Search

Tinjauan atas Pidato Terbaru Ayatollah Khamenei

Dalam pidato terbarunya, Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Sayyid Ali Khamenei menyatakan bahwa Perang 12 Hari merupakan kekalahan yang nyata bagi Amerika Serikat dan Israel, serta menepis klaim bahwa Iran pernah mengirim pesan kepada Washington. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF – Ayatollah Khamenei, sebagai Pemimpin Revolusi Islam, menyampaikan sejumlah poin penting dalam pidato televisinya tadi malam. Dalam hal ini, ada beberapa hal utama dari pidato tersebut yang patut dicermati.

  1. Tentang Perang 12 Hari dengan Israel dan Amerika Serikat, beliau mengatakan: “Dalam Perang 12 Hari itu, bangsa Iran tanpa ragu telah mengalahkan Amerika dan rezim Zionis. Mereka datang dan melakukan kejahatan, tetapi mereka dipukul mundur dan kembali dengan tangan kosong serta tidak mencapai satu pun tujuan mereka.”

Tujuan terpenting rezim Zionis dan Amerika Serikat dalam menyerang Iran adalah menghancurkan fasilitas nuklir. Penekanan Pemimpin Revolusi bahwa mereka tidak mencapai tujuannya membuktikan kegagalan Amerika Serikat dan Israel dalam mewujudkan target tersebut. Dalam pidatonya bulan lalu, sebagai tanggapan atas pernyataan tidak masuk akal Trump di parlemen rezim Zionis tentang penghancuran kekuatan nuklir Iran, sang Pemimpin mengatakan dalam satu kalimat singkat namun bermakna: “Teruslah bermimpi.” Dua sikap terbaru Pemimpin Revolusi Islam ini menunjukkan dengan jelas kegagalan musuh dalam menghancurkan kemampuan nuklir Iran.

  1. Dalam pidato ini, Pemimpin Revolusi Islam juga menyinggung besarnya kerugian yang dialami Amerika Serikat dalam Perang 12 Hari. Beliau menambahkan: “Amerika mengalami kerugian besar dalam perang ini karena meskipun mereka menggunakan senjata ofensif dan defensif tercanggih, mereka tidak mampu mencapai tujuan mereka untuk menipu bangsa Iran dan menyeret mereka mengikuti agenda mereka. Justru sebaliknya, persatuan bangsa semakin menguat.”

Kenyataan di lapangan juga menunjukkan bahwa di sektor militer, setelah Iran menyerang Pangkalan Udara Al Udeid, Amerika Serikat bukan saja tidak membalas serangan Iran, tetapi justru segera meminta gencatan senjata. Setelah itu, di kalangan elite militer Amerika juga muncul wacana bahwa pangkalan-pangkalan militer AS seharusnya dipindahkan dari Teluk Persia ke lokasi yang lebih jauh seperti Pulau Diego Garcia demi menjamin keamanan pangkalan-pangkalan tersebut. Pada titik inilah, wibawa Amerika dan pangkalan-pangkalan militernya runtuh, dan pukulan yang tidak dapat diperbaiki kembali menghantam reputasi Trump.

Selain itu, serangan-serangan rudal dahsyat Iran, terutama sejak hari ketujuh, benar-benar membuat rezim Israel ketakutan dan memaksa mereka meminta perlindungan kepada Amerika Serikat. Rezim ini juga mengalami kerugian antara 20 hingga 21 miliar dolar dalam Perang 12 Hari melawan Iran.

  1. Pada bagian lain dari pidato tersebut, Ayatollah Khamenei, dengan merujuk pada perang Ukraina yang hingga kini tak kunjung selesai sebagai contoh campur tangan Amerika Serikat, mengatakan: “Presiden Amerika saat ini, yang pernah mengklaim bahwa ia akan menyelesaikan perang ini dalam tiga hari, kini setelah sekitar satu tahun berlalu, justru memaksakan rencana 28 poin kepada sebuah negara yang telah mereka seret ke dalam perang.”

Kenyataannya, Amerika Serikat sebagai aktor utama yang mendorong Zelensky untuk melanjutkan perang melawan Rusia, bukan saja gagal mendukung Ukraina secara nyata, tetapi dengan memaksakan rencana 28 poin kepada negara tersebut, justru menunjukkan bahwa Washington berupaya mengamankan pandangan Rusia ketimbang mendukung kebijakan NATO dan negara-negara Eropa. Bahkan, Trump terlebih dahulu masuk ke dalam perundingan dengan Moskow dan setelah mendapatkan pandangan dari pihak Rusia, barulah ia mempresentasikan rencananya. Berdasarkan rencana ini, wilayah penting Donbass dan Semenanjung Krimea akan sepenuhnya dianeksasi ke dalam wilayah Rusia, dan jika NATO menerima rencana tersebut, maka hal itu akan menandai kekalahan besar kedua bagi Pakta Pertahanan Atlantik Utara setelah pendudukan Afghanistan.

  1. Rujukan Pemimpin Revolusi Islam terhadap upaya Amerika Serikat untuk “mengobarkan perang di dunia demi minyak dan sumber daya bawah tanah, yang kini telah menjangkau Amerika Latin”, juga menimbulkan keraguan serius terhadap klaim Amerika bahwa mereka berada di sekitar Venezuela untuk memerangi narkoba. Sebab, tekanan pemerintahan Trump terhadap Venezuela pada dasarnya bertujuan untuk mendapatkan akses terhadap cadangan minyak terbesar di dunia.

Laporan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Badan Pemberantasan Narkoba Amerika Serikat (DEA) juga menegaskan bahwa Venezuela sama sekali bukan produsen kokain. Berdasarkan laporan tahunan Kantor PBB untuk Urusan Narkoba dan Kejahatan (UNODC), dari sekitar 3.700 ton kokain yang diproduksi di dunia, lebih dari 2.500 ton di antaranya diproduksi di Kolombia, dan nama Venezuela bahkan tidak tercantum dalam peta produsen kokain. Laporan DEA pada bulan Maret juga menunjukkan bahwa 84 persen kokain yang disita di Amerika Serikat secara langsung berasal dari Kolombia.

  1. Ayatollah Khamenei, sambil membantah rumor bahwa pemerintah Iran telah mengirim pesan kepada Amerika Serikat melalui negara ketiga, menyebut kabar tersebut sebagai kebohongan total dan mengatakan: “Pemerintah seperti itu (Amerika) sama sekali bukan pemerintah yang ingin diajak bekerja sama dan menjalin hubungan oleh Republik Islam.”

Pernyataan Pemimpin tersebut bisa menjadi sebuah babak penting bagi mereka yang melalui tulisan dan ucapannya terus mengajak para pejabat Iran untuk berunding secara langsung dengan Amerika Serikat. Pengalaman berulang kali bernegosiasi dengan Amerika menunjukkan bahwa negara ini, baik di era pemerintahan Partai Republik maupun Demokrat, selalu membawa pendekatan hegemonik dalam perundingan dan, karena bersandar pada kekuatan militer, ekonomi, dan keamanan, hanya memikirkan kepentingannya sendiri.

Sangat jelas bahwa dalam menjalankan arahan Pemimpin Revolusi Islam, membangun dan menjaga kesepahaman di seluruh elemen bangsa dan di berbagai pandangan politik untuk tidak bekerja sama dengan Amerika Serikat, dapat memperkuat kelanjutan persatuan nasional dan meningkatkan rasa percaya diri untuk berdiri teguh menghadapi musuh. (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf

 

 

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA