Oleh: H. Dr. Prana Dwija Iswara*
Empat bulan lalu, Gubernur Jawa Barat yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM) mengusulkan pelarangan penggunaan gawai atau gadget di sekolah. Jejak digital pernyataannya dapat ditelusuri di internet, baik dalam bentuk video maupun ulasannya.
Apakah pelarangan ini juga dilatarbelakangi oleh disorientasi (penyimpangan) penggunaan gawai di sekolah? Misalnya, adakah siswa yang asyik bermain Mobile Legend (ML) atau mengirim pesan kepada pacar melalui perpesanan (WhatsApp) saat guru menjelaskan materi? Atau, ketika guru mengajukan pertanyaan, apakah siswa justru memanfaatkan akal imitasi (AI, artificial intelligence) atau Google untuk mencari jawaban? Dahulu, siswa harus membuka buku atau berdiskusi dengan teman untuk menjawab pertanyaan guru. Kini, mereka tinggal bertanya pada AI atau mesin pencari.
Di sisi lain, apakah guru juga masih bergantung pada satu buku teks, sementara sumber belajar elektronik—seperti video, teks, gambar, suara, atau animasi—berlimpah ruah? Sudahkah guru terdorong untuk menganalisis data besar (big data) di internet terkait materi ajar mereka? Atau, apakah siswa justru menghabiskan sebagian besar waktu di rumah untuk aktivitas tidak produktif seperti bermain gim (game) atau menonton konten hiburan di YouTube dan TikTok?
Tentu saja, tidak semua opini pejabat disetujui masyarakat. Wajar jika sebagian orang menolak kebijakan ini. Namun, hal ini justru membuka ruang diskusi bagi para pakar untuk menimbang manfaat dan mudarat gawai di sekolah. Penting untuk membahas bahaya gawai, seperti penipuan, judi daring (judol), pinjaman online (pinjol), pornografi, hoaks, dan lainnya. Pemahaman akan risiko gawai bahkan lebih krusial daripada manfaatnya, agar siswa dapat menghindari dampak negatifnya.
Jika siswa tidak belajar menggunakan gawai secara bertanggung jawab di sekolah, lalu di mana mereka akan mempelajarinya? Di jalanan? Lalu, untuk apa gawai digunakan di luar sekolah?
Cerita kasus anak perempuan sekolah dasar yang mendapatkan haid juga bisa menjadi contoh. Seorang anak perempuan yang mengalami haid pertama di usia sembilan tahun (sekitar kelas III SD) merasa bingung dan cemas karena tidak pernah mendapat arahan dari orang tuanya. Ia pun ragu untuk bertanya kepada mereka. Ke mana ia harus mencari informasi? Apakah ia bisa bertanya kepada orang asing di jalanan? Bukankah anak ini justru berisiko disesatkan atau bahkan dicelakai? Logika serupa berlaku untuk gawai: siswa tidak bisa belajar menggunakan gawai secara aman dan benar di jalanan. Mereka perlu pembelajaran sistematis melalui kurikulum dan bimbingan guru. Tanpa itu, mereka hanya akan meraba-raba dalam kegelapan, tersesat tanpa panduan.
Tokoh seperti Onno W. Purbo justru aktif menyosialisasikan penggunaan gawai secara positif, baik di dalam maupun luar kelas. Melalui saluran YouTube-nya, Onno mendorong siswa memanfaatkan AI untuk pemrograman, membuat buku cerita bergambar, atau bahkan menulis karya ilmiah—asalkan temuannya orisinal.
Kini, banyak guru di tingkat SD hingga perguruan tinggi yang memanfaatkan bahan ajar digital, termasuk video atau konten buatan AI, untuk meningkatkan produktivitas. Di era ini, hampir tidak ada orang yang masih menggunakan timba untuk mengambil air sumur ketika pompa jet sudah tersedia. Jika guru mendengar istilah seperti mager, bucin, baper, atau mantul, bukankah lebih efisien mencari tahu via Google atau AI daripada bertanya kepada orang lain?
Profesional di berbagai bidang pun kini memanfaatkan AI. Seorang youtuber bisa meminta AI membuat naskah videonya, seorang programmer menggunakan AI untuk menyusun kode dasar, dan seorang analis memanfaatkannya untuk mengolah data. Seorang musisi dapat meminta AI untuk menginspirasi lagunya. Seorang seniman gambar dapat meminta AI untuk menginspirasi karyanya. Seorang pekerja pun mengerjakan tugasnya di kantor dengan bantuan gawai dan aplikasinya. Intinya, gawai dan aplikasinya adalah alat bantu kerja yang tak terelakkan.
Pada akhirnya, guru adalah ujung tombak pembelajaran di kelas, bersama siswa dan kurikulum. Guru menentukan arah pendidikan. Kebijakan, pengetahuan, serta kecanggihan mereka dalam membimbing siswa sangatlah krusial. Gawai tidak bisa selamanya dipelajari secara otodidak di luar kelas. Siswa harus memahaminya di sekolah, dan guru pun harus didorong untuk menguasai penggunaan gawai secara positif serta memaksimalkan potensinya.#
*)Penulis adalah Dosen pada Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pendidikan Indonesia












