Tokoh

Kukar Kreatif dan GLK, Pertalian Gerakan Membangun Masyarakat Kelas Menengah

BERITAALTERNATIF.COM – Tak banyak tokoh publik yang dapat menjelaskan secara luas serta menerjemahkannya dalam gerakan yang padu antara industri kreatif, budaya, dan literasi.

Barangkali Erwan Riyadi merupakan salah satu tokoh literasi di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Provinsi Kalimantan Timur, yang menyatukan bagian-bagian tersebut dalam bentuk gerakan yang padu, solid, serta berkelanjutan antara Kukar Kreatif dan Gerakan Literasi Kutai (GLK).

Kukar Kreatif dan GLK adalah dua “anak kandung” yang dilahirkannya dalam bentuk komunitas, kemudian secara perlahan menjadi salah satu gerakan sosial yang kian masif di Kukar.

Artikel ini merupakan kelanjutan dari laporan sebelumnya yang berjudul Spirit Membangun Literasi, Transformasi GLK dari Komunitas ke Yayasan, yang merupakan hasil wawancara mendalam tim beritaalternatif.com dengan Erwan pada Senin (30/5/2022) malam di Sekretariat GLK yang berlokasi di Jalan Kartini, Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong.

Apakah ada hubungan antara Kukar Kreatif dan GLK?

Pembentukan Kukar Kreatif itu sesuatu yang enggak aku rencanakan sebelumnya. Kalau niat awalnya kan hanya ingin berbuat sesuatu untuk daerah ini. Apa pun bentuknya.

Kukar Kreatif itu kan muncul karena kan waktu itu aku sedang tugas di Dinas Pariwisata. Aku juga kan tahu tentang sejarahnya, peluangnya, dan segala macam tentang industri kreatif. Jadi, kalau itu yang kemudian aku keluarkan, karena memang keadaannya kayak gitu.

Seiring sejalan, budaya juga kan demikian. Budaya itu kan bukan hal yang lama aku menggelutinya. Secara resminya ya mulai tahun 2015 itu. Jadi, aku harus lebih mendalami tentang budaya. Banyak baca, diskusi, dan seterusnya.

Sampai kemudian lahirlah gerakan tentang kebudayaan. Kalau sebelumnya Jejak Budaya hanya sebatas pariwisata, itu kan lebih ringan. Masuk ke fasenya Rumah Budaya Kutai (RBK) itu sebenarnya lebih berat.

Masuk ke literasi pun demikian historisnya. Tidak disengaja jauh-jauh hari. Enggak. Literasi itu kan secara umum memang bersinggungan dengan budaya. Dan saat itu kan karena aku ada di Disdikbud. Sedikit banyak memang ada korelasinya dengan itu.

Nah, apakah ada pertautan? Jelas ada. Kalau pertautan secara langsung, ya mungkin tidak. Itu kan sebenarnya wilayah yang berbeda. Dalam perjalanan berikutnya, aku membangun pertautan antara ekonomi kreatif dengan budaya dan literasi. Ternyata ada pertautannya. Dan itu muncul belakangan. Aku bangun sendiri.

Mungkin bagi kalangan kebanyakan ini kan enggak sampai di situ juga mikirnya. Ternyata, aku merasa, “Oh iya ini pertalian yang kuat di situ”.

Sampai kemudian aku mengatakan begini, tentang fase-fase, yang ini memang sudah ada di aku sejak awal. Enggak tahu kebetulan atau enggak. Tahun 2011 itu, ketika aku bikin Kukar Kreatif, sebetulnya aku sudah bikin fasenya. Fase awalnya sosial dulu. Kita bergerak dengan dasar dan spirit sosial. Berbuat sesuatu buat kepentingan di luar kepentingan kita pribadi.

Yang kedua, dengan ekonomi. Masuklah industri kreatif. Di fase berikutnya, aku sudah bayangkan bahwa pada saatnya nanti aku bersinggungan dengan budaya. Dan pada saatnya juga nanti aku akan bersentuhan dengan pendidikan. Tapi enggak kebayang jadi apa nantinya. Belum. Cuma bagian dari visi besar saja. Dan ternyata, perjalanannya menunjukkan demikian. Maka terbentuklah Jejak Budaya tahun 2015, RBK tahun 2017, sampai GLK juga 2017.

Dari mana Anda mendapatkan gagasan tentang pertalian antara industri kreatif, budaya, dan literasi?

Belakangan ini justru aku merasa, “Oh iya ya, cocok juga aku masuk di pendidikan”. Literasi kan erat kaitannya dengan pendidikan. Bahkan aku pernah bikin cerita tentang hubungan antara literasi, budaya, dan pendidikan. Ternyata ada hubungan yang sangat erat. Dan aku mendapatkan itu kan belakangan. Bukan di awal.

Jadi, perjalanan itu ternyata membawa banyak pelajaran juga di aku. Itulah kenapa kubilang ada banyak hal-hal baru yang muncul. Dan cenderungnya akan bertambah terus. Dimungkinkan nanti ada hal baru yang enggak dilihat orang bahwa ada pertalian pada semua ini. Aku merasa ada pertalian dari semua ini. Semua ada pertautannya.

Aku merasa sekarang apa yang menggeliat di sini, mulai dari industri kreatif, budaya, sosial, literasi, dan edukasi, ini ternyata membawa sinergitas baru tentang perubahan.

Nah, penjelasan lebih detail tentang semua itu makin banyak. Jadi, pemikiranku nanti munculnya dari situ. Bagaimana menautkan kepentingan urusan literasi dengan ekonomi. Nanti kita mau bikin apa untuk menautkannya. Ternyata bisa. Menautkan antara budaya dengan pendidikan misalnya, ternyata bisa. Jadi, kalau melihat ruang lingkupnya, makin meluas. Ekonomi luas. Budaya lebih luas lagi. Nah, literasi itu juga sangat luas.

Aku merasa exciting gitu. Ketika ini berproses, aku menemukan banyak hal-hal baru, terutama yang berkaitan dengan pertautan tadi. Yang sebelumnya secara spesifik aku enggak dapatkan. Tapi, ketika ini berproses, kemudian aku mendapatkan hal baru itu. Dan semuanya itu dari fondasi pergerakan.

Nanti akan sampai pada isu tentang civil society, khususnya kelas menengah, yang di Eropa dan Amerika, ini kan yang menjadi pencetus kemajuan di samping negara.

Sebetulnya, apa yang digeliatkan ini secara khusus ataupun tidak, arahnya kan membangun masyarakat menengah (middle society). Itu kan harus ada literasinya. Harus ada budayanya. Harus ada ekonominya di situ.

Ini mungkin yang tidak didapatkan dari gerakan lain yang mengambil segmen-segmen tertentu. Oh bisnis saja begitu. Oh nangani ini aja. Pada akhirnya kita cenderung lebih holistik. Tapi saling tertaut satu sama lain. Jadi, makin lama akan makin membesar. Ruang lingkupnya membesar. Challenge­-nya pun makin membesar. Dan itu yang bikin makin menarik.

Apa kesimpulannya?

Kesimpulannya, kalau hubungan secara langsung antara Kukar Kreatif dan GLK memang tidak ada. Karena tidak direncanakan sejak awal. Gerakan ini bukan sepenuhnya alami juga. Tapi memang aku mengandalkan alam, yang aku enggak bisa jelaskan kepastiannya. Jadi, aku bilang, okelah aku mengalir, tapi enggak mengalir sepenuhnya. Dalam beberapa hal aku mesti intervensi, kreasi, dan segala macam.

Jadi, ada upaya aku menyelaraskan antara keinginanku, energiku, dengan keinginan alam. Sekalian energi alam juga. Kan kalau mau lihat sumber daya, enggak ada sumber daya yang aku punya. Aku enggak ada pegang uang khusus untuk ini.

Sampai hari ini pun kalau untuk Kukar Kreatif enggak ada kasnya. Nah, GLK sekarang punya kas setelah versi yayasan. Berarti target tercapai. Sebelum dia menjadi yayasan, enggak ada kas sama sekali. Tapi, hebatnya bisa bikin beberapa kegiatan yang orang lihat dan nilai itu bakal berkata, “Oh itu mahal, Pak. Kok bisa?”

Kalau industri kreatif, itu kan jelas. Dia ekonomi. Nah, kalau literasi itu kan lebih ditekankan pada sosial: pemberdayaan dan edukasi. Apakah secara khusus akan tersambung dengan industri kreatif? Iya. Dan sekarang sudah mulai.

Nanti ada beberapa rencana kegiatan kita. Kita mau bikin sesuatu. Basic-nya itu sebenarnya gerakan literasi. Tapi kemudian di dalamnya ada industri kreatif. Kan sudah jalan. Aku beberapa kali bikin event talk show di Sekretariat GLK. Ada baca puisi. Ada bedah buku. Itu jadi event. Sebenarnya itu kan industri kreatif. Sebetulnya itu secara praktis sudah tertaut antara industri kreatif dan literasi. Tapi belum dalam bentuk yang masif. Tapi, dari sisi itu saja sudah bisa dibaca bahwa memang ada pertautan di sana.

Cuman, secara khusus kan pengembangan ekonomi kreatif punya visi sendiri. Literasi nanti punya visi sendiri. Kalau ini dipertautan, bisa jadi visi besar kabupaten. Sosial, ekonomi, budaya, dan edukasi. Apa lagi yang diperlukan? Mayoritas pembangunan itu kan ke situ arahnya. Kecuali fisik. Yang enggak kita urus kan cuman itu. Yang sifatnya pembinaan, pengembangan, dan sejenis relatif sudah kita sentuh dengan skala yang kita mampu. Nanti kita akan bicara lebih jauh tentang topik ini. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top