BERITAALTERNATIF.COM – Presiden Mahasiswa Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) Muhammad Ibnu Ridho menyampaikan kekecewaannya atas keputusan Pemerintah Daerah Kukar yang memangkas nominal Beasiswa Kukar Idaman.
Bantuan yang sebelumnya diberikan sebesar Rp 5 juta per penerima, kini hanya tersisa Rp 1,6 juta setelah adanya penyesuaian jumlah penerima. Kebijakan ini disinyalir berawal dari overkapasitas penerima.
Menurutnya, penambahan jumlah penerima yang tidak diimbangi dengan kesiapan anggaran membuat besaran beasiswa harus dikurangi secara signifikan. Akibatnya, dana yang diterima mahasiswa tidak lagi mampu menutupi biaya pokok pendidikan seperti SPP atau UKT setiap semester.
Ridho menilai pihak yang paling merasakan dampak kebijakan ini adalah mahasiswa dan orang tua mereka, terutama yang berasal dari keluarga kurang mampu.
Beasiswa Kukar Idaman, lanjut dia, seharusnya menjadi penopang utama bagi mereka untuk melanjutkan pendidikan, namun pemangkasan membuat beban biaya kembali harus ditanggung sendiri.
Ia melihat adanya kekeliruan dalam perencanaan anggaran atau manajemen penerimaan program beasiswa ini. “Itu tidak dibahas secara komprehensif,” ucapnya kepada awak media Berita Alternatif pada Rabu (13/9/2025).
Ridho juga memandang bahwa kebijakan ini mencerminkan kelemahan dalam perencanaan anggaran dan manajemen program.
Jumlah penerima, kata dia, seharusnya ditetapkan sejak awal sesuai dengan ketersediaan dana, sehingga tidak terjadi perubahan mendadak yang merugikan mahasiswa.
“Jika pemerintah ingin menambah jumlah penerima, anggarannya juga harus disiapkan sejak awal agar tidak mengorbankan nominal yang sudah menjadi hak penerima sebelumnya,” terangnya.
Ia menegaskan bahwa beasiswa adalah program fundamental untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Kukar.
Jika daerah mengalami defisit atau ingin melakukan efisiensi anggaran, Ridho menyarankan agar pemangkasan dilakukan pada program hiburan atau kegiatan yang sifatnya tidak mendesak, bukan pada program pendidikan yang strategis.
“Giliran program-program yang hiburan, itu tetap dilaksanakan. Giliran program-program fundamental itu habis dipangkas, terutama contohnya seperti beasiswa ini,” pungkasnya.
Sebagai tindak lanjut, Presiden Mahasiswa Unikarta berencana menggelar aksi bersama sejumlah organisasi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi mereka terhadap fenomena yang merugikan para pelajar dan mahasiswa tersebut.
Apabila pemerintah tetap tidak menanggapi tuntutan mereka, aksi dengan jumlah massa yang lebih besar akan kembali digelar.
Guna menyukseskan aksi tersebut, Ridho berencana mengajak berbagai aliansi mahasiswa, termasuk PMII, HMI, dan GMNI, untuk ikut membersamai aksi unjuk rasa dalam memperjuangkan hak mahasiswa selaku penerima beasiswa. (*)
Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin










