BERITAALTERNATIF.COM – Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta), M. Ibnu Ridho, menegaskan pemilihan rektor tahun ini adalah fase krusial untuk menentukan arah dan masa depan kampus.
Ridho menyebut momentum ini menjadi penentu apakah Unikarta mampu berkembang lebih baik atau kembali terhambat oleh berbagai persoalan yang selama ini belum terselesaikan.
“Ini momentum besar menentukan nasib Unikarta beberapa tahun ke depan. Dari proses pemilihan ini, kita bisa melihat seperti apa wajah Unikarta ke depan. Apakah bisa lebih baik dan berkembang, itu semua dimulai dari sini,” tegasnya kepada awak media Berita Alternatif pada Kamis (27/11/2025).
Menurut Ridho, mahasiswa menilai mekanisme pemilihan rektor sejauh ini berjalan cukup baik, mulai dari pelaporan hingga pencalonan.
Dua nama disebut meramaikan pemilihan tersebut: Rektor petahana Prof. Dr. Ince Raden dan dosen Fakultas Teknik Dr. Ansahar.
“Untuk sementara, prosesnya berjalan lancar. Tinggal bagaimana nanti kualitas dan integritas kandidat yang muncul,” ujarnya.
Dia membagi harapan mahasiswa kepada rektor baru dalam dua proyeksi utama: Pertama, jangka pendek: Reformasi sistem pembelajaran.
Ia menyebut sistem pembelajaran perlu lebih terbuka dan adaptif terhadap kurikulum terbaru; evaluasi terhadap standar daya saing mahasiswa harus dilakukan secara berkala; perlu adanya audit eksternal dan kerja sama dengan lembaga mitra.
“Misalnya Fakultas Hukum harus lebih banyak kerja sama dengan PN, Kejaksaan, atau Pengadilan Agama. Mahasiswa teknik juga harus bersentuhan langsung dengan dunia industri. Belajar tidak boleh hanya teori, harus tahu praktiknya,” katanya.
Kedua, jangka panjang: Penyelesaian infrastruktur dan fasilitas. Mahasiswa berharap rektor baru serius menyelesaikan berbagai pembangunan yang selama ini mangkrak.
Masalah yang disorot mahasiswa antara lain Sekretariat BEM sering kebanjiran, lantai jebol dan fasilitas buruk; auditorium kampus tak kunjung selesai, dinilai merugikan civitas akademika; lahan parkir sempit dan tidak tertata, membuat kemacetan setiap hari kuliah, serta kenaikan UKT hingga Rp 1 juta tanpa transparansi, hasil audit dianggap belum terbuka.
“Kami sudah berkali-kali aksi dan menyampaikan aspirasi, tapi seringnya hanya janji. Rektor baru harus bisa menuntaskan PR ini,” tegasnya.
Ridho menilai penguatan fakultas adalah kunci mencetak lulusan berdaya saing. Termasuk melalui kemitraan dengan institusi eksternal yang relevan tiap bidang.
Selain kemampuan akademik, pengembangan soft skill mahasiswa juga harus difasilitasi melalui kegiatan BEM, UKM, dan himpunan mahasiswa jurusan.
“Minat mahasiswa terhadap organisasi kemahasiswaan masih minim. Padahal itu penting untuk membangun karakter dan kemampuan non-teknis. Kampus harus hadir memfasilitasi,” tuturnya.
Dia berharap pemilihan rektor dilaksanakan secara fair, transparan, dan sesuai prosedur agar pemimpin yang lahir adalah sosok yang ideal.
“Pemimpin yang baik harus lahir dari tata cara pemilihan yang adil dan ideal,” ujarnya.
Ia meminta rektor mendatang menuntaskan pembangunan fisik dan fasilitas kampus, menata ulang sistem parkir, dan meningkatkan akses dan transparansi pengelolaan anggaran.
Kemudian, mengajak mahasiswa terlibat dalam penyusunan kebijakan, membuka kerja sama akademik dan non-akademik, serta mewujudkan kampus sebagai ruang pembelajaran dan penguatan karakter.
“Unikarta bukan hanya tanggung jawab rektor atau dosen, tapi juga mahasiswa. Kami ingin dilibatkan untuk bersama-sama membangun kampus ini,” pungkasnya. (*)
Penulis: Ulwan Murtadha
Editor: Ufqil Mubin












