaikan argumen yang lebih jauh. Jika Iran memang ingin membuat senjata nuklir, menurut beliau, tekanan negara-negara lain tidak akan menjadi faktor penentu. Beliau mengaitkannya dengan perkembangan teknologi nuklir Iran yang tetap berlangsung meskipun menghadapi berbagai tekanan.
Dengan demikian, Imam Khamenei ingin menegaskan bahwa batas yang ditetapkan Iran bukanlah batas kemampuan teknologi, melainkan batas prinsip.
Perbedaan ini penting. Sebuah negara bisa saja memiliki kemampuan teknis untuk melakukan sesuatu, tetapi memilih tidak melakukannya karena pertimbangan moral. Dalam pandangan Imam Khamenei, kemampuan dan kehendak adalah dua hal yang berbeda. Di sinilah agama ditempatkan sebagai dasar dalam menentukan arah perkembangan teknologi.
Teknologi pada dasarnya bersifat netral dalam arti dapat digunakan untuk berbagai tujuan. Energi nuklir dapat digunakan untuk kebutuhan damai, sementara pengetahuan nuklir juga dapat diarahkan kepada persenjataan. Yang menjadi persoalan kemudian adalah tujuan dan pilihan manusia yang menguasainya.
Imam Khamenei ingin menunjukkan bahwa sikap Iran terhadap senjata nuklir harus dipahami dari kerangka tersebut. Penolakan terhadap senjata pemusnah massal bukanlah konsesi kepada kekuatan asing, melainkan konsekuensi dari keyakinan bahwa pembunuhan massal bertentangan dengan Islam.
Dalam konteks dunia yang memiliki persenjataan dengan daya hancur luar biasa, prinsip tersebut menghadirkan pertanyaan yang lebih luas: apakah kemajuan teknologi selalu harus diikuti dengan kemampuan menghancurkan manusia dalam skala yang lebih besar?
Bagi Imam Khamenei, jawabannya jelas. Kemajuan ilmu pengetahuan tidak harus berujung pada pengembangan alat pembunuhan massal.
Ilmu pengetahuan dapat diarahkan untuk kehidupan, kesehatan, energi, industri, dan kesejahteraan manusia. Karena itu, perjuangan untuk mengembangkan teknologi nuklir tidak dengan sendirinya berarti perjuangan untuk memiliki senjata nuklir.
Justru di situlah Imam Khamenei membedakan antara kemajuan nuklir untuk kepentingan damai dan senjata nuklir sebagai instrumen pembunuhan massal.
Dalam pandangan beliau, yang pertama merupakan hak dan kebutuhan sebuah bangsa, sementara yang kedua bertentangan dengan prinsip yang diyakininya. (*)
Sumber: Khamenei.id











