BERITAALTERNATIF.COM – Pengamat politik dari Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta), Martain, menilai terpilihnya Wakil Bupati Kukar Rendi Solihin sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Kukar merupakan bagian dari dinamika politik yang wajar, namun sarat dengan agenda politik jangka panjang menuju kontestasi Pilkada 2030.
Menurutnya, pergantian kepengurusan di tubuh DPC PDI Perjuangan Kukar bukanlah hal yang mengejutkan, melainkan bagian dari strategi partai dan tokoh-tokoh politik dalam mempersiapkan langkah berikutnya.
“Pada prinsipnya itu biasa saja. Ini dinamika di dalam politik yang menjadi menarik karena berkaitan dengan posisi wakil dan agenda-agenda besar yang mungkin akan beliau lakukan ke depan,” ujarnya kepada awak media Berita Alternatif pada Selasa (9/12/2025).
Dia menyebut, jabatan baru Rendi sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Kukar memiliki keterkaitan erat dengan peluangnya untuk masuk dalam kontestasi politik pada tahun 2030.
Mengingat Rendi sudah menjabat sebagai Wakil Bupati selama dua periode, maka langkah politik selanjutnya adalah maju sebagai calon bupati ataupun mencoba kesempatan di tingkat provinsi.
“Beliau tidak mungkin lagi jadi wakil bupati karena sudah dua kali menjabat. Maka target yang paling mungkin adalah mencalonkan diri sebagai bupati. Kalau tidak ke provinsi, ya itu yang paling utama,” katanya.
Martain juga menyoroti isu terkini mengenai perpindahan politik Bupati Kukar Aulia Rahman Basri ke Partai Gerindra. Jika kedua tokoh ini—Rendi dan Aulia—sama-sama maju dalam Pilkada 2030, maka pertarungan politik dipastikan akan berlangsung sangat menarik.
“Pasti mereka akan saling berlawanan jika maju bersama di Pilkada 2030. Ini akan menjadi kontestasi yang kuat karena keduanya punya basis dan pengaruh masing-masing,” jelasnya.
Dia menjelaskan bahwa Rendi memiliki keunggulan dalam hal kekuatan finansial dan dukungan politik, terutama di wilayah pesisir. Beberapa survei juga menunjukkan tingkat elektabilitasnya cukup baik di kawasan tersebut.
Namun, ia juga mengungkapkan bahwa Rendi masih memiliki kelemahan di wilayah hulu dan tengah Kukar, yang selama ini menjadi basis politik tokoh-tokoh besar seperti mantan Bupati Kukar Rita Widyasari, Edi Damansyah, dan Aulia. “Ini menjadi tantangan bagi Rendi,” ungkapnya.
Dengan posisinya sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Kukar, Martain menilai bahwa Rendi kini memiliki peluang besar untuk memaksimalkan mesin partai dalam memperluas pengaruh politiknya.
Jabatan tersebut dinilai dapat menjadi modal penting dalam sosialisasi dan penguatan basis dukungan di seluruh kecamatan.
“Bukan tidak mungkin beliau akan menggerakkan seluruh kekuatan dan mesin partai untuk memperluas dukungan. Kalau beliau punya keinginan kuat maju Pilkada 2030, posisi ini adalah modal besar,” tegasnya.
Dia menutup penjelasannya bahwa pergerakan politik Rendi di PDI Perjuangan merupakan bagian dari strategi terukur yang diarahkan untuk mempersiapkan dirinya secara matang menghadapi kontestasi politik 2030.
“Ini adalah langkah strategis yang punya tujuan. Semua dinamika yang terjadi hari ini adalah bagian dari persiapan menuju agenda besar di tahun 2030,” pungkas Martain. (*)
Penulis: Ulwan Murtadha
Editor: Ufqil Mubin











