Search

Sayyid Ali Khamenei: Pria yang Menolak Tunduk pada Keangkuhan Global

Pemimpin Revolusi Islam, Syahid Imam Ali Khamenei. (Al Mayadeen)

BERITAALTERNATIF.COM – Al Mayadeen English mengenang kehidupan Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam dan Republik Islam Iran, dengan mengulas masa kecilnya, perjuangan revolusioner, masa kepresidenan, serta 36 tahun kepemimpinannya.

Dengan duka yang mendalam dan penuh penghormatan, Al Mayadeen English menyajikan biografi singkat Pemimpin Revolusi Islam dan Republik Islam Iran, Sayyid Ali Khamenei, untuk mengenang kesyahidannya pada 28 Februari 2026.

Pada tahun 1939, di sebuah rumah sederhana di Mashhad—kota suci di timur laut Iran yang dibangun di sekitar makam Imam Ridha—lahirlah seorang anak dari keluarga ulama yang hidup dalam keterbatasan. Ayahnya, Javad Khamenei, adalah seorang ulama terpandang namun hidup sederhana secara finansial. Kondisi keluarga yang serba terbatas membekas kuat pada diri Ali muda, yang kelak sering ia sebut dalam kehidupan politiknya sebagai bukti satu hal penting: kehidupan yang benar-benar bermakna berakar pada keyakinan dan perjuangan menegakkan keadilan serta kebenaran, bukan pada kenyamanan dunia yang fana.

Sejak kecil, Sayyid Ali menunjukkan minat intelektual yang melampaui batas-batas madrasah. Ia mencintai sastra, puisi, dan musik klasik—minat yang ia pelihara hingga usia lanjut. Tulisan-tulisannya di kemudian hari menunjukkan bahwa ia memandang kebudayaan sebagai medium utama bagi sebuah peradaban untuk mengekspresikan jiwanya. Pendidikan awalnya berlangsung di Mashhad sebelum ia dikirim untuk memperdalam fikih Islam di kota suci Najaf, Irak, dan kemudian di Qom, pusat intelektual keilmuan Syiah di Iran.

Di Qom, ia bertemu dengan tokoh yang akan menentukan masa depannya dan masa depan Iran: Ruhollah Khomeini. Imam Khomeini saat itu mengajarkan tafsir pemerintahan Islam yang sarat muatan politik, yang berargumen bahwa ulama bukan sekadar membimbing umat, tetapi juga wajib memimpin pemerintahan Islam. Bagi Sayyid Ali muda, ini adalah pencerahan. Ia menyerap teori Wilayat al-Faqih (Kepemimpinan Ulama) dan menjadi salah satu murid paling setianya—sebuah hubungan guru dan murid yang kelak mengubah peta Asia Barat.

Pemikiran intelektualnya tidak terbatas pada teologi klasik. Ia mempelajari karya Sayyid Qutb, yang menyerukan Islam yang aktif dan terlibat secara politik, dan bahkan menerjemahkan dua karyanya ke dalam bahasa Persia. Ia juga terpengaruh oleh filsuf Pakistan-India Muhammad Iqbal, yang menyerukan kebangkitan Islam. Dari pengaruh-pengaruh ini lahirlah sosok yang memandang iman dan politik sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Penjara, Revolusi, dan Upaya Pembunuhan

Sebelum memegang kekuasaan, Sayyid Khamenei telah mengalami penindasan karena keyakinannya. Pada 1960–1970-an, ketika Shah Mohammad Reza Pahlavi memperketat kekuasaan dengan bantuan polisi rahasia SAVAK, ia berulang kali ditangkap dan dipenjara. Total enam kali ia ditahan, diinterogasi, disiksa, dan diasingkan di dalam negeri. Masa-masa ini menjadi inti biografinya—ia memandang penderitaan sebagai persiapan moral untuk memimpin.

Ketika Revolusi Islam 1979 menggulingkan Shah, ia termasuk dalam lingkaran inti ulama dan aktivis yang membayar harga tertinggi demi perubahan tersebut. Ia kemudian terpilih menjadi anggota parlemen pertama Republik Islam, menjadi imam salat Jumat Teheran, dan salah satu pendiri Partai Republik Islam.

Pada Juni 1981, sebuah bom yang disembunyikan dalam tape recorder meledak saat konferensi pers di Teheran. Ia selamat, tetapi kehilangan fungsi lengan kanannya dan mengalami kerusakan pita suara, yang membuat suaranya menjadi pelan dan sedikit berat—ciri khas yang dikenal selama puluhan tahun pidato televisinya.

Masa kepresidenannya (1981–1989) berlangsung di tengah Perang Iran-Irak yang menghancurkan—delapan tahun konflik brutal yang menewaskan sekitar setengah juta warga Iran. Perang tersebut dipimpin oleh Saddam Hussein dan didukung Amerika Serikat serta Barat untuk menghentikan ekspansi Revolusi Islam. Sebagai presiden, Khamenei mengelola tuntutan politik perang dan memperdalam pemahamannya tentang kekuasaan sebagai sesuatu yang membutuhkan kendali institusional, bukan sekadar kejelasan ideologis.

Suksesi yang Tak Terduga

Ketika Ruhollah Khomeini wafat pada Juni 1989, Republik Islam menghadapi ujian berat: transisi dari pendiri karismatik ke penerus tanpa memecah sistem. Pilihan yang diharapkan, Ayatullah Montazeri, telah disisihkan. Dalam krisis itu, Majelis Ahli mengangkat Sayyid Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi—keputusan yang mengejutkan banyak pihak, termasuk dirinya sendiri.

Meski awalnya tidak memiliki peringkat ulama tertinggi secara formal, ia secara bertahap membangun otoritas institusional yang kokoh selama 36 tahun kepemimpinannya.

Kepemimpinan 36 Tahun dan Poros Perlawanan

Sebagai Pemimpin Revolusi dan Republik, ia menjadi panglima tertinggi angkatan bersenjata, memiliki kewenangan atas lembaga peradilan, penyiaran negara, Dewan Garda, serta komandan tertinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Ia jarang tampil di luar negeri, tidak pernah memberikan wawancara kepada jurnalis asing, dan mempertahankan jarak simbolik dari kompromi politik sehari-hari.

Kebijakan luar negerinya berlandaskan prinsip “tidak ke Timur dan tidak ke Barat”, yang dalam praktiknya berarti penolakan terhadap dominasi Amerika Serikat dan penentangan keras terhadap Israel. Di bawah kepemimpinannya, Iran mempererat hubungan dengan Suriah, mendukung Hizbullah di Lebanon, Hamas dan Jihad Islam Palestina, serta Ansarullah di Yaman. Jaringan ini dikenal sebagai Poros Perlawanan.

Palestina sebagai Kewajiban Suci

Dari seluruh isu yang ia dukung, Palestina menempati posisi sentral. Ia memandang pembebasan Palestina sebagai kewajiban religius seluruh dunia Islam. Dalam bukunya yang berjudul Palestine dan Palestinian Referendum, ia mengusulkan referendum nasional yang melibatkan Muslim, Kristen, dan Yahudi asli Palestina.

Ia menolak normalisasi hubungan dengan Israel dan rutin bertemu dengan pemimpin Hamas seperti Ismail Haniyeh serta tokoh Jihad Islam Palestina untuk koordinasi dukungan politik dan material. Di bawah otoritasnya, Pasukan Quds IRGC memberikan pelatihan dan dukungan kepada kelompok perlawanan Palestina.

Hari Quds Internasional—yang didirikan oleh Imam Khomeini—terus dipertahankan dan diperluas selama kepemimpinannya.

Ideologi Perlawanan dan Karbala

Untuk memahami pemikiran Khamenei, penting memahami peristiwa Karbala (680 M), ketika Imam Husain menolak berbaiat kepada Yazid dan gugur sebagai syahid. Khamenei menjadikan Karbala sebagai kerangka moral negara Iran modern. Ia sering mengutip pernyataan Imam Husain: “Orang sepertiku tidak akan pernah berbaiat kepada orang seperti Yazid,” sebagai prinsip dasar sikap Republik Islam terhadap Amerika Serikat.

Dalam kerangka ini, perlawanan menjadi kewajiban suci, dan ketundukan menjadi terlarang secara teologis. Model ini ia terapkan dalam menghadapi perang, sanksi, pembunuhan ilmuwan, dan konfrontasi dengan Washington selama beberapa dekade.

Sayyid Ali Khamenei memimpin Iran selama 36 tahun—lebih lama dari Shah yang ia bantu tumbangkan, dan lebih lama dari pemimpin negara mana pun di Asia Barat modern. Iran yang ia tinggalkan adalah Iran yang berupaya menuju kemandirian, berpegang pada “model Asyura”, dan menolak tunduk pada tekanan kekuatan global. (*)

Sumber: Al Mayadeen

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA