Tokoh

Syafii Maarif, Tokoh Muhammadiyah yang Gigih Membela Pancasila

BERITAALTERNATIF.COM – Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Buya Syafii Maarif dikabarkan meninggal dunia pada Jumat (27/5/2022) pukul 10.15 WIB di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping Yogyakarta. Kepergian ulama besar yang bersahaja tersebut membawa duka mendalam bagi bangsa Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengenang almarhum Buya Syafii sebagai pribadi yang telah mempengaruhinya dalam pemikiran keislaman.

Sebelumnya, almarhum merupakan pemikir “Islam garis keras” yang lantang mendorong agar Indonesia menjadi negara Islam. Pemikiran tersebut muncul sebelum Buya Syafii mempelajari berbagai literatur tentang Islam.

“Begitu beliau pulang dari Amerika, pikirannya itu berubah total. Dia mengatakan, ‘Islam mengajarkan toleransi; Islam mengajarkan keterbukaan; Islam mengajarkan kosmopolitalisme atau kekeluargaan umat manusia sehingga kita harus terbuka terhadap perbedaan dan toleran,” jelas Mahfud sebagaimana dikutip beritaalternatif.com dari kanal YouTube Kompas TV pada Jumat siang.

Mahfud mengungkapkan, Buya Syafii berpendapat bahwa Pancasila merupakan dasar negara yang paling tepat dan ideal bagi Indonesia.

“Dulunya saya juga berpikiran, umat Islam di Indonesia ini mayoritas, kenapa Islam tidak menjadi dasar negara dan menentukan jalannya negara?” katanya.

Perubahan pemikiran tersebut tak hanya dialami oleh Buya Syafii, tetapi juga pernah dialami mantan Presiden RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Begitu juga tokoh Reformasi, Amien Rais. Ia pun tokoh yang kemudian menjadi pemikir yang berpandangan terbuka dalam pandangan keislaman, sehingga menerima Pancasila sebagai dasar negara.

“Negara ini kosmopolit sehingga kita harus hidup sederajat,” jelasnya.

Mahfud pernah menjadi asisten pengajar Buya Syafii yang mengajar mata pelajaran Pancasila di UIN Jakarta selama beberapa tahun.

Keduanya juga pernah berkhidmat di Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Hingga akhir hayatnya, almarhum pun menghabiskan waktunya untuk berjuang melalui lembaga negara tersebut.

“Beliau juga berjuang di tengah-tengah masyarakat, terutama membangun pencerahan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara kita,” urainya.

Kata dia, Buya Syafii kerap berbicara tentang Pancasila secara berapi-api sebagai ideologi Indonesia, tanpa bermaksud menghilangkan peran umat Islam dalam berbagai bidang.

Menurut Buya Syafii, dalam bernegara, umat Islam tidak harus menjadikan negara yang mereka huni sebagai negara Islam. Namun, yang terpenting adalah negara tersebut dapat menjamin penerapan sejumlah hal penting yang berkaitan dengan nilai-nilai keislaman.

Di antara nilai-nilai tersebut adalah negara menjamin kebebasan beragama bagi setiap warga negara, menjaga jiwa manusia, menjaga harta, hak atas akal, dan menjaga keturunan agar bersih sehingga nasab setiap orang bisa terjaga dengan jelas.

“Kalau itu sudah ada di negara, negara itu tidak perlu menjadi negara Islam. Itu semua sudah ada di dalam Pancasila. Itu menurut Buya Syafii,” terangnya.

Karena itu, Buya Syafii kerap mengusung toleransi dan agama yang berlandaskan pada kemanusiaan. Hal inilah yang kerap didiskusikan dan dipelajari oleh Mahfud dari Buya Syafii saat bersama-sama di Yogyakarta dan Jakarta.

Selain itu, Buya Syafii kerap menjadi tokoh yang terdepan dalam membela orang-orang yang disingkirkan dari kekuasaan karena teguh memerangi korupsi di Indonesia.

Kemudian, almarhum pun dikenal sebagai pribadi yang “keras” dalam mengkritik ketidakmampuan aparat hukum dalam menjerat para koruptor di Tanah Air.

Buya Syafii kerap menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara yang hebat karena telah memiliki Pancasila. Namun, ia juga acap mengkritik pemerintah karena belum mampu menciptakan keadilan sosial.

“Kita itu belum bisa menciptakan keadilan sosial, sehingga Indonesia tidak kunjung beras karena kita belum bisa menerjemahkan itu. Itu kata Buya Syafii. Itu yang saya kenang dari beliau,” pungkasnya. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top