BERITAALTERNATIF.COM – Alumni Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta), Marwan, menyampaikan pandangan kritis terkait arah pengembangan kampus ke depan.
Dia menilai, siapa pun rektor yang terpilih dari dua kandidat akademisi—Prof. Ince Raden atau Dr. Ansahar—memiliki potensi besar untuk membawa Unikarta ke arah yang lebih baik.
Namun, menurutnya, kunci utama kemajuan kampus bukan hanya bergantung pada pimpinan, melainkan juga pada keterbukaan dalam menerima masukan dari berbagai pihak.
“Insyaallah siapa pun yang terpilih dari dua kandidat ini akan bisa membawa Unikarta lebih baik. Tapi yang lebih penting, Unikarta jangan jalan di tempat. Kampus harus buka diri, mau menerima masukan dan saran,” tegas dia kepada awak media Berita Alternatif pada Kamis (20/11/2025).
Ia menjelaskan, pembangunan kampus tidak boleh hanya mengandalkan kalangan akademisi. Diperlukan dukungan dari pihak luar, termasuk peran aktif alumni dan pihak ketiga.
“Ayo kita alumni back to campus, jangan hanya teriak di luar. Kita bantu siapa pun rektor yang terpilih,” ujarnya.
Marwan menilai stagnasi prodi menjadi salah satu penyebab kurangnya minat calon mahasiswa.
“Kenapa Unikarta jalan di tempat? Dari dulu prodi itu-itu saja. Contohnya di Fisipol, masih Administrasi Negara sejak dulu. Ekonomi hanya Manajemen, Pertanian tetap Agronomi, FKIP masih Teknologi Pendidikan. Buatlah prodi sesuai kebutuhan zaman, supaya minat masyarakat meningkat,” jelasnya.
Dia juga menyoroti kondisi fasilitas kampus yang dinilai tidak mengalami peningkatan signifikan.
“Laboratoriumnya itu dasar sekali. Jangan-jangan mikroskop dari zaman saya kuliah sampai sekarang belum berganti. Bagaimana mau maju teknologinya?” kritiknya.
Marwan juga mempertanyakan mengapa gedung kampus di Jalur 2 Tenggarong Seberang yang dibangun pemerintah belum dimanfaatkan sampai hari ini.
“Pemerintah sudah membangun dan menyiapkan gedung itu. Kenapa tidak dimanfaatkan? Komunikasinya tidak nyambung antara rektorat dan yayasan. Ini tanda tanya besar bagi saya sebagai alumni,” ucapnya.
Ia bahkan menyebut gedung tersebut kini diberitakan menjadi tidak terawat dan dipakai untuk kegiatan tak layak.
“Ada alumni bilang gedung itu jadi sarang kobra, sarang hantu. Bahkan sekarang dipakai untuk bikin pakan ikan dari sisa bulu dan jerohan ayam. Baunya luar biasa. Ini harus jadi PR rektor baru,” ungkapnya.
Marwan menyayangkan kurangnya koordinasi antar-Ikatan Alumni (IKA).
Dia menilai selama ini setiap IKA fakultas berjalan sendiri-sendiri.
“Saya Ketua IKA MAP dan IKA Pertanian. Ketua IKA Universitas harusnya mengumpulkan semua IKA fakultas. Duduk satu meja cari solusi. Kalau jalan sendiri-sendiri itu ego sektoral. Turunkan ego! Unikarta harus maju,” tegasnya.
Dia menegaskan bahwa pemerintah telah banyak mendukung Unikarta, apalagi mengingat 75–80 persen pejabat Pemkab Kukar adalah alumni Unikarta. Namun, hubungan kampus dan pemerintah dinilai tidak optimal.
“Sayang sekali. Hampir 80 persen pejabat Kukar alumni Unikarta. Tapi kenapa kampus tidak maju-maju? Pemerintah sudah bangun fasilitas, tapi komunikasi tidak jalan. Kalau komunikasinya nyambung, pasti termanfaatkan dan bermanfaat,” pungkasnya.
Sebagai alumni dan mantan Ketua Komisi IV DPRD Kukar, dia menyatakan kesiapannya membantu jika diperlukan.
“Kalau butuh bantuan alumni, ayo kita ramai-ramai komunikasi ke pemerintah. Kalau perlu demo beasiswa atau demo soal fasilitas kampus, saya siap. Lebih baik kita ‘nabrak meja’ demi kemajuan kampus daripada diam,” ujarnya menutup. (*)
Penulis: Ulwan Murtadha
Editor: Ufqil Mubin












